Cerita Kembalinya 47 Ekor Kakak Tua Jambul Kuning ke Habitatnya di NTT

Publish by -258 kali dilihat
Penulis: Alifia Sulaiman
Cerita Kembalinya 47 Ekor Kakak Tua Jambul Kuning ke Habitatnya di NTT
Kakak tua jambul kuning - Foto/HoBinatang

Klikhijau.com – Kakak tua jambul kuning (Cacatua sulphurea parvula) adalah burung dengan ukuran kecil dengan panjang sekitar 35 cm dari marga Cacatua. Dari penampilannya, burung ini benar-benar indah karena di kepalanya terdapat jambul berwarna kuning dengan mata yang kebiruan serta kaki berwarna abu-abu.

Pada Kamis, 27 Agustus 2020, sebanyak 47 ekor satwa burung dilindungi jenis ini dikembalikan ke habitatnya di Nusa Tenggara Timur.

Burung-burung ini sebelumnya sejak April 2020 dirawat di kandang transit Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah di Semarang.

Pengembalian satwa kehabitatnya itu dilakukan setelah terpenuhinya prasyarat sertifikat kesehatan hewan dari Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang.

Pengembalian satwa dilindungi ke habitatnya tersebut diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi mereka untuk hidup bebas di alam dan dapat mengurangi laju kepunahan.

KLIK INI:  Cabai Jawa, Tanaman Obat Asli Indonesia yang Kaya Manfaat

“BKSDA Jawa Tengah berterima kasih dan memberikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat serta mendukung upaya penyelamatan dan pengawetan tumbuhan dan satwa liar untuk mendapatkan kembali kesejahteraannya,” ujar Darmanto Kepala Balai KSDA Jawa Tengah, 27 Agustus 2020.

Kakak tua jambul kuning di habitatnya

Proses penyelamatan satwa ini merupakan hasil koordinasi BKSDA Jawa Tengah dengan Balai Besar KSDA (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur dengan arahan Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Di NTT, burung-burung Kakatua Kecil Jambul Kuning tersebut direncanakan akan dilepas liarkan di Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Camplong, Kabupaten Kupang.

Pelepasliaran direncananya akan dilaksanakan setelah 2-3 hari pasca Burung Kakatua Kecil Jambul Kuning tiba di Kupang. Atau setelah menjalani tahap habituasi dan observasi kondisi satwa oleh tim medis BBKSDA NTT untuk memastikan satwa dalam kondisi sehat dan siap untuk dilepasliarkan.

KLIK INI:  Melalui Foto, Masyarakat Diharapkan Lebih Mencintai Satwa

“TWA Camplong merupakan salah satu habitat asli burung Kakatua Kecil Jambul Kuning yang ada di Provinsi NTT. Oleh sebab itu pelepasliaran ini kami harapkan dapat berjalan dengan baik dan burung Kakatua Kecil Jambul Kuning cepat beradaptasi dengan lingkungan habitatnya,” ujar Timbul Batubara, Kepala BBKSDA Nusa Tenggara Timur

Indra Exploitasia, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK mengapresiasi kerja keras semua pihak untuk melakukan upaya pengembalian satwa endemik ke habitatnya ini.

“Program pengembalian satwa endemik ke habitat penyebaran asalnya merupakan bagian dari program konservasi in-situ berupa peningkatan populasi satwa endemik Indonesia. Upaya pengembalian Kakatua Kecil Jambul Kuning yang wilayah penyebarannya terutama di NTT ini semoga dapat menjaga kelestarian mereka di habitat alamnya,” pungkas Indra.

Peringatan keras
KLIK INI:  Melati Air, Bunga yang Mekar di Pagi Hari dan Berguguran di Sore Hari

Untuk diketahui, baik burung Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) maupun Burung Kakatua Putih Besar Jambul Kuning (Cacatua galerita) termasuk satwa liar yang dilindungi undang-undang.

Hal ini tertuang dalam Lampiran PP No. 7 Tahun 1999, dan ada kententuan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 bahwa:

  • Barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (Pasal 21 ayat (2) huruf a), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
  • Barang Siapa Dengan Sengaja menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati (Pasal 21 ayat (2) huruf b), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
  • Dengan Sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; (Pasal 21 ayat (2) huruf d), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
KLIK INI:  Hijaunya Daun Pandan Wangi dan Ritus Ziarah Kubur Saat Lebaran
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!