Bili-bili, Bendungan yang Berada di Gerbang Antara

oleh -652 kali dilihat
Bendungan Bili-bili
Bendungan Bili-bili/ Foto-makassarterkini.d
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Klikhijau.com – Malam telah cukup pekat, sekitar pukul 23 malam di kisaran tahun 2011. Saya bersama beberapa teman menuju Bendungan Bili-bili. Salah seorang dari teman tersebut, sesampai di sana baru saya tahu kalau ia sedang berulang tahun.

Perjalanan malam itu adalah perjalanan mengantar ia merayakan ulang tahunnya. Di salah satu rumah makan yang banyak terdapat di sekitaran Bendungan Bili-bili, kekasihnya telah menunggu, lengkap dengan ikan bakarnya.

Itu kisah pertama saya atau barangkali yang terakhir mengunjugi  bendungan terbesar di Sulawesi Selatan pada malam hari. Bendungan yang terletak di Kabupaten Gowa, sekitar 30 kilometer ke arah timur Kota Makassar.

Diresmikan oleh Megawati Soekarnoputri pada tahun 1999 yang saat itu menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Pembangunan bendungan yang terletak di Kelurahan Bontoparang, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa tersebut berawal pada tahun 1974 silam.

Saat itu, sungai Jeneberang meluap dan menggenangi kota Makassar dan Kabupaten Gowa sedikitnya 3/4 Kota Makassar tenggelam oleh luapan Sungai Jeneberang.

Peristiwa itu melahirkan ide pembangunan bendungan tersebut, yang bertujuan untuk mencegah banjir di dua  daerah bertetangga itu.

***
KLIK INI:  Gurita Sampah di Laut, Penyelam Berpotensi Menyelam Sambil Minum Sampah?

Pada kisah yang lain, seorang teman yang berprofesi sebagai guru di salah satu Sekolah Dasar di Makassar berkunjung ke rumah. Ia bersama-sama teman-teman seprofesinya akan mengunjungi Bili-bili, merayakan hari liburnya dengan acara ikan bakar.

Tapi, tidak berselang lama, rombongan itu kembali. Salah satu dari mereka pingsan karena tidak tahan mencium bau ikan bakar

Kisah itu membuat saya tercengang, bagaimana mungkin seseorang bisa pingsan hanya karena bau ikan bakar?  Sesampai di rumah ia telah siuman, tapi sangat lemas.

Ia meringis serupa akan kesurupan. Saya hampir curiga, penghuni Bendungan Bili-bili—yang pada tahun 1980 mulai dilakukan studi secara intensif untuk mengkaji kemungkinan pembangunannya untuk mengatasi banjir yang setiap tahun terjadi telah merasukinya.

***

Pada kisah yang lain pula, sepulang dari makan rambutan di rumah teman di Parangloe, Gowa. Saya singgah di Bendungan Bili-bili.

Berjalan cukup jauh ke dalam jembatan. Banyak orang yang datang sore itu, melepas penat atau sekadar mengambil foto untuk dipamer di media sosialnya.

Bendungan Bili-bili bukanlah tujuan utama bagi yang ingin berwisata di Gowa. Kebanyakan yang singgah adalah mereka yang pulang dari  Malino.

Bendungan bili-bili menjadi tempat singgah yang manis dan menenangkan dengan mendengar gemericik airnya. Bendungan yang pada tahun 1990 detail desain pembangunannya  telah siap, sehingga mulailah dilakukan pembebasan lahan untuk kepentingan pembangunan tersebut yang luasnya lebih kurang 40,428 hektar.

Bendungan  yang pekerjaan konstsruksinya  dimulai pada tahun 1992 silam tersebut, menurut Dr.Ir. Haeruddin C. Maddi, salah seorang pemerhati sumber daya air dibangun dengan dana pinjaman luar negeri sebesar Rp 780 miliar, kerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA).

Pembangunannya menjadi berkah karena  menjadi sumber air baku bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Gowa dan Makassar.

***
KLIK INI:  Sampah Jadi Masalah Utama Kota Berkembang, Termasuk Makassar

Kisah lainnya, Bendungan Bili-bili jarang dibincangkan, tapi sekali dibincangkan akan melahirkan cemas yang akut. Semisal beberapa hari terakhir ketika curah hujan tinggi di Sulawesi Selatan, banyak berita beredar mengenainya. Berita yang sulit dibedakan antara hoax dan fakta.

Puncak perbincangan mengenai Bendungan Bili-bili terjadi kemarin, 22 Januari 2019. Ketinggian airnya mencapai 101, 99, yang membuat pihak pengelola dan Pemerintah Kabupaten Gowa mengambil langkah taktis.

Membuka pintu bendungan tersebut, meski Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan YL meyadari akan berdampak banjir pada warganya. Tapi, keputusan itu harus diambil. Sebab jika Bendungan Bili-bili jebol, kerugiannya akan lebih besar. Langkah itu cerdas dan berani.

