Bucephalandra, Tanaman Air Bernilai Tinggi yang Pas untuk Aquascape

Publish by -305 kali dilihat
Penulis: Idris Makkatutu
Bucephalandra, Tanaman Air Bernilai Tinggi yang Pas untuk Aquascape
Tanaman air bucephalandra/foto-Pinterest

Klikhijau.com – Bucephalandra, namanya memang masih terasa asing, bukan? Namun di balik namanya yang asing, ia mulai merangkak menjadi tanaman air primadona, khususnya bagi pencinta aquascape.

Aquascape sendiri adalah sebuah seni yang mengatur tanaman, air, batu, karang, kayu dan lain sebagai dalam akuarium.

Tanaman bucephalandra menjadi pilihan karena memiliki varian warna yang beragam, mulai dari hijau, ungu, cokelat, hingga hijau tua. Bentuk daunnya pun bervariasi, ada yang berdaun lancip, bulat, dan sebagainya.

Bucephalandra dikenal sebagai tanaman foreground. Dinamakan bucephalandra karena bentuk bunganya yang sepintas menyerupai tanduk banteng. Memiliki variasi yang sangat tinggi. Saat ini sudah terdeteksi ada 30 spesies yang tersebar di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

KLIK INI:  Berkat Embrio Buatan, Badak Putih Bisa Diselamatkan dari Kepunahan

Kepopuleran tanaman ini dimulai pada tahun 2014 ketika Nakamoto yang merupakan kolektor tanaman air asal Jepang mengenalkann lebih luas ke publik.

Sejak saat itu tanaman eksotik dan endemik Pulau Borneo ini membuat menjadi magnet para kolektor tanaman air dan yang hobi aquascape di seluruh dunia. Mulai  dari Thailand, Jepang, Hongkong, Cina,  Eropa, dan Amerika

Bahkan di Amerika para aquascaper (sebutan bagi pencinta aquascape) harus merogoh koceknya sebesar 70 dolar AS untuk satu rumpun kecil bucephalandra.

Berdasarkan data unit Pelayanan Rekomendasi di Direktorat Jenderal Hortikultura, hampir setiap hari ada usulan permohonan ekspor tanaman tersebut dengan tujuan  Amerika, Peru, Vietnam, Hongkong, Jepang dan Korea.

Dan hal yang paling  menggembirakan dari tanaman ini karena hanya ada di Indonesia. Ia tumbuh di pedalaman hutan di Borneo atau Kalimantan dengan nama buce.

Karena itu, Direktur Perbenihan Direktorat Hortikultura Kementan, Sukarman pernah mengungkapkan jika tanaman air ini membuka peluang ekonomi yang besar bagi masyarakat untuk dikembangbiakkan

“Tanaman ini harus diekspor langsung dari Indonesia. Selain itu pertumbuhannya cenderung lambat. Ini sebenarnya jadi peluang,” katanya.

KLIK INI:  Bonsai Tanaman dan 6 Rahasia Istimewa yang Membuat Pegiatnya Betah

Ia juga menambahkan bahwa potensi pengembangan masih terbuka luas. Sebagaimana arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, tanaman seperti buce harus terus didorong untuk pasar ekspor.

Dikembangkan Balitbangtan

Melihat potensi tanaman bucephalandra yang sangat menjanjikan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mulai mengembangkan tanaman ini.

Tujuan pengembangan tersebut untuk memperbanyak benih secara kultur jaringan (in vitro) yang dilakukan di Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen), Bogor, Jawa Barat.

Kepala Balitbangtan,  Dr.  Fadjry Djufry mengatakan, buchepalandra merupakan tanaman endemik Kalimantan yang bernilai ekonomi cukup tinggi. Di Amerika, para aquascaper (para pelaku aquascape) harus membeli tanaman ini dengan harga USD 7 untuk satu rumpun kecil.

“Di Indonesia masih banyak yang belum tahu. Sementara di luar negeri sudah banyak yang memanfaatkannya,” kata Fadjry seperti dikutip dari laman litbang pertanian.

KLIK INI:  Melati Air, Bunga yang Mekar di Pagi Hari dan Berguguran di Sore Hari

Tingginya permintaan jenis tanaman air ini membuat Fadjry sedikit khawatir akan disalah gunakan. Karena itu, harus dilakukan sesuai prosedur agar tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, seperti eksplotasi berlebihan yang bisa menyebabkan gangguan pada ekosistem aslinya. Tanaman ini merupakan plasma nutfah kekayaan Indonesia yang harus dilindungi.

Sementara itu Peneliti Balitbangtan, Dr. Rossa Yunita, menjelaskan tanaman buchepalandra memiliki pertumbuhan yang lambat sehingga sulit dibudidayakan oleh petani tanaman air. Oleh karena itu, Balitbangtan bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 2016—2018 lalu sudah menerapkan teknologi kultur jaringan untuk memperbanyak komoditas tersebut.

“Kita sebagai lembaga peneltian memiliki kewajiban untuk menemukan dan mengaplikasikan teknologi yang dapat diaplikasikan langsung oleh petani, sehingga mereka tidak lagi mengeksploitasi alam yang dapat merusak keragaman genetik kita,” papar Rossa.

Saat ini budidaya buce sudah dilakukan di Bogor, Cirebon, Madiun dan termasuk di wilayah Kalimantan sendiri. Kita patut berharap agar tanaman endemik Indonesia ini tetap terjaga dan terawat dan menjadi identitas daerah asalnya.

KLIK INI:  Selain Biota Laut, Rusa di Nara Park Juga Mati Karena Sampah Plastik
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!