Cerita dari India dan Kejutan di Pasar Rakyat yang Tanpa Kantong Plastik

Publish by -213 kali dilihat
Penulis: Anis Kurniawan
Ibu-Ibu rombongan PT MHA berbelanja di Lajpat Nagar Central Market, Delhi. Foto: Ist

Klikhijau.com – India memang negara dengan populasi terbesar nomor dua di dunia yakni lebih dari 1 Milyar. Dengan jumlah itu, Anda bisa membayangkan betapa ruwetnya permasalahan sampah di negeri itu. Belum lagi, hantaman badai kesenjangan sosial yang demikian akut.

Di ibukotanya, New Delhi, kehidupan warganya sangat padat. Anda akan menjumpai lalulintas yang bising dan kemacetan. Kondisinya mirip-mirip kota besar di Indonesia semisal Jakarta, tetapi di sana Anda akan terbiasa mendengar klakson kendaraan sebagai lagu kenangan. Pengendara yang ugal-ugalan seperti pembalap bernyawa seribu, juga orang-orang yang buang air sembarangan di pinggir jalan.

Pukul 22.30 saat kami tiba di Delhi (31 Januari 2020), bus mengantar kami ke penginapan tak jauh dari bandara. Dari atas bus saya mencermati penampakan di pinggir jalan raya. Hal pertama yang mengagetkan adalah sampah yang bergentayangan di sana-sini.

Lalu, kendaraan yang parkir sembarangan di tepi jalan. Mobil-mobil yang melintas nampak kotor berdebu, usang tak terawat. Suasana kotanya mewakili suatu kehidupan yang berat nan kompleks.

KLIK INI:  Ngeri, Pencemaran Plastik di Laut Ancam Oksigen yang Kita Hirup

Keesokan harinya saat kami berkunjung ke India Gate alias gerbang India, sebuah spot bersejarah. Gerbang terkenal dan bersejarah itu  dibangun untuk memperingati perang dunia I di New Delhi. Saya takjub dengan bangunan tua itu, tetapi cukup terganggu dengan keberadaan pengemis, penjual, tukang foto yang terus menggoda dan toiletnya yang nehi-nehi.

Guide kami, Nadiem sudah memperingatkan agar menghindari kontak dengan siapa pun juga yang menawarkan sesuatu. Pernyataan ini penting bagi kami yang pertama kali menginjak Delhi—walau di satu sisi juga mengherankan, sebab peringatan itu sama saja dengan meniadakan transaksi jasa dan jual beli antara turis dan warga lokal.

Yah, sudahlah, barangkali memang pesan ini jauh lebih baik, ketimbang insiden buruk yang mengancam dan berisiko bagi turis yang datang. Konon, para pedagang jalanan itu bisa saja menghipnotis, menipu, dan mencopet dompet. Seram!

Pejalan kaki dan sesuatu di pasar rakyat

Namun, di balik semua itu saya menjumpai fenomena menarik yang layak jadi perhatian. Pertama, pejalan kaki yang massif dan penuh semangat.

KLIK INI:  Sisi Lain, Covid-19 Mengajak Kita Lebih Mencintai Bumi

Di Delhi, setiap harinya kita akan menyaksikan pejalan kaki berpakaian rapi dengan langkah tegap bergegas. Walau trotoar di sana, tampaknya tidak sebaik di Jakarta, orang-orang menikmati jalan kaki yang bebas hambatan. Sebagian lagi dengan laju sepeda yang juga tak kalah ugalan-nya.

Saya lalu bergumam dalam hati, jangan-jangan kebiasaan jalan kaki orang India ini yang membebaskan mereka dari ancaman obesitas dan penyakit menahun. Tampaknya, fisik orang India memang lebih tangguh. Bila tak atletis dan berkumis-jenggot seram, setidaknya berbadan lentur dan gesit menari-nari.

Di balik situasi kotanya yang penat, bertumbuh manusia-manusia tangguh secara fisik. Tabah pula.

Saya membangun suatu asumsi sederhana demikian, betapa warga India adalah kumpulan orang-orang tabah yang pantang menyerah. Saya menjumpai itu pada para pengemis yang kekeh meminta uang buat makan. Mereka terus meminta tanpa lelah walau tak seorang pun merespon dan memberinya uang. Bus yang kami tumpangi berlalu, tetapi pengemis itu tetap saja merajut meminta.

