Bangun Jejaring Kerja, Dirjen KSDAE KLHK Gelar Pertemuan Anggota Taman Warisan ASEAN 

oleh -47 kali dilihat

Klikhijau.com – Direktorat Jenderal (Dirjen) Konservasi Sumber daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan dukungan Small Grant Program (SGP) Indonesia, gelar ASEAN Heritage Parks (AHP) Indonesia Network Meeting di Makassar.

Pertemuan manager AHP se-nusantara ini berlangsung di Swiss-BelInn Hotel, Makassar, pada tanggal 9 – 12 Agustus 2022.

Sedikitnya 40 peserta pertemuan turut hadir. Ada 7 pengelola taman nasional yang menjadi anggota AHP menjadi peserta wajib.

Ketujuh peserta pengelola tersebut di antaranya: berasal dari Taman Nasional Lorentz, Taman Nasional Wakatobi, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Taman Nasional Kepulauan Seribu, Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Gunung Leuser.

KLIK INI:  Pengelolaan Sampah untuk Pengendalian Perubahan Iklim

Turut hadir juga perwakilan ASEAN Center of for Biodiversity (ACB) , pengelola AHP. ACB yang berkantor berpusat di Filipfina.

Beberapa perwakilan ACB yang hadir berkewarganegaraan Filifina, Vietnam, dan Indoensia.

Tak ketinggalan hadir perwakilan dari direktorat lingkup Dirjen KSDAE juga hadir: yaitu Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik (KKHSG) selaku focal point ASEAN Working Group on Nature Conservation and Biodiversity (AWGNCB), Direktorat Pengelolaan Kawasan Konservasi, Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi, dan Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi.

Ir. Yusak Mangetan, M.AB., selaku Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memberi sambutan sebagai tuan rumah. Yusak nampak elegan dengan pakaian adat Bugis-Makassarnya.

KLIK INI:  Masa Depan Penerapan Green building di Indonesia?

Direktur KKHSG membuka pertemuan secara daring. Sejumlah peserta pertemuan juga turut bergabung secara online. Termasuk Dr Theresia Mundita Clarissa Arida, Direktur Exekutif Pengembangan Program dan Implementasi Unit ACB, juga menyampaikan sambutannya melalui aplikasi Zoom.

“Pertemuan jejaring kerja anggota AHP ini adalah yang pertama. Tak hanya perdana di Indonesia, namun juga untuk yang pertama kalinya dilakukan di tingkat nasional bagi anggota AHP di Asia Tenggara. Semoga melalui pertemuan ini memupuk kebersamaan untuk mencapai tujuan bersamabersama,” pungkas Indra Exploitasia, Direktur KKHSG.

Pertemuan sehari penuh pada tanggal 10 Agustus 2022, memberi pemahaman perkembangan baru tentang pengelolan AHP.

Taman warisan ASEAN ini menjadi kebanggaan atas pengakuan internasional di tingkat negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN.

Pertemuan tersebut juga menjadi momen membahas draft Rrencana Aaksi anggota AHP Indonesia ke depan.

“Saya sangat bersyukur karena ke-7 manager AHP hadir dan memberi masukan berharga untuk kesempurnaan draft Rencana Aksi AHP Indonesia.

Termasuk juga diskusi menarik tentang program dan dukungan yang dibutuhkan oleh AHP baik dari segi program, dukungan finansial maupun teknis,” ujar Badi’ah, Kepala Sub Direktorat Pengawetan Spesies dan Genetik, KKHSG.

KLIK INI:  Asa Gajah Sumatra Dibahas Belantara Foundation di FISIP UIN Raden Patah Palembang

Pada sesi yang berbeda juga membahas rencana Konferensi AHP ke-7 yang akan dihadiri. Agenda rutin ACB pada pertemuan seluruh pengelola anggota AHP se-Asia Tenggara akan berlangsung pada Oktober 2022 mendatang. Indonesia akan menjadi tuan rumah gelaran akbar tersebut.

“Kita akan menjadi tuan rumah pertemuan ke tujuh seluruh anggota AHP di Jakarta. Sekitar 300 orang partisipan akan terlibat,” tambah Badi’ah.

Pada hari berikutnya, peserta pertemuan kemudian melakukan kunjungan lapangan ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Menjelajahi kawasan wisata Pattunuang, kawasan wisata Bantimurung dan Desa Wisata Rammang-rammang.

KLIK INI:  Menanti Hasil Komitmen Indonesia Kurangi Sampah Laut

Peserta begitu menikmati field trip ini, melihat lebih dekat Tarsius fuscus di Pattunuang, menikmati kesejukan air terjun Bantimurung, dan berswafoto di Rammang-rammang. Tentunya peserta dari segenap penjuru tanah air ini juga mengambil pelajaran dari tata kelola kawasan wisata.

Apalagi Rammang-rammang yang sepenuhnya dikelola komunitas masyarakat lokal.

Rammang-rammang secara ekologis tak terpisahkan dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung karena menjadi kesatuan dari Kawasan Karst Maros Pangkep.

Karenanya pihak pengelola pun juga mengetahui progres penetapan taman nasional yang wilayahnya berada di kabupaten itu sebagai taman warisan ASEAN alias ASEAN Heritage Park.

Perwakilan ACB nampak menikmati kunjungan lapangan. Terkesan dengan perjumpaan Tarsius dan alam indah Pattunuang. Bantimurung apalagi. Deru desir air terjun begitu menghibur.

Apalagi dengan air jernihnya berpadu vegetasi mengijau dari bukit kapur yang mengepung. Tepat di Danau Kassi Kebo, tarian kupu-kupu warna-warni mereka nikmati. Membuktikan bahwa tak sekedar buaian informasi dari dokumen yang mereka baca selama ini.

“Semoga melalui pertemuan kita kali ini memicu untuk terus menjalin komunikasi dan kerja sama ke depan. Karena kita semua tahu bahwa konservasi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati bukanlah pekerjaan instan. Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Konservasi membutuhkan dukungan dari anggota AHP lain, direktorat terkait di KSDAE, pemerintah daerah, masyarakat lokal dan mitra lainnya. Membutuhkan mereka untuk bahu-membanhu melindungi satwa liar dan pada saat yang sama untuk meningkatkan mata pencaharian masyarakat sekitar taman warisan,” tutup Badi’ah.

KLIK INI:  Ini 5 Arah Pembangunan LHK TA 2020 Mendatang