Denmark, Negara Paling Hijau di Dunia, Bagaimana dengan Indonesia?

Publish by -81 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Denmark, Negara Paling Hijau di Dunia, Bagaimana dengan Indonesia?
Ilustrasi Denmark - Foto/World is Ours

Klikhijau.com – Denmark terpilih sebagai Negara terhijau di dunia 2020. Waw! Hasil ini dikeluarkan Environmental Performance Index (EPI) 2020. Negara yang juga masuk kategori paling bahagia di dunia ini berhasil menyingkirkan Negara maju lainnya seperti Amerika Serikat dan 179 negara lainnya.

Bagaimana kriteria penentuan Negara paling hijau ini? Tim peneliti IPE melibatkan akademisi dari Yale University dan Columbia University. Mereka melakukan penilaian dua tahunan mengenai performa lingkungan di semua negara.

Mereka menganalisis berbagai isu keberlanjutan (sustainability issues) yang menjadi landasan kinerja dan pemeringkatan setiap negara.

Profesor Dan Esty dari Yale Center for Environmental Law & Policy, salah satu lembaga penyusun EPI menyatakan, negara dengan aksi dekarbonisasi dan kebijakan ramah lingkungan yang komprehensif menempati peringkat teratas dalam penilaian ini.

KLIK INI:  Kenali 8 Kriteria Perumahan Ramah Lingkungan

Terdapat 32 indikator kinerja penilaian untuk me-rangking 180 negara di dunia. Ada 11 kategori isu dipakai yang mencakup kesehatan lingkungan dan vitalitas ekosistem.

Denmark menempati posisi pertama di hampir semua indikator dan kategori dalam EPI. Posisi lima besar berturut-turut ditempati oleh Luxembourg (ke-2), Swiss (ke-3), Inggris (ke-4), dan Prancis (ke-5).

Data dan hasil analisis EPI diharapkan dapat membantu negara-negara dalam memperbaiki agenda kebijakan mereka, memfasilitasi komunikasi dengan para pemangku kepentingan utama, dan memaksimalkan pengembalian investasi lingkungan.

EPI menawarkan alat kebijakan yang kuat dalam mendukung upaya untuk memenuhi target tujuan Pembangunan Berkelanjutan (sustainable development) PBB dan untuk menggerakkan masyarakat menuju masa depan yang berkelanjutan.

KLIK INI:  Dampak Limbah Medis Terhadap Kesehatan yang Perlu Diketahui

Secara keseluruhan peringkat EPI menunjukkan negara mana yang paling baik mengatasi tantangan lingkungan yang dihadapi setiap negara.

Menurut Alex de Sherbinin dari Earth Institute, lembaga di bawah Columbia University, yang menjadi salah satu penyusun EPI, faktor tata kelola yang baik (good governance) menjadi pembeda antara negara-negara yang menempati posisi teratas dan terbawah dalam EPI.

“Negara-negara terbaik adalah negara yang memiliki komitmen jangka panjang dan kebijakan yang didesain secara hati-hati untuk melindungi kesehatan masyarakat, melestarikan sumber daya alam dan mengurangi emisi gas rumah kaca,” ujar Alex.

Bagaimana dengan Indonesia?

Menariknya, negara-negara yang menempati posisi terbawah adalah Negara yang memiliki tata kelola pemerintahan yang buruk seperti Liberia, Myanmar, dan Afghanistan.

Negara-negara ini dinilai perlu memperbaiki berbagai indikator lingkungan mereka termasuk mengurangi polusi udara dan air, melindungi keanekaragaman hayati dan melakukan transisi ke energi yang lebih bersih.

KLIK INI:  Inilah Manusia-Manusia Pemakan ‘Sampah’ dan Makanan Sisa

Denmark menjadi negara yang paling berkomitmen di hampir semua indikator kesehatan lingkungan. Denmark terus berupaya meningkatkan kualitas udara mereka, memiliki sistem sanitasi yang canggih dan air minum yang aman.

Laporan EPI juga mengungkap mandeknya upaya dunia mengatasi perubahan iklim. Emisi CO2 dari alih guna lahan dan emisi karbon hitam terus naik dalam sepuluh tahun terakhir. Hanya beberapa negara yang memiliki komitmen luar biasa dalam mengatasi krisis iklim.

