Dampak Perubahan Iklim Berpotensi Memicu Terjadinya Iklim Kuno di Samudera Hindia

Publish by -42 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Dampak Perubahan Iklim Berpotensi Memicu Terjadinya Iklim Kuno di Samudera Hindia
Ilustrasi pemanasan global - Foto/Pixabay

Klikhijau.com – Dampak perubahan iklim diprediksi semakin buruk di abad ini dan berpotensi memicu kembali terjadinya pola iklim kuno yang menyerupai El Nino di Samudera Hindia.

Analisis ini didapat berdasarkan penelitian baru oleh para ilmuwan dari University of Texas di Austin yang telah dipublikasikan dalam jurnal Science Advances pada 6 Mei 2020.

Kejadian demikian akan memicu naiknya suhu permukaan Samudera Hindia yang akan menimbulkan kekacauan cuaca secara global seperti banjir maupun kekeringan panjang. Sektor pertanian akan menjadi kelompok paling rentan dari perubahan iklim paling ekstrim ini.

Temuan tersebut mengacu pada penelitian sebelumnya yang diterbitkan oleh beberapa penulis yang sama di tahun 2019. Dilansir dari Gizmodo, Sabtu 9 Mei 2020.

Pemanasan global yang semakin akut diperburuk oleh siklus aktivitas manusia di bumi. Bila tak bisa dihentikan, El Nino Samudra Hindia yang pernah terjadi pada 20.000 tahun lalu, diperkirakan muncul kembali di awal tahun 2050.

KLIK INI:  Nasabah Bank Sampah Menurun Drastis Selama Pandemi Covid-19
Dampak perubahan iklim

Seperti diketahui, Samudra Hindia mengalami sedikit perubahan iklim dari tahun ke tahun karena angin yang bertiup dari barat ke timur, menjaga kondisi laut tetap stabil. Jika perubahan suhu hanya berkisar antara satu hingga dua derajat mungkin tidak akan terlihat nampak.

Namun, jika pola iklim kuno El Nino muncul kembali, maka banjir, badai, dan kekeringan akan menjadi lebih buruk dan lebih sering, terutama di Afrika, Australia, Indonesia, dan India yang saat ini saja sudah sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim.

Naiknya suhu juga dapat memicu kekeringan di wilayah Afrika dan India bagian selatan. Sebaliknya akan menimbulkan peningkatan curah hujan di Indonesia dan Australia bagian utara.

Kejadian ini jelas akan berimbas pada sektor pertanian di Negara-negara berdampak tersebut.

Memang belum jelas apa ambang batas yang harus dilewati oleh pemanasan global untuk memicu terjadinya perubahan ini. Hal ini tentu sangat membingungkan dan sulit diprediksi.

KLIK INI:  Saatnya Agama Mengambil Peran Besar Mengendalikan Perubahan Iklim

Menurut pemimpin penulis Pedro DiNezio, yang merupakan ahli geofisika dari University of Texas “ukuran persis pemanasan global di mana dapat memicu terjadinya peristiwa El Nino (atau La Nina), sulit diketahui dengan tepat,” terangnya.

Menurutnya, para ilmuwan akan segera memulai penelitian. Hal ini untuk menentukan terjadi perubahan atau tidak jika melewati perubahan suhu 1,5 derajat celsius (2,7 derajat fahrenheit) dari pemanasan di atas tingkat pra-industri.

“Kami yakin bahwa risiko peristiwa ekstrem ini menjadi lebih besar. Karena kita menghasilkan lebih banyak CO2 ke atmosfer. Dan tentu saja akan memberikan dampak yang buruk pada negara-negara di daerah tropis,” pungkasnya.

Bisa jadi, lambat atau cepatnya dampak pemanasan global dan potensi kemunculan El Nino tergantung sikap dari manusia. Pilihannya cuma dua, melakukan aksi pencegahan melalui berbagai policy yang integratif secara global atau membiarkannya hingga kondisi alam makin parah.

Poinnya adalah, faktor utama pemicu munculnya El Nino kuni di Samudra Hindia semua tergantung pada tindakan manusia.

Ini berkaitan dengan apakah kita semua pro-aktif untuk membuat emisi Gas Rumah Kaca (GRK) semakin berkurang atau justru sebaliknya.

KLIK INI:  Musim Salju Tak Selamanya Indah, Ia Juga Menyimpan Kecemasan
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!