Dari ‘Sang Pemimpi’ Kita Tahu, Ujung Pertambangan adalah Sengsara

oleh -110 kali dilihat
Dari ‘Sang Pemimpi’ Kita Tahu, Ujung Pertambangan adalah Sengsara
Dari ‘Sang Pemimpi’ Kita Tahu, Ujung Pertambangan adalah Sengsara-foto/Ist
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com –  Sang Pemimpi, telah menjadi salah satu novel yang menggugah kesadaran kita. Termasuk dalam hal pendidikan dan kesadaran lingkungan.

Novel fenomana itu merupakan  novel yang ditulis oleh Andrea Hirata sebagai pelengkap dari tetralogi Laskar Pelangi.

Sang pemimpi membawa banyak hal yang tak akan usai dibincangkan. Kehadirannya  mampu mewarnai jagad sastra indonesia, bahkan dunia.

Novel itu mengambil setting di Belitong atau Belitung. Sebuah daerah yang dilimpahi kekayaan alam berupa timah. Di sana, di Belitong yang merupakan sebuah pulau yang berada di lepas pantai timur Sumatra, yang  diapit oleh Selat Karimata dan Gaspar merupakan surga bagi dunia  pertimahan.

KLIK INI:  7 Novel Indonesia yang Memakai Metafora Alam sebagai Judul

Bahkan Raffles pernah mengemukakan kepada Kepada Gubernur Jenderal Lord Minto [Penguasa Inggris di Asia] pada tahun 1812 bahwa potensi Pulau Bangka dan Belitong adalah tempat yang penuhi timah terkaya di dunia. Tidak ada yang menandinginya. Seluruh pulau akan jadi tambang timah yang besar.

Apa yang dikatakan Raffles memang terbukti.  Pulau Bangka dan Belitung menjadi kiblat pertambangan timah di Indonesia.

Telah ada sejak zaman Sriwijaya

Pemanfaatan timah di daerah tersebut, konon telah berangsung sangat lama, bahkan sejak  zaman Kerajaan Sriwijaya. Namun, pemanfaatannya tidak semassif saat masa  kolonial Inggris dan Belanda.

Karena pada masa kolonial eksplorasi tambang timah di Pulau Bangka dan Belitung mulai dilakukan besar-besaran hingga saat ini.

Pemanfaatan besar-besaran itu membawa ancaman kerusakan lingkungan. Dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan dunia pertambangan telah banyak berlalulintas dibahas media, bahkan film  dokumenter sexy killers (pertambangan batu bara) menampilkannya lebih vulgar

Bahkan bekas galian tambang pun telah banyak menelan korban jiwa. Polusi dan percemaran yang ditimbukan telah membuat banyak masyaratat terampas kesehatan dan mata pencahariannya.

Namun, meski begitu dampak ekonominya juga ada, semisal waktu Indonesia dilanda krisis moneter di tahun 1997-1998. Masyakarak Pulau Bangka dan Belitung menyandarkan asap dapurnya pada timah.

Dalam novel Sang Pemimpi, yang berlatar tahun 1990-an. Digambarkan jika kerusakan lingkungan yang telah ditimbulkan oleh salah satu perusahaan timah, yakni PN Timah telah sangat besar. Ini tergambar pada halaman 77-38

“Kami membahas kerusakan lingkungan karena ulah PN Timah dan jumlah ganti rugi yang akan kami tuntut karena tanah ulayat kamu rusak berantakan.

“Tiga miliar untuk air minum yang tercemar phyrite, empat miliar untuk risiko kontaminasi radio aktif, tujuh miliar konpensasi beban psikologis karena kesenjangan sosial, dan dua miliar untuk hancurnya pelanduk,” usul Arai berapi-api.

Pada kutipan itu, Andrea telah mengabarkan kepada pembacanya, kepada kita semua bahwa PN Timah dalam novel tersebut telah merampas “keindahan” lingkungan Belitong, membuat jurang pisah di antara masyarakat. Melahirkan ancaman kesehatan dan juga tambang menghancurkan habitat satwa, khususnya pelanduk.