Denmark dinilai berhasil mengontrol polusi CO2. Denmark memimpin dalam komitmen pemangkasan emisi GRK dengan target pengurangan 70% pada 2030. Menurut tim penilai, hal ini berbanding terbalik dengan kinerja Amerika Serikat yang menempati posisi ke-24 dalam EPI tahun ini.

Inggris dinilai berhasil mengatasi polusi metana sementara Norwegia dinilai sukses mengontrol polusi gas buatan manusia yang lain seperti HFC dan PFC. Negara lain, menurut tim penilai, perlu mengambil pembelajaran dari kesuksesan negara-negara ini.

KLIK INI:  Lebih Dekat dengan Greenland, Pulau Es yang Ingin Dibeli Donald Trump

Negara di peringkat teratas juga memiliki kinerja tata kelola sampah padat yang solid. Mereka mendaur ulang hampir semua sampah padat mereka, mengolahnya menjadi kompos atau menjadikannya bahan bakar energi.

Kinerja Amerika Serikat dalam melindungi sumber daya air dan mengelola sampah dinilai buruk. Rangking rata-rata Amerika Serikat menurut tim penilai hampir di posisi paling bawah jika dibanding negara-negara maju yang lain seperti Inggris (posisi ke-4), Prancis (ke-5), Jerman (ke-10), Jepang (ke-12), Kanada (ke-20) dan Italia (ke-2).

Indonesia sendiri menempati posisi ke-116 dunia. Posisi ini menempatkan Indonesia berada di posisi cukup di bawah dibandingkan Negara ASEAN lainnya. Seperti Filipina (posisi ke-111), Suriname (posisi ke-81), Thailand (posisi ke-78), Malaysia (posisi ke-68), Brunei Darussalam (posisi ke-46) dan Singapura (posisi ke-39).

Data ini menunjukkan bahwa Indonesia harus berbenah di banyak sektor antara lain tata kelola kebijakan, program mitigasi iklim, penegakan hukum, tata kelola sampah dan lainnya.

KLIK INI:  Viral, Foto Pembungkus Indomie Bertuliskan 55 Tahun Indonesia yang Mencemaskan Netizen
Catatan menarik

Melansir di laman https://epi.yale.edu, terdapat Sejumlah kesimpulan mengejutkan dari peringkat dan indikator EPI 2020.

Pertama, hasil kebijakan yang baik dikaitkan dengan kekayaan (PDB per kapita), yang berarti bahwa kemakmuran ekonomi memungkinkan negara berinvestasi dalam kebijakan dan program yang menghasilkan hasil yang diinginkan.

Tren ini terutama berlaku untuk kategori masalah di bawah payung kesehatan lingkungan, seperti membangun infrastruktur yang diperlukan untuk menyediakan air minum bersih dan sanitasi, mengurangi polusi udara sekitar, mengendalikan limbah berbahaya, dan menanggapi krisis kesehatan masyarakat.

Yang kedua, negara-negara yang mengejar kemakmuran ekonomi dalam bentuk industrialisasi dan urbanisasi, menunjukkan adanya peningkatan polusi dan tekanan lain pada ekosistem. Faktanya, negara tidak perlu mengorbankan keberlanjutan untuk keamanan ekonomi atau sebaliknya.

KLIK INI:  Mengintip Cara Australia Hemat Energi dan Terapkan Green Building

Dalam hal ini, indikator tata pemerintahan yang baik, supremasi hukum, pers yang hidup, dan penegakan peraturan yang adil – memiliki hubungan yang kuat dengan tinggi skor negara-negara di EPI.

Ketiga, negara-negara papan atas EPI menunjukkan betapa mereka memang serius dalam semua ua bidang keberlanjutan. Denmark, yang berada di peringkat # 1, memiliki hasil yang kuat di sebagian besar masalah dan dengan komitmen dan hasil terdepan berkaitan dengan mitigasi perubahan iklim.

Secara umum, pencetak skor tinggi menunjukkan kebijakan dan program jangka panjang untuk melindungi kesehatan masyarakat, melestarikan sumber daya alam, dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

Data  lainnya menunjukkan bahwa negara-negara yang melakukan upaya bersama untuk mendekarbonisasi sektor listrik, mereka telah membuat keuntungan terbesar dalam memerangi perubahan iklim, dengan manfaat terkait untuk ekosistem dan kesehatan manusia.

KLIK INI:  Mencemaskan, Skenario Kepunahan Manusia Sedang Berlangsung
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!