Banjir Kalsel, Akumulasi Kerusakan Lingkungan

oleh -188 kali dilihat
Banjir Kalsel, Akumulasi Kerusakan Lingkungan
Banjir di Kalsel yang cukup parah beberapa waktu lalu - Foto/Ist
Noor Hasanah

Klikhijau.com – Awal tahun 2021 menjadi sejarah yang mencekam untuk warga Kalimantan Selatan (Kalsel). Provinsi yang memiliki 11 kabupaten dan 2 kota tersebut, semua wilayahnya terdampak banjir.

Tinggi air di pemukiman warga ada yang mulai dari sebetis hingga ada yang mencapai atap rumah. Kondisi tersebut benar-benar mencekam.

Banyak kerugian yang dialami oleh warga. Ada puluhan ribu rumah yang terendam, puluhan jembatan rusak (di antaranya terputus), dan lahan pertanian yang gagal panen.

Di tengah pandemi Covid-19 yang menuntut untuk disiplin memakai masker, saling jaga jarak fisik, tidak berkerumun, menjaga higienitas, dan membatasi mobilitas. Boro-boro hal tersebut dapat dilakukan, untuk duduk nyaman diam di tempat saja sangat sulit. Karena sejauh mata memandang hanya air yang nampak. Semua dikelilingi oleh air banjir.

KLIK INI:  Kisah-Kisah Sang Penakluk Bumi
Perdebatan

Tidak dipungkiri bahwa memang terjadi curah hujan yang ekstrem pada saat banjir besar di Kalimantan Selatan. Namun faktor lain juga tidak dapat dikesampingkan. Rasanya tidak pas jika kita hanya menyalahkan curah hujan, tanpa mengevaluasi diri.

Kita tahu bahwa memang sifat air akan mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah. Jika resapan air tidak memadai, maka otomatis air akan terus-menerus mengalir ke dataran yang lebih rendah.

Ibarat kata, jika terjadi hujan di gunung, airnya akan turun gunung. Dalam hal ini, hutanlah yang berfungsi sebagai resapan air. Ketika hutan sebagai resapan air tidak berfungsi secara maksimal, maka bisa dipastikan akan muncul bencana banjir.

Pembukaan lahan yang masif, alih fungsi lahan, penggalian tambang, deforestasi, layak untuk dilirik sebagai pemicu banjir. Semuanya tersebut menyumbangkan kerusakan alam, karena tatanan lingkungan yang tidak seimbang. Bagaimanapun, banjir besar terjadi karena akumulasi dari kelestarian alam yang terganggu.

Deforestasi menjadikan kerusakan alam adalah nyata. Sejumlah akibatnya adalah pemanasan global, efek rumah kaca hingga banjir. Momen banjir 2021 ini menjadi catatan penting bagi warga Kalsel untuk disiplin menjaga alam dan kelestarian hutan.

KLIK INI:  Kokoknya Dianggap Mengganggu, Seekor Ayam Jago Disidang di Prancis

Dilansir oleh Kompas.com (21/01/21), Manajer Kampanye Walhi Kalimatan Selatan, M. Jefri Raharja menyebut bahwa banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan merupakan bencana ekologi. Alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan sawit semakin meningkat dari tahun ke tahun. Ditambah lagi dengan maraknya penambangan batubara.

Demikian juga laporan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang dilansir bbc.com (20/01/21) menyampaikan analisisnya bahwa banjir ini disebabkan oleh tingginya curah hujan juga karena berkurangnya lahan hutan primer dan sekunder dalam kurun waktu 10 tahun belakangan. Kondisi kemudian diikuti dengan penurunan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito.

Atas analisa di atas, pemerintah memiliki bantahan. Bahwa banjir di Kalimantan Selatan adalah dikarenakan cuaca, yaitu curah hujan yang ekstrim.

Saatnya Kalsel berbenah

Memulihkan kondisi pasca banjir tentu bukan hal yang mudah dan cepat. Terlebih untuk provinsi Kalimantan Selatan yang seluruh wilayahnya terdampak banjir. Kerusakan bangunan dan sampah ada di mana-mana.

Namun bencana banjir ini setidaknya menjadi momen tepat bagi pemerintah dan seluruh elemen warga Kalimantan Selatan untuk berbenah. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu:

KLIK INI:  5 Februari, Sejarah Penemuan Plastik Sintesis dan Kisah-kisahnya

Pertama, rehabilitasi hutan. KLHK menyebut luas hutan alam di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito mengalami penurunan sebanyak 55.5% selama kurun waktu 1990 – 2000. Terbayang ‘kan jika saat ini angka tersebut kemungkinan meningkat? Sangat jelas jika resapan air semakin berkurang.

Kedua, kampanye melestarikan lingkungan oleh para pejabat daerah. Menjaga lingkungan adalah sikap. Memulainya perlu diinisiasi oleh para pejabat daerah sehingga aksi menjaga kelestarian hidup menjadi habit. Misalnya dengan mendisiplinkan warga untuk tidak membuang sampah sembarangan. Pembangunan daerah tidak semata-mata tentang peningkatan pertumbuhan ekonomi dan bisnis, tetapi juga terkait dengan tata kelola lingkungan sehingga warga dapat merasakan kenyamanan dan keamanan berada di wilayahnya.

Ketiga, pemerintah perlu mengevaluasi pemberian izin tambang dan perkebunan kelapa sawit. Jika ada terbukti operasi pertambangan dan perkebunan kelapa sawit yang memicu terjadinya banjir, maka perlu tegas untuk mencabut izinnya. Alih fungsi lahan secara terus-menerus membuat infrastruktur ekologis sudah tidak memadai untuk menampung air dalam debit yang sangat tinggi.

Keempat, rancang tata kelola ruang perlu diperbaiki. Perhatikan drainase, keberadaan taman kota, Taman Hutan Raya, dan lain-lain yang berkaitan. Kawasan padat penduduk dan pasar juga perlu ditertibkan. Ciptakan Kalimantan Selatan yang indah.

Kelima, siap dan tanggap bencana. Bukan berarti siap untuk banjir lagi, melainkan waspada jika suatu saat akan terjadi banjir lagi. Berdasarkan kajian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa Kalimantan Selatan adalah wilayah yang beresiko banjir. Maka siapapun yang akan menjadi pemimpin daerahnya, setidaknya sigap dalam merespon dan menanggulangi banjir. Jangan sampai Kalsel menderita bencana ekologis lagi.

Keenam, tidak hanya fokus pada pembenahan infrastruktur secara fisik, pemerintah juga perlu mendampingi warga dengan program pemulihan psikologis pasca banjir. Sebab banjir besar ini sedikit banyak telah memberikan pengalaman traumatis tersendiri bagi warga.

Bagaimanapun, ada hukum aksi reaksi di dunia ini. Ada hukum sebab akibat. Memang banjir itu sudah menjadi kehendak Tuhan, tetapi sebagai manusia kita layak berikhtiar untuk menjaga keseimbangan alam, menihilkan potensi banjir dan bencana lainnya. Setidaknya ancaman bahaya banjir sudah diantisipasi dengan ikhtiar menjaga lingkungan.

KLIK INI:  Memeluk Pohon, Cara India Mencintai Bumi