Benarkah Berjilbab Berisiko Kekurangan Vitamin D? Klik Ini!

Publish by -39 kali dilihat
Benarkah Berjilbab Berisiko Kekurangan Vitamin D? Klik Ini!
Perempuan berjilbab/Foto-Instagram Juli Elsia

Klikhijau.com – Sudah jadi pengetahuan umum jika matahari memiliki peran penting memproduksi vitamin D atau dikenal juga dengan nama kalsiferol. Oleh karenanya, orang sering kali fokus pada paparan sinar matahari saja untuk mendapatkannya.

Kurang terkena sinar matahari memiliki risiko yang besar kekurangan vitamin D. Maka tak heran jika ada pendapat bahwa muslimah yang berjilbab berisiko kekurangan vitamin ini.

Pertanyaannya adalah seberapa besar peranan pakaian terutama jilbab jadi “penghalang” dalam produksi vitamin D?

Untuk menjawab itu, haruslah diketahui terlebih dulu bagaimana proses pembentukan vitamin tersebut. Selain itu, penelitian empiris terkait dengan masalah ini juga tentu diperlukan.

Banyak riset telah mengungkapkan terjadinya kekurangan vitamin D secara global, lintas etnis, jenis kelamin, dan di berbagai belahan dunia.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa memakai pakaian tertutup bukan faktor risiko yang berdiri sendiri.

Perilaku masyarakat modern sekarang ini memiliki ketakutan terhadap cahaya matahari.

KLIK INI:  Benarkah Anda Butuh Waktu Tidur 8 Jam? Klik Ini!

Selalu beraktivitas dalam ruangan yang jauh dari paparan cahaya matahari karena takut citra kulit gelap yang jelek. Hingga pemakaian sun-block yang berlebihan.

Semua hal itu bisa menjadi faktor risiko kekurangan vitamin D.

Kekurangan vitamin D dan model pakaian

Pakaian yang menutupi seluruh badan bisa mengurangi paparan cahaya matahari terhadap kulit. Hal ini memungkinkan terjadinya risiko kekurangan vitamin D.

Berbagai studi menyebutkan pakaian yang menutup seluruh badan dengan kekurangan vitamin D memiliki kaitan.

Akan tetapi, analisis mendalam tentang hal tersebut menunjukkan bahwa keterkaitan antara model (bentuk) pakaian dan kekurangan vitamin ini terjadi secara kompleks. Ada aspek perilaku lain.

Model pakaian yang menjadi faktor risiko kekurangan kalsiferol tidak berdiri sendiri.

Riset yang telah dilakukan Jerman, Malaysia, Yordania, dan Saudi Arabia menunjukkan, kekurangan vitamin D bagi mereka yang berpakaian menutupi seluruh tubuh adalah mereka yang sangat menghindari paparan cahaya matahari dalam kesehariannya.

Penelitian-penelitian ini membuktikan, model pakaian atau berhijab bukanlah penyebab utama kekurangan vitamin ini. Penyebab utamanya adalah perilaku yang menjauhi paparan cahaya matahari.

Di samping itu, berbagai studi dan rekomendasi kesehatan menunjukkan bahwa sinar untraviolet B (UV-B) dari cahaya matahari masih dapat menembus pakaian tipis meskipun dengan intensitas yang sedikit menurun.

Artinya, kebutuhan cahaya matahari masih dapat terpenuhi dengan pakaian yang tidak tebal dan selama tidak menghindari lingkungan luar yang terpapar cahaya matahari.

KLIK INI:  Medsos Berpeluang Besar Lahirkan Gejala Depresi, Khususnya Bagi Anak Muda
Peranan UV

Vitamin D aktif terbentuk melalui proses yang kompleks. Salah satu yang berperan adalah ultraviolet-B (UV-B) dari cahaya matahari. Karena itu, orang yang kurang terkena paparan cahaya matahari berisiko kekurangan kalsiferol.

Sumber awalnya  berasal dari makanan dalam bentuk 7-dehidrokalsiferol atau yang lebih dikenal sebagai prekursor (calon) kalsiferol.

