Burung Julang Sulawesi, Si Petani Hutan Diambang Kepunahan

oleh -323 kali dilihat
Burung Julang Sulawesi, Si Petani Hutan Diambang Kepunahan
Burung Julang Sulawesi - Foto/twitter Rangkong Indonesia
Azwar Radhif

Klikhijau.com – Pulau Sulawesi merupakan salah satu pulau dengan jumlah hewan endemik yang cukup tinggi, tak terkecuali untuk spesies burung. Tanah Sulawesi menjadi rumah bagi 224 jenis burung, dimana 41 diantaranya merupakan burung endemik yang hanya dapat ditemukan di daratan Sulawesi.

Namun, dari banyaknya hewan endemik ini, burung jenis Ranggong nampaknya menjadi jenis yang cukup menarik perhatian pemerhati burung di Sulawesi.

Pasalnya, selain bentuknya yang unik nan menarik, burung Ranggong juga menjadi salah satu penghuni hutan yang berkontribusi langsung bagi tumbuhnya ekosistem di hutan.

Penyebaran burung jenis ini ditemui di wilayah sub-Sahara Afrika, India, Asia Tenggara, New Guinea dan Kepulauan Solomon.

Burung Julang Sulawesi merupakan satu dari 13 jenis burung Ranggong yang ada di Indonesia. Julang Sulawesi atau dalam bahasa latinnya disebut Aceros cassidix, adalah jenis burung endemik yang hanya dapat ditemukan di hutan Sulawesi.

Dibandingkan dengan beberapa saudara sejenisnya, rasanya burung julang sulawesi tampil lebih fashionable dengan balung menyerupai jambul yang berwarna merah-kecoklatan diatas kepalanya.

KLIK INI:  Kabar Gembira, Bayi Elang Jawa Kembali Lahir Di TN Bromo

Diperindah dengan paruhnya berwarna kuning bermotif yang memanjang lancip untuk mematuk buahan di hutan.

Julang Sulawesi atau disebut Knobbed Hornbill dalam bahasa Inggris ini memiliki panjang tubuh mencapai 104 cm dengan berat sekitar 2,36-2,5 kilogram.

Tubuh dan sayapnya berwarna hitam, dengan balung khasnya yang berwarna merah untuk jantan dan kuning untuk betina. Leher Julang berwarna biru muda yang terhubung dengan warna bulu sekitar matanya.

Habitat Julang berada di sekitar kawasan hutan yang memiliki pohon besar, sebab julang seringkali membuat sarangnya diatas pohon besar. Selain untuk tempat tinggal, pohon yang menyimpan buahan menjadi santapan burung berjenis frugivory ini.

Jurnal Bio Wallacea (2019) menjelaskan bahwa Julang Sulawesi merupakan jenis burung yang termasuk dalam famili Bucerotidae dan merupakan jenis burung pemakan buah (frugivory).

Burung julang begitu menyukai buah-buahan kecil yang memiliki banyak biji. Karena kebiasaannya mengkonsumsi buah-buahan berbiji, maka dirinya kerap dijuluki sebagai petani hutan.

KLIK INI:  Tak Ada di Tempat Lain, Spesies Tikus Ompong Hanya Ada di Sulawesi

Julang kerap kali memuntahkan biji dari buah yang dimakannya. Biji-biji ini yang kemudian hari menjelma menjadi pohon kehidupan sekaligus menjaga kelestarian hutan.

Selain itu, kehadiran burung julang di sekitar kawasan hutan menandakan kondisi hutan yang baik-baik saja. Sebab, biasanya julang sering bertengger di sekitar pohon besar yang memiliki peran penting di hutan.

Diambang kepunahan

Namun, nasib si petani hutan ini sebenarnya tidak baik-baik saja. Julang berada dalam ancaman kepunahan massal dalam beberapa puluh tahun kedepan akibat perburuhan dan berkurangnya habitat tempat tinggal mereka.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan status burung ini masuk dalam kategori Rentan (Vulnerable/VU) punah. Artinya, Julang memiliki 10 persen kemungkinan punah dalam jangka waktu 100 tahun ke depan..

Padahal perlindungan terhadap julang telah dicantumkan dalam Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa jenis ini termasuk yang dilindungi.

KLIK INI:  Sugar Glider, Hewan Kecil yang Lucu dan Menggemaskan

Salah satu faktor penyebab status rentan pada Julang adalah maraknya aktivitas perburuan liar terhadap hewan langka ini.

Data dari Mongabay menjelaskan pada tahun 2013, terdapat 6 ribu paruh rangkong yang dijual di pasar global. Sementara, pada 2012 hingga 2019, diperkirakan sebanyak 3.480 paruh rangkong disita Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Tiongkok, dalam upaya penyelundupan.

Selain itu, selama beberapa tahun terakhir, transaksi penjualan julang begitu massif di media sosial. Pada 2016 lalu, seekor julang yang masih bayi di jual dengan harga 12 juta di grup facebook.

Dua tahun berselang, pada 2018 sebuah foto yang diunggah di facebook mendadak jadi sorotan publik setelah memperlihatkan 2 ekor julang dibopong dalam kondisi tewas ditembak senapan angin. Dan beberapa kejadian penyitaan lainnya yang dilakukan penegak hukum di sekitar kawasan hutan.

Padahal, Kelestarian Julang juga berdampak pada ekosistem hutan dan budaya masyarakat setempat.

Dalam artikelnya, Mongabay menjelaskan hubungan masyarakat Minahasa dengan burung julang yang dianggap sebagai hewan sakral. Julang, sebab paruhnya yang begitu besar, dianggap sebagai perwakilan dunia atas sehingga terdapat ritual khusus pemanggilan burung julang dalam masyarakat mereka.

Tugas berat berada di pundak pemangku kebijakan dan masyarakat umum, untuk menjaga kelestarian Julang dari ancaman kepunahan. Sehingga anak cucu kita kelak masih bisa merasakan cantiknya burung khas pulau Sulawesi ini.

KLIK INI:  Paul dan Seekor Gurita Kelapa yang Terancam Akibat Gelas Plastik