“Sekarang pintu airnya sudah dibuka. Dengan dibukanya pintu air, maka tentu akan berdampak ke semua kecamatan yang ada di dataran rendah. Sembilan kecamatan yang ada di dataran rendah pasti akan terkena dampak dari terbukanya pintu air yang ada di Bili-bili,” jelas Adnan, kemarin. Dan terbukti setelah dibuka banjir tiba menggenangi dataran rendah, Gowa.

Ya, meskipun  fungsi utama pembangunan Bendungan Bili-bili adalah pengendalian banjir, namun bagi dan masyarakat justru menjadi momok yang menakutkan  saat musim hujan tiba.

Padahal mestinya dengan adanya bendungan ini masyarakat bisa lebih tenang di saat musim hujan tiba. Tapi, kehadiran bendungan Bili-bili seolah berada di gerbang antara, antara harapan dan kecemasan.

KLIK INI:  6 Fakta Warga Makassar Belum Tahu Mitigasi Perubahan Iklim
Bendungan Bili-bili

Menurut Dr. Ir. Haeruddin C. Maddi, secara struktur bendungan Bili-bili sangat berbeda dengan Situ Gintung. Meskipun cerita mengenai keruntuhan dam (dam break) bukan tidak pernah terjadi. Sehingga semua bendungan khususnya yang ada di Indonesia, termasuk Bili-bili mempunya study dam break.

Keruntuhan bendungan secara umum dipengaruhi oleh 3 faktor pertama collapse by Earthquake (gempa bumi), kedua seepage/leakage (disebakan adanya kebocoran/retakan) dan ketiga overtopping.

Bendungan Bili-bili didesain dengan type Rockfill dam dengan inti di tengah (center core Rockfill dam), dam Bili bili didesain dengan menggunakan design seismic coefficient di Jepang 0,12 (medium earthquake region) yang dikenal sangat rawan gempa.

Bendungan ini didesain dengan inflow discharge 3,100 m3/detik, setara dengan kala ulang 1000 tahun. Pada elevasi 103 design flood water level.

Bendungan Bili-bili menggunakan sistem digital yang dioperasikan selama 24 jam secara ketat terutama di musim hujan dengan memperhatikan inflow (air yang masuk) dengan ketinggian muka air di reservoir dengan bukaan pintu pada saat air harus di keluarkan melalui pintu.

Pada kondisi normal di mana apabila muka air waduk mencapai angka 99.50 air secara otomatis melimpah melalui spillway.

Balai Besar Wilayah Sungai Pempengan Jenneberang menjelaskan tingkatan status Bendungan Bili-bili, yakni Status normal=  Tinggi Muka Air (TMA) mencapai  elevasi. + 99.50. 2.

Status Pemantau TMA mencapai  elevasi + 99.64. 3. Status Waspada TMA mencapai  elevasi + 100. 4. Status siaga TMA mencapai  elevasi +101.60. 5. Status Batas Awas TMA mencapai elevasi +103.00.

***
KLIK INI:  Pendugaan Cadangan Karbon, Tren Sisi Pandang Hutan Terkini

Di kisah yang lain pula, menurut laman makassarterkini.id bahwa pembangunan  Bendungan Bili-bili menenggelamkan empat kampung, yakni  Kampung Bonto Parang, Lanna, Pattalikang, dan Kampung Manuju.

Serta merendam sekitar 2.000 hektar sawah masyarakat. Warga yang kehilangan lahan dan tempat tinggal direlokasi ke daerah Mamuju, Sulawesi Barat. Sebagai transmigran. Tercatat kurang lebih 3 ribu kepala keluarga yang menjadi transmigran.

Dan kisah awal tahun ini mengenai Bendungan Bili-bili bukan lagi tentang perjalanan tengah malam, makan rambutan, pingsan karena bau ikan bakarnya. Tapi kisah tentang keresahan warga yang terkena banjir, kisah tentang kekhawatiran airnya akan kembali meluap sebab curah hujan masih tinggi.

Tentang kisah harapan yang dibalut doa, semoga yang lebih buruk tidak akan terjadi mengenai bendungan tersebut. Yang menurut Nasaruddin selaku Penanggung Jawab Bendungan Bili-bili, seperti yang dimuat di laman unhas.ac.id bahwa bendungan Bili-bili diperkirakan dapat menyuplai air selama 50 tahun sejak pembangunannya.

Bermanfaat sebagai pembangkit listrik, tempat rekreasi, dan perikanan darat. Usia bendungan bili-bili telah dewasa, yakni 18 tahun, tahun ini. Semoga ia panjang umur.

KLIK INI:  Rembuk Komunitas MTS, Upaya Kolaborasi Penanggulangan Sampah di Kota Makassar