Cerita “Manusia Rantai” di Kota Tambang yang Menyimpan Penderitaan

oleh -236 kali dilihat
Cerita "Manusia Rantai" di Kota Tambang yang Menyimpan Penderitaan
Patung orang rantai terpasang di kompleks Museum Tambang Lobang Mbah Soero yang merupakan tambang pertama Belanda di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat/Foto-Kompas.com

Klikhijau.com – Sawahlunto, salah satu kota yang unik berpenduduk sekitar 53 ribu jiwa di Sumatra Barat. Nuansa masa lalu begitu terasa di kota ini. Sejumlah bangunan bergaya arsitektur Belanda.

Tapi, di sela keindahan kota Sawahlunto, ternyata tersimpan banyak lubang bekas tambang.

Lubang saero

Karena, kota ini didirikan sebagai kota tambang oleh pemerintah kolonial lantaran mengandung batubara dengan kualitas terbaik di dunia.

Salah satu lubang yang bisa dimasuki masyarakat atau wisatawan adalah Lubang Soero.

Lubang itu terletak di Jalan Muhammad Yazid, Sawahlunto. Jaraknya sekira 230 meter dari bangunan kantor PT Bukit Asam Ombilin di jantung Kota Sawahlunto.

Lubang Soero ini merupakan lubang bekas galian tambang batubara pada zaman pemerintahan Hindia Belanda pada 1898 silam yang kini dijadikan objek wisata Pemerintah Kota Sawahlunto.

Lubang tersebut dinamai Lubang Soero karena dulunya ada seorang pekerja tambang bernama Mbah Soero.

Dia salah satu pekerja yang disegani para pekerja lainnya. Meskipun demikian, Mbah Soero sosok yang rajin dan pekerja keras. Sehingga ia dijadikan panutan bagi pekerja lainnya.

KLIK INI:  Lebih Dekat dengan Hujan Es dan Daerah yang Pernah Dikunjungi di Indonesia
Manusia rantai

Dalam sejarahnya, para pekerja di sana disebut sebagai ‘manusia rantai.’ Manusia rantai dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial Belanda.

Manusia rantai dan para pekerja paksa di tambang tersebut tidak hanya pribumi dari Sumatra Barat, melainkan dari daerah lain seperti dari Pulau Jawa dan beberapa provinsi lainnya.

Para pekeja tersebut harus banting tulang siang hingga malam serta diberi makanan yang sangat tidak layak. Tak ada pilihan lain, mereka harus tetap bekerja karena itu satu-satunya alasan agar bisa bertahan hidup dan menghidupi keluarganya.

Tidak sedikit para pekerja tambang yang meninggal. Mayat mereka di kubur di dalam lubang dan juga disembunyikan di dinding-dinding lubang tambang.

Bagi Belanda, manusia rantai itu pembangkang yang mengancam. Namun bagi pribumi, mereka adalah pahlawan.

Apakah hari ini masih terdapat para pekerja dengan diberi upah yang sangat tidak layak?

Besar harapan kita agar tidak lagi menemui peristiwa eksploitasi para pekerja tambang seperti cerita Mbah Soero dan bala-balanya di Sawahlunto.

KLIK INI:  Hujan Es, Peristiwa yang Lazim di Musim Pancaroba?