Dari Mana ke Mana?

oleh -39 kali dilihat
Pada Lorong di Kotamu
Ilustrasi-foto/wallpaperbetter.com
Irhyl R Makkatutu

Dari Mana ke Mana?

 

dari mana sampah-sampah itu berasal?
pertanyaan konyol itu terusa saja terulang di kepala
mendobrak-dobrak

ke mana ia akan pergi?
pertanyaan pertama itu, di susul pertanyaan ke dua

aku mondar-mandir, naik turun tangga
memikirkan jawabannya
tapi, lari kosong

ketika kujawab, dari manusia
jawaban itu mencak-mencak
menendang kepalaku hingga pening

saat kujawab dari alam
jawaban itu salto-salto di kepalaku
membenturkannya ke tiang tengah rumah

namun, ketika kujawab dari kerakusan
jawaban itu menyanyikan lagu nina bobo
dengan musik dari degup jantungku

lalu ke mana ia pergi?
kujawab, ke laut
jawaban itu bergermuruh badai
merontah-rontah beringas

aku diam, berpikir keras jawabannya
lalu kutemukan, pergi ke sungai
ke alam, ke, ke ke…
jawaban itu berteriak-teriak
membuat kutu-kutu di kepalaku berlompatan
ke dalam mata

namun, ketika kujawab
ke dalam diri sendiri

kepalaku seperti baru keramas
lalu diolesi minyak kemiri
licin dan harum

Kindang, 25 Juni 2022

KLIK INI:  Kudengar Bisik Alam Memanggilmanggilku

Panen Lebih Awal

 

panen jagung lebih awal seminggu dari seharusnya, katamu
kenapa? tanyaku

karena hujan lupa meniriskan dirinya, jawabmu

tak ada lagi pertanyaan
aku menyeruput kopiku
kau memangkas batang jagung

aku tak ingin melihat hujan curah dari matamu yang khawatir
sungai depan rumahmu meluap
merampas jagung kuning
merampas pula pembeli kuotamu

panen kali ini kau siasati
tak mengikuti masa panen di masa lampau
hujan dan banjir tak bisa lagi dikira
bisa datang, bahkan saat kau asyik
menonton goyangan tiktok

pohon-pohon di hulu sepertinya telah tandas
berganti jagung
berganti cabai
dan pedisnya sampai ke halaman rumah
ke mata, lalu ke kuota

aku tak lagi bertanya
kenapa harus panen lebih awal

hujan tak pernah lagi berhenti meneror
membawa banjir
bisa datang merampas jagung
dan napas para petani
sewaktu-waktu

Kindang, 25 Juni 2022

KLIK INI:  Nyanyian Sunyi di Rumpun Bambu

Berumah di Mata

 

di kotamu yang riuh suara klakson
aku berjalan ke matamu
membangun rumah berarsitektur bugis di sana
rumah dari pohon yang di tanam leluhur di kebun
kebun yang kini berubah ladang jagung

ladang yang bisa diterobos sinar matahari
tanpa penghalang
ladang yang lupa cara menyimpan air ketika hujan

kau acap mengeluh tentang panas
saat hujan alpa bertandang
kau yang lihai berkesah tentang banjir
ketika hujan tak reda-reda

kau selalu merindu healing
menyentuh lumut menghijau
memunguti daun kering
menyimak cericit burung

kau terus saja menanam jagung, menabung demi berkunjung ke alam hijau
demi lupa di kotamu tak ada lagi pepohonan

dan aku tetap saja berumah di matamu
dengan kayu dari pohon yang kurampas dari kebun leluhur penuh kerakusan

Kindang, 24 Juni 2022

KLIK INI:  6 Puisi Presiden Malioboro “Umbu Landu Paranggi” yang Bernapas Alam