Vitamin ini bersifat larut dalam lemak. Sehingga, sumber-sumber makanan yang mengandungnya adalah makanan yang juga sebagai sumber asam lemak tubuh. Misalnya telur, ikan, daging dan kacang-kacangan.

Jumlah prekursor kalsiferol yang dikonsumsi akan berbanding lurus dengan konsumsi lemak seseorang.

Begitu juga dengan proses pencernaan dan penyerapannnya. Ada peranan asam empedu dan enzim-enzim yang berperan pada pencernaan lemak tersebut.

Setelah melalui proses pencernaan dan penyerapan, sumber kalsiferol yang dikonsumsi akan dibawa ke seluruh tubuh.

Jika sampai pada permukaan kulit, 7-dehidrokalsiferol akan diubah menjadi vitamin D atau kalsiferol oleh sel-sel keratinosit, dengan bantuan UV-B dari cahaya matahari.

Semakin lama dan semakin banyak kulit seseorang terpapar cahaya matahari, semakin banyak pula proses pembentukannya.

Kebutuhan cahaya matahari untuk sintesis kalsiferol dapat terpenuhi dengan waktu paparan selama rata-rata 10-15 menit sehari dalam 3-4 kali semingggu.

Kalsiferol yang terbentuk pada kulit, juga belum merupakan kalsiferol aktif. Kalsiferol akan ditranspor ke hati dan diubah menjadi kalsifediol. Lalu ditranspor lagi ke sel-sel jaringan ginjal dan diubah menjadi 25-hidroksikalsiferiol-D3 atau kalsitrol.

Kalsitrol inilah yang merupakan vitamin aktif dalam metabolisme kalsium dan fosfat dan membantu kestabilan kekebalan tubuh.

KLIK INI:  Ingin Rambut Cepat Panjang dan Tebal? Konsumsi 4 Vitamin Ini!
Faktor risiko kekurangan vitamin D

Kekurangan vitamin ini dapat terjadi akibat gangguan salah satu rantai produksinya. Mulai dari asupan makanan, pencernaan dan absorbsi, paparan cahaya matahari, gangguan hati dan ginjal.

Risiko kekurangan vitamin D pada masyarakat dapat bermula dari rendahnya asupan prekursor vitamin ini.

Sangat membatasi sumber-sumber makanan berlemak dan mengandung kolesterol karena takut berlebihan, sehingga berdampak terhadap defisiensinya.

Inilah risiko utama yang terjadi pada masyarakat modern saat ini. Ketakutan akan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah membuatnya menghindari makanan-makanan sumber lemak.

Hal ini dapat menjadi faktor kurangnya vitamin-vitamin terlarut dalam lemak, termasuk vitamin D. Begitu juga dengan penyakit-penyakit yang terkait dengan sistem organ yang terkait dengan produksi kalsiferol.

KLIK INI:  Bangun Pagi Berpotensi Hindari Wanita dari Kanker Payudara

Sumbatan batu empedu yang menyebabkan terganggunya produksi asam empedu ke dalam saluran cerna dan gangguan penyerapan lemak, akan menyebabkan terganggunya penyerapan vitamin ini.

Kekurangan paparan cahaya matahari jelas menjadi faktor risikonya. Semakin sedikit waktu terpapar cahaya matahari, semakin berisiko kekurangan kalsiferol.

Begitu juga kulit yang kurang terkena paparan cahaya matahari, akan semakin rendah pula produksinya.

Kesemuanya adalah faktor yang menyebabkan terjadinya kekurangan vitamin D di tubuh.

Melihat adanya faktor-faktor lain seperti perilaku menghindari paparan cahaya matahari dan pola makan bisa penyebabnya.

Ini menjadi bukti yang sangat jelas bahwa berjilbab tidak menjadi faktor risiko kekurangan vitamin D yang utama.

***

Tulisan di atas adalah pendapat ahli yang ditulis oleh Hardisman Dasman, Associate Professor in Community Medicine and Healthcare Policy, Universitas Andalas

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation.

KLIK INI:  Makin Stylish dan Ramah Lingkungan, Tumbler Thermos Cocok Bagi Kaum Milenial
Editor: Ian Konjo
Sumber: The Conversation

KLIK Pilihan!