Betapa Repotnya Beradaptasi dengan Toilet Amerika

Publish by -90 kali dilihat
Penulis: Arief Balla
Betapa Repotnya Beradaptasi dengan Toilet Amerika

Bahkan Amerika Serikat tercatat sebagai dengan pengguna tisu toilet terbesar di dunia

Klikhijau.com – Setelah perjalanan panjang 24 jam dari Jakarta, saya akhirnya tiba di California, tepatnya di Kota San Diego, “Balinya” Amerika Serikat, kata orang. Kotanya ramai, tertata indah, udaranya sejuk, dan banyak pantai.

Saya tiba ketika dini hari. Perjalanan panjang dan melelahkan tentu membuat saya buru-buru mencari kamar mandi ketika tiba di apartemen.

Dan saya baru ingat satu hal. Toiletnya berbeda dengan di Indonesia, toilet sehari-hari yang telah saya akrabi bertahun-tahun.
Toilet seperti kebanyakan kita di budaya orang Timur. Dengan sebuah selang khusus untuk mencebok di samping bak buang hajat atau kalau tidak, ada timba dengan bak atau ember di sampingnya.

KLIK INI:  Peneliti AS Temukan Cara Hasilkan Tanaman Lebih Besar dari Seharusnya
Toilet Barat berbeda dengan Timur

Saya sadar saya akan tinggal selama dua tahun. Karena itu berarti saya juga harus beradaptasi dengan budaya Amrik, termasuk berkompromi dengan budaya toilet Amerika.

Toilet yang tidak mengandalkan air untuk membersihkannya selepas buang air besar. Sebagai gantinya adalah tisu toilet bergulung-gulung berbentuk bundar.

Saya mencobanya dua hari. Saya gagal. Saya membeli air botol sebanyak dua buah. Sebelum masuk toilet, saya mengisinya air di westafel. Dua botol air itulah yang saya gunakan.

Kebiasaan ini ternyata terus berlanjut ketika saya sudah berangkat ke kampus tujuan. Seingat saya, selama dua tahun itu saya tidak pernah menggunakan toilet kampus untuk buang air besar. Selain tidak nyaman, alasan utamanya karena persoalan tisu.

KLIK INI:  Isu Lingkungan Tak Seksi di Debat Capres-Cawapres, Apa karena Ada yang Masuk Angin?

Saya merasa bahwa penggunaan tisu tidak sebersih saat menggunakan air. Pengandaiannya barangkali Anda bisa ingat ketika mulut atau kulit Anda terkena cokelat, lalu berusaha menghapusnya dengan cokelat, namun bekas-bekasnya masih terasa.

Jalan terbaik untuk menghapus atau  menghilangkannya adalah dengan air, sebab tisu ternyata tidak berhasil membantu membersihkannya. Bagi saya penggunaan tisu selepas buang hajat ya sama seperti itu.

Kebiasaan menggunakan air pada umumnya adalah budaya negara-negara mayoritas Muslim. Sebab terutama ketika diperintahkan bersuci, harus menggunakan air dan baru diperkenankan menggunakan debu atau benda keras ketika tidak ditemukan air.

Sementara, negara-negara maju seperti Inggris dan Amerika Serikat justru masih menggunakan tisu toilet. Bahkan Amerika Serikat tercatat sebagai dengan pengguna tisu toilet terbesar di dunia. Sebuah hal yang tidak mengejutkan sebab memang Amerika Serikat termasuk dengan berpenduduk terbesar di dunia.

Seandainya kebiasaan menggunakan tisu toilet bisa diganti dengan air, barangkali penebangan pohon untuk tisu toilet bisa dikurangi.

KLIK INI:  Musim Salju Tak Selamanya Indah, Ia Juga Menyimpan Kecemasan
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!