KLIK INI:  Memeluk Pohon, Cara India Mencintai Bumi

Ketabahan yang sungguh, persis dalam kisah cinta di film-film India. Nah, ingat film India jadi terbayang pula saya soal polisi India. Sudah jadi rahasia umum, kalau polisi India adalah polisi yang paling menyebalkan di dunia.

Begitu di film-filmnya. Tetapi, suatu waktu di Delhi, bus yang kami tumpangi dihadang polisi India. Perdebatan sengit terjadi antara supir dan polisi sebelum akhirnya sang supir ditilang. Padahal, supir mengaku tak mempunyai pelanggaran berarti, surat-surat kendaraannya pun lengkap. Supir kena tilang dan kami pun harus menunggu cukup lama menyaksikan negosiasi tanpa ujung dengan polisi India. Ahhay, polisi India yang saya jumpa di film-film, rupanya tak jauh beda di dunia nyata di India.

Lupakan soal kerumitan kotanya dan cerita tentang polisi India, kami sedikit legah saat mampir belanja di suatu pasar rakyat di Delhi. Tepatnya di di Lajpat Nagar Central Market.

Di sana, kami tergiur pernak-pernik perhiasan khas India. Kalung, gelang, anting-anting, dan aksesoris perempuan. Sebagaimana perempuan India yang pandai menghias diri, di Lajpat lebih separuh barang jualan adalah untuk kaum hawa.

Menggembirakan bagi kawan-kawan kami yang perempuan, tidak terkecuali saya yang punya empat anak perempuan. Menariknya, walau kami membeli beberapa item, tak seorang pun pedagang yang membungkus barangnya dengan kantong plastik. Woww! Padahal ini sekelas pasar tradisional.

KLIK INI:  Lagi-Lagi, Gajah Mati Tertabrak Kereta di India

Di Lajpat Nagar rupanya sudah diberlakukan larangan penggunaan kantong plastik. Digantikan dengan tas kain atau kertas. Jadi, seluruh aktivitas jual beli di dalam pasar ini sudah tanpa plastik. Mengapa demikian? “Because plastic is not eco friendly”, kata Daniesh guide yang mendampingi kami.

Rupanya, kebijakan pemerintah India menerapkan pelarangan penggunaan plastik sekali pakai sudah berlangsung sejak tengah tahun 2018 lalu. Dilansir Trubus.id, pemerintah India bahkan pernah getol merasia pedagang yang melanggar aturan dan memberi sanksi denda sebesar  Rp 1 juta hingga Rp 5 juta kepada setiap pedagang nakal. Denda kurungan penjara bahkan bisa diberikan bagi pedagang yang berulang kali melakukan pelanggaran masih memakai plastik sekali pakai.

Kata Daniesh, kebijakan tanpa kantong plastik di pasar Lajpat sudah berjalan massif dalam enam bulan terakhir. Praktik cerdas ramah lingkungan ini tentu layak ditiru. Tetapi, apakah kebijakan ini sudah berhasil mengatasi kepungan sampah plastik di India? Ahhhay! Tidak juga rupanya.

Saya tetap saja menjumpai sampah plastik di sekitaran pasar, walau bukan lagi sampah kantong plastik. Belum lagi, masih ada beberapa pedagang kecil “nakal” di bagian luar pasar Lajpat yang masih memakai plastik sekali pakai.

Begitulah, fenomena plastik sekali pakai di dunia ini, keberadaanya selalu bergantung pada cara dan persepsi kita memperlakukannya. Seperti kata Saharuddin Ridwan (Ketua Umum Asobsi), yang masalah bukanlah plastiknya, tetapi kita yang memperlakukannya.

Plastik tiada dosa, ia dibutuhkan untuk melengkapi hidup kita. Sekali lagi, perilaku manusia yang membuat plastik sekali pakai jadi petaka bagi lingkungan dan kesehatan.

India jadi potret sederhana bagaimana negara ini berjuang melawan hegemoni plastik sekali pakai—tetapi minset warganya belumlah sepenuhnya membaik. Beruntung, saat bergerak menjauh dari Delhi ke Agra dalam perjalanan sekitar 5 jam, kami berjumpa Taj Mahal, sebuah bangunan menakjubkan yang bakal terkenang selamanya. Taj Mahal, sedikitnya mengobati kepenatan kami bertemu-tatap dengan Delhi yang sesak dengan sampah.

Acha….Acha….!

KLIK INI:  Penasaran Berwisata ke India? Ini 14 Tips Sederhana Saat Beribur di Sana
Editor: Anis Kurniawan
Sumber: Klikhijau.com

KLIK Pilihan!