Begini Peran TNTP sebagai Kawasan Konservasi dan Pendorong Kemajuan Wilayah

Publish by -70 kali dilihat
Begini Peran TNTP sebagai Kawasan Konservasi dan Pendorong Kemajuan Wilayah
Begini peran TNTP sebagai kawasan konservasi dan pendorong kemajuan wilayah

Klikhijau.com – Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) terus berbenah dengan semangat untuk menciptakan ruang bersama bagi alam, manusia dan satwa.

Penciptaan ruang bersama diarahkan agar keberadaan TNTP bukan hanya sebagai kawasan konservasi, melainkan juga sebagai pendorong kemajuan wilayah. Khususnya di Kabupaten Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah.

“Mempertahankan kealamian ditengah laju pembangunan, itu yang sedang kita lakukan. Kami sedang berusaha menjadikan TNTP salah satu motor pembangunan,” ujar Helmi Kepala Balai TNTP. Penyataan ini disampaikan saat memberikan paparannya dalam Kunjungan Jurnalistik dan Kunjungan Tematik Bakohumas oleh KLHK di Swiss-Belhotel, Pangkalanbun, Kalimantan Tengah, Selasa (25 Juni 2019).

Wisata alam di TNTP sudah sangat terkenal di dunia Internasional. Hal ini dibuktikan dengan kunjungan wisatawan mancanegara yang selalu lebih tinggi daripada wisatawan domestik.

KLIK INI:  Indonesia Angkat Kebijakan Reforma Agraria di Sidang APFC

Tahun 2018, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke TNTP mencapai angka 18.834 orang. Ini lebih tinggi dari wisatawan domestik yang hanya 10.449 orang. Dari kunjungan ini TNTP dapat menyumbangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) kepada negara sebesar 7,77 milyar pada tahun 2018.

Wisata alam yang ada di TNTP terbukti dapat menjadi salah satu pendorong pembangunan wilayah. Sebagai lokasi yang sangat baik untuk melihat habitat alami orang utan.

Kawasan taman nasional seluas 415.040 ha dihuni sekitar 917 ekor orang utan (berdasarkan data inventarisasi satwa Balai Taman Nasional Tanjung Puting tahun 2016).

Wisata alam ini telah membangun bisnis wisata yang cukup besar yang ditandai dengan tumbuhnya para pelaku pariwisata.

“Pelaku wisata di TNTP semakin meningkat, seperti pengelolaan perahu kelotok dan tenaga pemasak,” jelas Helmi.

Wisatawan mancanegara yang berkunjung berasal dari berbagai negara di Benua Eropa dan Amerika. Dominan berasal dari Amerika Serikat, Belanda, Inggris, Italia, Kanada, New Zeland, Polandia, dan Spanyol. Untuk kunjungan tertinggi berasal dari wisatawan asal Spanyol.

KLIK INI:  Pejabat Pengawas KLHK Dituntut Melatih Artikulasi dan Komunikas
Peran penting  TNTP

Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Djati Witjaksono Hadi sebagai penyelenggara kegiatan Kunjungan Jurnalistik dan Kunjungan Tematik Bakohumas menyebut jika keberadaan TNTP sangat penting terutama untuk konservasi orang utan yang merupakan spesies langka dan terancam punah.

“TNTP adalah rumah untuk satwa dilindungi seperti Orang utan, Bekantan dan Lutung. Juga merupakan pusat rehabilitasi Orang utan pertama di Indonesia”, ujar Djati saat membacakan Sambutan Sekretaris Jenderal KLHK pada pembukaan kegiatan tersebut.

Djati menambahkan, untuk mendukung fungsi Konservasi, pemerintah telah memiliki sekitar 500 kawasan konservasi alam yang tersebar diseluruh Indonesia. Kawasan konservasi alam tersebut terbagi menjadi beberapa bentuk seperti: cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman wisata alam, taman hutan raya, dan taman buru. Untuk taman nasional sendiri saat ini ada 56 di seluruh Indonesia.

TNTP dengan hutan rawa air tawar dan hutan bakaunya juga merupakan wilayah yang ditetapkan sebagai Ramsar Site, yaitu kawasan-kawasan yang ditetapkan untuk melindungi kelestarian dan fungsi lahan basah di dunia.

Ini merupakan komitmen Pemerintah Indonesia atas Konvensi Ramsar (The Convention on Wetlands of International Importance, especially as Waterfowl Habitat). Yaitu perjanjian internasional untuk konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara berkelanjutan.

Kegiatan Kunjungan Jurnalistik dan Kunjungan Tematik Bakohumas akan melakukan kunjungan lapangan dengan mengunjungi Camp Leakey yang merupakan merupakan pusat rehabilitasi Orang utan yang berdiri di dalam kawasan TNTP.

KLIK INI:  Memerangi Jerat yang Menjerat Harimau Sumatera
Editor: Ian Konjo
Sumber: ppid.menlhk.go.id

KLIK Pilihan!