Berkah di Tengah Pandemi, Buah dan Sayuran Petani di Kaki Gunung Rinjani Mendunia

oleh -92 kali dilihat
Berkah di Tengah Pandemi, Buah dan Sayuran Petani di Kaki Gunung Rinjani Mendunia
Hasil produksi petani cabai di kaki Gunung Rinjani - Foto/Kementan
Anis Kurniawan

Klikhijau.com – Di tengah kerisauan menghadapi masa-masa yang penuh ketidakpastian karena pandemi Covid-19, petani di kaki gunung rinjani dapat bernapas legah.

Hal itu karena sektor hortikultura seperti buah maupun sayuran saat ini mengalami peningkatan yang cukup tajam. Tak terkecuali hasil produksi petani cabai di kaki Gunung Rinjani, Lombok yang kini banyak diminati hingga mancanegara.

Bahkan masyarakat setempat, terutama yang kehilangan mata pencaharian banyak terbantu dengan meningkatnya permintaan ekspor cabai ke negara Jepang.

“Mereka kami berdayakan untuk bantu sortasi dan pemetikan pangkal cabai. Kami harus menyiapkan 8,4 ton cabai untuk pengiriman ke Jepang,” ujar Ketua Kelompok Tani setempat, Etty Suryaningsih melalui keterangan tertulisnya, Kamis 30 April 2020 Dilansir di laman Kementerian Pertanian.

Etty mengatakan, kendati tengah dilanda Pandemi Covid-19, permintaan ekspor cabai tetap stabil. “Minggu lalu kami juga baru mengirim enam ton ke Jepang dalam bentuk beku melalui PT Surya Elok Sejahtera,” tambah Etty.

KLIK INI:  Dianggap Melanggar UU Perlindungan Hutan, 3 Petani Asal Soppeng Jadi Tersangka

Dirinya mengungkapkan bahwa warga amat bersemangat ketika dilibatkan untuk membantu memenuhi permintaan mitra eksportir kelompok Putri Rinjani.

Etty sangat menekankan pentingnya kualitas kepada semua anggotanya. Sehingga produk mereka dikenal dan dicari oleh mitra eksportirnya. Bahkan, selain cabai, mutu manggis yang mereka kirim terkenal tidak pernah ditolak oleh Importir di negara tujuan.

“Kami bersyukur pembeli dari negara seperti Cina pernah langsung mencari ke sini,” beber Etty.

“Saya mengutamakan mutu, sehingga saya berharap mendapatkan harga yang pantas. Buyer yang menawar dengan harga rendah selalu saya tolak, karena petani harus mendapatkan hasil yang sepadan,” lanjut Etty.

Selain cabe besar dan manggis, mereka juga memenuhi permintaan cabe merah keriting dan empon-empon untuk diekspor ke Eropa dan Jepang, serta gula aren ke Jepang.

KLIK INI:  Pemerintah Serius Tidak Sih Mengatur Kendaraan di Kota?

Menanggapi hal tersebut Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Yasid Taufik, berbesar hati melihat apa yang diupayakan  Kementerian Pertanian berdampak positif pada pelaku usaha Hortikultura.

“Kita harus bisa menjaga kepercayaan yang sudah susah payah dibangun, terutama menjaga dan meningkatkan mutu produk agar ekspor bisa terus berkelanjutan,” ungkapnya.

Sementara, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, meminta kepada semua jajarannya agar mendukung kegiatan kelompok tani Putri Rinjani. Utamanya agar dapat mendukung upaya gerakan tiga kali lipat ekspor (GraTiEks) produk hortikultura yang digaungkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Anton, panggilan akrab Dirjen Hortikultura, berharap kelompok tani lainnya memiliki semangat yang sama. “ Salah satunya mengutamakan mutu hasil produknya dengan menerapkan praktek budidaya yang baik dan benar,” pungkasnya.

KLIK INI:  BBN Makassar dan BBKSDA Sulsel Suarakan “Nature Healing” di Puncak Bissoloro
Ekspor hasil pertanian terus meningkat

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat adanya peningkatan ekspor selama setahun terakhir. Peningkatan ini jumlahnya bahkan cukup signifikan, yakni 7,47 persen. Ini menjadi angin segar bagi perekonomian Indonesia, terutama saat adanya wabah corona.

“Dari tahun 2019 sampai Maret 2020, peningkatan ekspor kita mencapai 7,47 persen. Ini terjadi dari tahun lalu,” ujar Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian, Ali Jamil saat Mendampingi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam pelepasan Ekspor Komoditas Pertanian di sembilan pintu utama pengiriman, Kamis, 30 April 2020.

Sepanjang Januari hingga Maret 2020 tercatat nilai ekonomi sebesar 100,7 triliun. Sektor pertanian dapat menjadi solusi pasti di tengah keadaan seperti sekarang.

Adapun pintu 9 pelepasan ekspor itu diantaranya Lampung, Soekarno Hatta, Semarang, Belawan, Surabaya, Tanjung Priok, Denpasar, Balikpapan dan Makassar.

Pelepasan dilakukan secara daring dengan pengiriman sertifikat elektronik dari otoritas Karantina Pertanian Indonesia ke Belanda serta penandatangan kerjasama Barantan dengan Alibaba.com.

KLIK INI:  Tak Selalu Sehat, Jus Buah Bisa Sebabkan Diabetes Tipe 2 dan Kanker