Berkenalan dengan Akasia, Pohon Kenangan yang Kembali Diidamkan

Publish by -4.362 kali dilihat
Penulis: Anis Kurniawan
Berkenalan dengan Akasia, Pohon Kenangan yang Kembali Diidamkan
Pohon akasia - Foto/Pixabay

Klikhijau.comAkasia (Acacia mangium Willd), pohon kenangan ini hanya saya jumpai di masa kecil di kampung saat masih duduk di Sekolah Dasar di tahun 90-an. Bila tak salah ingat, ada tiga pohon akasia yang berjejer di pinggir lapangan sekolah kami.

Di bawah Akasia itulah, kami selalu berkumpul dan memunguti biji-bijinya  yang kecil berwarna hitam saat musim kemarau. Sesekali kami memanjat ke atasnya ramai-ramai sembari menikmati udara segar yang seolah berhembus dari dedaunnya.

Namun, satu hal yang menyebalkan, setiap awal pagi, kami harus secara bergantian membersihkan halaman sekolah akibat daun dan biji akasia yang berhamburan.

Tak lama setelah tamat di Sekolah Dasar, saya terkejut saat melihat pohon akasia andalan itu tiada lagi, ditebang. Saya tak pernah tahu alasannya, mungkin saja dedaun dan bijinya yang kerap jadi sampah. Atau kayunya akan digunakan, entahlah! Belakangan saya melihat, ada beberapa pohon mangga tumbuh subur di atas bekas pohon akasia itu.

Di tahun 1990-an, akasia memang masih cukup banyak dijumpai di pinggir jalan dan ruang publik lainnya di Sulawesi Selatan.

Dalam beberapa sumber terpercaya disebutkan, Akasia diperkenalkan pertama kali pada tahun 1960-an di beberapa negara seperti Malaysia, Papua Nugini, Bangladesh, Cina, India, Filipina, Sri Lanka, Thailand, Vietnam dan Indonesia.

KLIK INI:  Pohon Johar, Peneduh Berbunga Kuning dan Ragam Manfaatnya Bagi Kesehatan

Di Indonesia, jenis ini pertama kali menyebar ke Kepulauan Maluku pada akhir tahun 1970-an sebagai jenis pohon untuk program reboisasi (Pinyopusarerk dkk. 1993).

Sebarannnya

Faktanya, Acacia mangium Willd ternyata pohon idaman dengan kualitas kayu yang bagus. Pohon ini dikenal dengan nama mangium, merupakan salah satu jenis pohon cepat tumbuh yang paling umum digunakan dalam program pembangunan hutan tanaman di Asia dan Pasifik.

Keunggulan dari jenis ini adalah pertumbuhan pohonnya yang cepat, kualitas kayunya yang baik, dan kemampuan toleransinya terhadap berbagai jenis tanah dan lingkungan.

Dikutip Wikipedia, Mangium juga dikenal sebagai pohon duri, dalam bahasa Inggris disebut whistling thorns (“duri bersiul”) atau Wattles, atau yellow-fever acacia (“akasia demam kuning”) dan umbrella acacias (“akasia payung”).

akasia
Daun dan bunga akasia – Foto/Jualo

Sampai dengan tahun 2005, diperkirakan ada sekitar 1.300 spesies mangium di seluruh dunia. Sekitar 960 dari mereka adalah flora asli Australia, sisanya tersebar di daerah tropis ke daerah hangat dan beriklim sedang seperti di Eropa, Afrika, Asia Selatan dan Afrika Selatan.

Di Indonesia, pohon ini disebut juga mangga hutan, tongke hutan (Seram), nak (Maluku), laj (Aru), dan jerri (Irian Jaya) (Turnbull 1986). Nama lokal di negara lain: black wattle, brown salwood, hickory wattle, mangium, sabah salwood (Australia, Inggris); mangium, kayu SAFODA (Malaysia); arr (Papua Nugini); maber (Filipina); zamorano (Spanyol); dan kra thin tepa, krathinthepha (Thailand) (Hall dkk. 1980, Turnbull 1986).

KLIK INI:  Agar Aglaonema Tampak Cetar Mempesona, Ini Pilihan Pot dan Media Tanam Terbaik!
Bagaimana akasia beradaptasi?

Pohon mangium pada umumnya besar dan bisa mencapai ketinggian 30 m, dengan batang bebas cabang lurus yang bisa mencapai lebih dari setengah total tinggi pohon.