KLIK INI:  Drainase Pertanian Berpotensi Jadi Penyebab Karhutla
Lahirkan kesenjangan sosial

Setiap perusahaan yang berdiri pada suatu daerah, kebanyakan melahirkan kesenjangan sosial antara penduduk asli daerah tersebut dan pendatang yang menjadi karyawan di perusahaan itu.

Penduduk setempat kerap hanya jadi penggembira, menjadi penonton pesta kemewahan para pendatang saja. Belum lagi, kemewahan dan keuntungan dari pertambangan, lebih banyak mengalir ke orang-orang kota yang memiliki modal dan para pejabat.

Kenyataan ini bisa ditemukan pada novel Sang Pemimpi yang terbit pertama kali tahun 2006 lalu. Dan saat ini telah diterjemahkan keberbagai bahasa. Coba tengok halaman  68

“Karena sesungguhnya setiap  butir pasir adalah milik ulayatnya, setiap tongkah kuarsa, topas, galena itu adalah harkat dirinya sebagai orang Melayu asli, tapi semuanya mereka muat sendiri ke  atas tongkang untuk menggendutkan perut ara cukong di Jakarta atau pejabat yang kongkalikong. Menjadi pendulang, nelayan bagan, dan kuli pasir, berarti mengucapkan selamat tinggal pada Tut Wuri Handayani.”

Membaca ini, rasanya memang miris. Sangat banyak kenyataan di dunia nyata kejadian serupa ini.  Orang –orang dari kalangan bawah, yang menjadi buruh dominan sulit memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena pendapatan mereka tak seberapa. Keuntungannya lebih banyak mengalir kepada pemilik modal dan pejabat yang kongkalikong

Lebih mirisnya lagi, banyak yang harus putus sekolah demi menyambung nyawanya dengan cara menjadi kuli pasir atau mendulang timah di pertambangan.

KLIK INI:  Cara Bijak Hidup Ramah Lingkungan
Reklamasi hanya janji

Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh PN Timah dalam novel ini, juga bisa dilihat dengan jelas dalam kutipan ini pada halaman 91 ini.

“Aku membayangkan beliau, yang akan pensiun bulan depan, bersepeda pelan-pelan melalui hamparan perdu apit-apit, kebun-kebun liar, dan jejeran pohon angsana reklamasi bumi belitong yang dihancurleburkan PN Timah. Lalu beliau istrhat di pinggir jalan.”

Reklamasi lingkungan setelah perusahaan tambang menghabiskan isinya, kadang hanya janji manis saja. Karena banyak yang dibiarkan terbengkala—menunggu korban jiwa.

Namun bukan hanya itu, karena timah adalah bahan baku yang tentu akan habis jika terus dikeruk. Maka perusahaan pada akhirnya akan lumpuh. Dan kelumpuhan suatu perusahaan, akan berdampak buruk pula kepada para karyawan dan keluarganya.  Lihatlah kutipan di halaman 245 ini!

“Tapi kesenangan ini pun tak berlangsung lama, sebab sejak tahun 1990-an PN Timah lumpuh. Aku prihatin melihat uang wesel mahasiswa yang berangsur turun tiap bulannya. Anak-anak cerdas itu megap-megap. Beberapa orang di antaranya malah tak lagi datang weselnya,”

Lalu pada halaman 247 Andrea Hirata menuturkan jika “PN Timah kolaps, puluhan ribu orang di PHK.”

Kolapsnya perusahaan digdaya itu membawa dampak besar berupa ribuan orang terancam menganggur karena kena pemutusan hubungan kerja atau PHK. Dan banyak pula anak dari karyawan yang dulunya bekerja di perusahaan tersebut terancam tidak bisa melanjutkan studinya. Bukankah itu suatu bencana?

Hal yang bisa dipelajari dari perusahaan tambang, termasuk timah adalah bahan bakunya yang akan habis. Jika habis tak ada solusi lain selain berhenti beroperasi. Itu berarti ujung dari dunia pertambangan adalah sengsara, baik dari segi kesehatan, beban hidup, dan terlebih kepada kerusakan lingkungan yang telah ditimbulkan

KLIK INI:  Tentang Jejak Hidup Sukses dari Filosofi Air Mengalir