Dampak Perubahan Iklim, Warga di Madagaskar Alami Kelaparan Akut

oleh -53 kali dilihat
Dampak Perubahan Iklim, Warga di Madagaskar Alami Kelaparan Akut
Ilustrasi kekeringan - Foto/Pixabay

Klikhijau.com – Beberapa bulan terakhir sejumlah kejadian seperti bencana alam hingga bencana kemanusiaan, ditengarai jadi bukti nyata dari dampak perubahan iklim. Mulai dari banjir parah di China hingga bencana kelaparan di Madagaskar.

Terbaru dan menghebohkan, warga Madagaskar mengalami kelaparan akut. Warga di sana kehabisan makanan yang memaksa mereka memakan serangga seperti belalang dan daun kaktus.

Kabar buruk ini sangat mencemaskan sebab terjadi sebagai akibat buruk dari perubahan iklim.

Dilansir dari CNN Indonesia, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Urusan Pangan (WFP) menyebut bahwa ada sekira 30 ribu warga negara pulau itu terancam kehilangan akses pangan.

Daerah Selatan Madagaskar menjadi titik paling parah akibat kekeringan dalam empat dekade terakhir. Warga di sana terpaksa pergi meninggalkan rumah mereka demi mendapat sumber makanan.

KLIK INI:  Tahun-Tahun Mendatang, Miliaran Sampah Plastik akan Mengepung Bumi

Sebagian yang tinggal di rumah mencoba bertahan hidup dengan cara ekstrem di antara tanah-tanah tandus. Mereka makan sesuatu yang tak biasa yakni serangga hingga daun kaktus.

Tamiry misalnya, seorang warga di selatan Madagaskar yang hidup serumah dengan tiga anaknya di Fandiova, satu desa paling terdampak kekeringan hanya bisa bertahan hidup dengan belalang.

Keluarga Tamiry dan penduduk sekitar terpaksa konsumsi belalang dan daun kaktus untuk bisa hidup. Bahkan, mereka juga memakan tanaman yang dinamai ‘faux mimosa’ , sebuah tanaman yang biasanya dimakan hewan ternak.

“Di pagi hari, saya menyiapkan sepiring serangga. Saya membersihkannya sebaik mungkin karena hampir tidak ada air,” kata Tamiry seperti dikutip The Independent pada Rabu (25/8) sebagaimana dikutip CNN Indonesia.

Tamiry mengatakan betapa ia dan keluarganya telah delapan bulan memakan seranga dan tumbuhan aneh tersebut. Bisa dibayangkan bukan, betapa berat cara mereka mempertahankan hidupnya di tengah kekeringan akut.

“Karena tidak ada lagi yang bisa dimakan, tidak ada pula hujan yang turun agar kami bisa bercocok tanam,” kata Tamity menambahkan.

Tak jauh beda dengan Tamiry, Bole, seorang ibu dari tiga anak, mengaku tak tak memiliki sumber makanan lagi.

Ia pun harus menghadapi tragedi menyakitkan. Suaminya berpulang akibat kelaparan.

“Apa yang bisa saya katakan? Kehidupan kami hanya tentang mencari daun kaktus, lagi, dan lagi, untuk bertahan hidup,” ucap Bole.

PBB Mengungkap bahwa WFP saat ini tengah membutuhkan dana darurat sebesar US$78.6 juta. Dana ini akan disalurkn untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan bagi warga di selatan Madagaskar.

Dana sebesar itu dinilai cukup memasok bahan pangan warga di selatan Madagaskar setidaknya untuk enam bulan ke depan.

KLIK INI:  “Menuju COP26 di Glasgow”, Tagih Komitmen Negara Maju