Jenis mangium tumbuh secara alami di hutan tropis lembap di Australia bagian timur laut, Papua Nugini dan Kepulauan Maluku kawasan timur Indonesia (National Research Council 1983).

Mangium dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah dan kondisi lingkungan. Mangium dapat tumbuh cepat di lokasi dengan level nutrisi tanah yang rendah, bahkan pada tanah-tanah asam dan terdegradasi (National Research Council 1983).

Jenis ini tumbuh baik pada tanah laterit, yaitu tanah dengan kandungan oksida besi dan aluminium yang tinggi (Otsamo 2002).

Meskipun demikian, jenis ini tidak toleran terhadap naungan dan lingkungan salin (asin). Di bawah naungan, mangium akan tumbuh kerdil dan kurus (National Research Council 1983).

KLIK INI:  Graphium Rhesus, Kupu-Kupu Indah yang Elegan Memanjakan Mata

Jenis ini merupakan jenis pionir yang dapat meregenerasi secara alami di lokasi yang sudah terganggu. Gunn dan Midgley (1991) melaporkan bahwa mangium tumbuh secara melimpah di hutan-hutan pasca terjadinya gangguan, di sepanjang jalan dan bekas-bekas peladangan berpindah di Indonesia dan Papua Nugini.

Jenis mangium biasanya ditemukan di daerah dataran rendah beriklim tropis yang dicirikan oleh periode kering yang pendek selama 4 bulan (Eldoma dan Awang 1999). Jenis ini dapat tumbuh pada ketinggian di atas permukaan laut sampai ketinggian 480 m. Meskipun demikian, mangium dapat tumbuh

Karakteristik dan manfaatnya

Karakteristik Kayu Kayu gubal mangium tipis dan berwarna terang. Kayu terasnya berwarna agak coklat, keras, kuat, dan tahan lama pada ruangan yang berventilasi baik, meskipun tidak tahan apabila kontak dengan tanah (National Research Council 1983).

Serat kayunya lurus hingga bertautan dangkal; teksturnya agak halus sampai halus dan seragam. Kerapatan kayunya bervariasi dari 450 sampai 690 kg/m3 dengan kadar air 15%.

Tingkat penyusutan cukup rendah sampai moderat sebesar 1,4–6,4% (Abdul-Kader dan Sahri 1993). Berat jenis kayu dari tegakan hutan tanaman umumnya berkisar antara 0,4 dan 0,45 sedangkan yang dari tegakan alam sekitar 0,6 (National Research Council 1983).

KLIK INI:  Sambut Hari KEHATI 2020, BBKSDA Sulsel Lepasliarkan Satwa ke Alam

Kegunaan Kayu mangium dapat digunakan untuk pulp, kertas, papan partikel, krat, kepingan-kepingan kayu serta sebagai bahan baku meubel. Selain itu juga berpotensi untuk kayu gergajian, molding, mebel dan vinir.

Kayunya juga dapat digunakan untuk kayu bakar dan arang. Daunnya dapat digunakan sebagai pakan ternak. Cabang dan daun-daun kering yang berjatuhan dapat digunakan untuk bahan bakar.

Penggunaan nonkayu meliputi bahan perekat dan produksi madu. Serbuk gergajinya dapat digunakan sebagai substrat berkualitas bagus untuk produksi jamur yang dapat dimakan (Lemmens dkk. 1995).

Pohon mangium juga dapat digunakan sebagai pohon penaung, ornamen, penyaring, pembatas dan penahan angin, serta dapat ditanam pada sistem wanatani dan pengendali erosi (National Research Council 1983).

Jenis ini banyak dipilih oleh petani untuk tujuan peningkatan kesuburan tanah ladang atau padang rumput. Pohon mangium mampu berkompetisi dengan gulma yang agresif, seperti alang-alang (Imperata cylindrica); jenis ini juga mengatur nitrogen udara dan menghasilkan banyak serasah, yang dapat meningkatkan aktivitas biologis tanah dan merehabilitasi sifat-sifat fisika dan kimia tanah (Otsamo dkk. 1995).

Pohon ini juga dapat digunakan sebagai penahan api karena pohon berdiameter 7 cm atau lebih biasanya tahan terhadap api (National Research Council 1983).

Itulah perkenalan singkat mengenai akasia (Acacia mangium Willd), pohon kenangan yang kini dirindukan kembali. Semoga bermanfaat!

KLIK INI:  Peka dan Resah, Kunci Utama Tumbuhkan Perilaku Ramah Lingkungan
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!