Cerita Pedagang Tanaman Hias di Makassar Berjualan Selama Pandemi

Publish by -345 kali dilihat
Penulis: Andi Ayatullah
Cerita Pedagang Tanaman Hias di Makassar Berjualan Selama Pandemi
Jalil (30), pedagang tanaman hias di Makassar - Foto/AYL

Klikhijau.com – Dunia usaha mengalami pelemahan selama pandemi, apakah juga berdampak pada penjualan tanaman hias?

Seperti diketahui, selera menanam sedang membaik selama pandemi. Saat lebih banyak di rumah, kebanyakan orang menghabiskan waktunya merapikan tanamannya, khususnya sayuran dan bunga-bunga.

Klik Hijau mencoba mendatangi sejumlah pedagang tanaman hias yang terletak di Jalan Panaikang. Lokasi ini sudah sangat familiar sebagai tempat koleksi beragam tanaman, terutama tanaman hias.

Kisah pertama dari seorang pedagang bernama Jalil (30). Menurut Jalil, di awal masa pandemi memang ada penurunan omset penjualan secara drastis.

KLIK INI:  El-Nino Moderate Menanti di Awal Januari-Februari, Ini Langkah Antisipasi KLHK

Ia mengaku di awal pandemi ekonomi memang melemah dan terasa sangat lambat. Pembeli yang datang berbelanja menurun. Kalau biasanya omset penjualan rata-rata Rp 1 Juta perhari, selama pandemi hanya di kisaran Rp 500 ribu perbulan.

“Banyak sekali suka duka selama pandemi susah diutarakan dengan kata-kata, berat. Tapi semenjak 2 bulan terakhir ini sudah mulai membaik dan normal kembali,” ujar pria yang telah belasan tahun mengelola usaha tanaman ini.

Jalil bercerita bagaimana dari kecintaanya dengan bunga dapat membantunya melewati masa-masa sulit. Walau sedang sulit, Jalil tetap optimis ke depannya.

“Saya tidak ingin ambil pusing, saya tetap berkreasi dengan tanaman. Perbanyak koleksi. Bagi saya, diantara semua pekerjaan yang saya lakoni, bisnis tanaman paling enak, tidak ada pusing, tidak ada stress,” terang Jalil.

KLIK INI:  Gakkum LHK Sulawesi Gelar Kesamaptaan untuk Tingkatkan Keterampilan dan Kapasitas Polhut

Jalil mengisahkan bagaimana seorang rekannya sesama pedagang ada yang seorang PNS yang berhenti berdinas dan menggeluti usaha tanaman. Hal itu, karena bisnis tanaman hias memang menyenangkan dan menjanjikan.

“Apalagi kalau kita sudah kuasai pasar, sudah sangat mudah untuk penjualan, perbanyak teman dan relasi saja,” tuturnya.

Jalil juga berbagi tips tentang pengelolaan bisnis tanaman. Ia mengatakan kesalahan orang dalam bisnis tanaman hias adalah manajemen keuangan. Banyak pedagang yang kadang terlena membelanjakan uangnya tidak tepat sasaran

“Bila menjual tanaman, jualannya tanaman saja jangan di campur karena kapan uang tanaman lari di pot akan sulit mengaturnya. Bisa menjual pot dan perlengkapan tanaman lainnya tapi harus dipisah. Jadi sistemnya tanaman ganti tanaman, pot ganti pot,”  jelasnya.

Tertarik memulai bisnis ini? Baca tips bisnis tanaman hias di SINI!

KLIK INI:  7 Tanaman yang Paling Sering Jadi Suvenir Pernikahan

Sementara itu tidak jauh dari lokasi jualan Jalil, KlikHijau juga berjumpa dengan seorang ibu bernama Nurul (43). Berbeda dengan Jalil, Nurul mengaku selama musim pandemi tidak begitu berpengaruh pada usahanya. Menurut Nurul, bisnis tanaman hias selama pandemi tetap saja lancar.

“Alhamdulillah tidak ada pengaruh. Biasa-biasa saja. Saya di sini sudah 7 tahun berjualan, semua baik,” ucap Nurul.

Setiap harinya, penjualan tanaman hias yang terletak di depan Taman Makan Pahlawan Kota Makassar ini memang ramai didatangi para pembeli.  Beragam jenis bunga-bunga ada di sana dengan harga bervariasi.

Musim bunga-bunga hingga ke desa

Bisnis tanaman hias di Marketplace dan social media memang cukup ramai selama pandemi. “Ini lagi musim bunga-bunga,” kata Wandi, seorang pegiat tanaman hias di Desa Salassae, Bulukumba.

Kata Wandi, dalam dua bulan terakhir, orang-orang keluar masuk di desanya berbelanja bunga. “Ini potensi bisnis yang menarik. Kebetulan selama pandemi warga di desa Salassae kompak menata tanaman hiasnya yang sebagian besarnya untuk dijual,” kata Wandi.

Wandi dan rekannya bahkan berencana membuat festival tanaman hias Agustus mendatang. Even ini dibuat sebagai cara merayakan dan memediasi antusias masyarakat yang sedang membaik selama pandemi.

“Kami akan buat festival bunga di bulan Agustus. Kami ingin menjadikan desa kami sebagai ikon tanaman hias di Bulukumba,” pungkasnya.

KLIK INI:  Gandeng Komunitas Lingkungan, BRC Bersihkan Pantai Losari dari Sampah Plastik

Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!