Baik Plastik Maupun Kertas, Dampaknya 11-12 terhadap Perubahan Iklim

oleh -24 kali dilihat
Baik Plastik Maupun Kertas, Dampaknya 11-12 terhadap Perubahan Iklim
Ilustrasi seekor burung mencari makan di tempat sampah - Foto/Pixabay

Klikhijau.com – Planet bumi berada diambang kritis dengan dua masalah besar yakni perubahan iklim dan lenyapnya keanekaragaman hayati.

Kita kehilangan sejumlah spesies dari waktu-waktu yang mengancam ekosistem. Di satu sisi, suhu bumi terus meningkat akibat pemanasan global yang juga berdampak pada ragam masalah seperti ancaman krisis pangan.

Diantara pemicu masalah ini antara lain adalah beban sampah plastik. Sejauh ini sampah plastik secara global bahkan telah mengancam ekosistem di lautan.

Selain plastik, beban penggunaan kertas rupanya juga berdampak pada perubahan iklim. Jadi, baik plastik ataupun kertas, dampaknya beda tipis terhadap perubahan iklim.

Merespons hal ini ini, pegiat lingkungan global dari 188 kelompok lingkungan telah meminta pemilik kebijakan dan pelaku bisnis untuk mengubah sistem mereka terkait produk plastik dan kertas sekali pakai.

KLIK INI:  Bagaimana Menangani Perubahan Iklim dan Hilangnya Keanekaragaman Hayati?  
Tanggungjawab produsen

Berdasar data, sejumlah produk makanan, peralatan makan-minum yang tak dapat didaur ulang menyumbang sekira 2 miliar ton limbah setiap tahunnya. Hal ini tentu berbahaya bagi lingkungan bahkan dapat mengancam ekosistem.

Dikutip dari Intelligetliving, pola konsumsi masyarakat dunia mengalami perubahan sejak 1970-an yang ditandai dengan pemakaian produk kemasan sekali pakai (single use). Sejak dekade ini, volume limbah mengalami kenaikan drastis, bahkan diprediksi meningkat tajam hingga 70 persen di tahun 2050 nanti.

Faktanya, upaya daur ulang belum sepenuhnya massif terjadi. Pemerintah di Indonesia misalnya melalui KLHK sedang menggenjot peran bank sampah untuk mengatasi buangan sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Sayangnya, progres bank sampah masih terbatas di kota-kota.

Limbah rumah tangga dan sampah plastik misalnya masih banyak yang salah kelola seperti dibakar, di buang ke alam atau ke sungai dan laut. Akibatnya, sampah-sampah yang terbuang kini telah mengancam ekosistem dan kesehatan manusia.

Tren ini sejatinya sudah cukup sebagai alasan, mengapa banyak pihak mendesak agar para produsen memikirkan suatu produk yang baru yang aman bagi lingkungan.

KLIK INI:  KLHK Uji Coba Alat Pengukur Tinggi Gelombang, Ini Fungsinya!

Von Hernandez, Koordinator Aksi Break Free From Plastic (BFFP) global, mengatakan, saatnya semua pihak mendesak perusahaan dan industri yang karena aktivitasnya memicu krisis iklim agar melakukan langkah penyelamatan yang serius.

Bagi Von, kita membutuhkan suatu langkah serius agar produk kemasan dibuat dengan tidak berdampak pada masalah lingkungan.

Sementara itu, Scot Quaranda, Direktur Komunikasi Dogwood Alliance, mengatakan, selama ini plastik memang mengontaminasi lingkungan. Tetapi, kertas juga berdampak sama.

Menurut Scot, kertas dibuat dengan tetap mengeksploitasi banyak kayu hutan. Ini sama dengan membahayakan pertahanan kita melawan perubahan iklim. Tak hanya merusak kelestarian hutan, tetapi juga mengancam komunitas warga di lingkungan pabrik akibat polusi yang dihasilkan.

Mengapa plastik dan kertas?

Seperti diketahui, plastik merupakan hasil dari ekstraksi bahan bakar fosil. Sebelum dan sesudah menjadi limbah, plastik diketahui mengandung mikropartikel yang bahkan bisa ditemukan di pelosok bumi.

KLIK INI:  Belajar Kisah Heroik Perempuan dari Pegunungan Kendeng

Mikropartikel ini yang berpotensi membahayakan mahluk hidup, meskipun dampaknya masih terus diteliti. Setiap proses produksi plastik bahkan ditengarai memicu emisi.

Lalu, bagaimana dengan kertas? Tidak jauh beda alias 11-12 rupanya. Dalam setiap produksi kertas juga dapat memicu emisi karbon.

Selain itu, bahan dasar kertas dapat menyebabkan terjadinya eksploitasi di hutan. Padahal, hutan sendiri merupakan penyerap karbon. Ini artinya produksi kertas juga mengancam sumber daya dan menyebabkan naiknya emisi.

Untuk diketahui, ada 3 miliar batang pohon telah ditebang setiap tahunnya untuk memenuhi produksi kertas global khususnya untuk produk pengemasan. Kalkulasi ini dapat meningkat tajam hingga 20 persen dalam lima tahun ke depan.

Sekali lagi, baik kertas maupun plastik sekali pakai sama-sama menyisakan masalah pada lingkungan. Proses produksi keduanya meemerlukan energi yang besar, bahan kimia, dan juga air yang besar.

Karena itu, upaya kolektif perlu dilakukan untuk menangani masalah limbah. Hal ini patut jadi perhatian bersama, setidaknya dengan tetap merujuk pada kesepakatan Paris dan target keragaman hayati.

Sejauh ini, upaya-upaya penanganan plastik dan kertas memang masih dalam skala kecil. Pihak industri dan mungkin pada level kebijakan diperlukan untuk memperluas skala penanganan plastik dan kertas sekali pakai. Penerapan ekonomi sirkular rupanya perlu diterapkan untuk menyelamatkan bumi dari krisis iklim.

KLIK INI:  Konflik Agraria dan Banjir Konawe Utara