Bahaya, Sampah Antariksa Mengancam Bumi?

Publish by -39 kali dilihat
Penulis: N Yahya Yabo
Ilustrasi sampah antariksa/foto-Liputan6.com

Klikhijau.com – Dunia antariksa sangat penting dan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari manusia. Mulai dari alat untuk mengoperasikan satelit, sinyal ponsel, sinyal televisi, pemantauan bencana hingga mengorbitkan roket ke luar angkasa. Semua dikendalikan satelit yang berada di antariksa. Kehilangan satelit adalah masalah serius.

Tetapi hal yang akan mengejutkan akan terjadi ketika kita tahu bahwa beberapa ‘sampah antariksa’ telah mencemari luar angkasa kita atau antariksa. Sampah antariksa adalah objek yang ada di sekitar orbit bumi yang diciptakan manusia yang tidak berguna lagi.

Beberapa sampah dihasilkan dari sampah alami, yaitu sampah yang memang berasal dari luar angkasa semacam debu, fragmentasi ledakan hingga partikel terkecil. Dan juga sampah yang dibuat manusia yaitu ‘satelit bekas’ dan sejenisnya.

KLIK INI:  2030 Taiwan Bebas dari Sampah Plastik, Indonesia Kapan Ya?

Dari satelit-satelit itulah sampah dihasilkan oleh manusia. Dari satelit yang sudah tidak berfungsi lagi dan juga dari roket pendorong yang akan menjadi sampah antariksa.

Dikutip dari bbc.com/Indonesia, bahwa ada lebih dari setengah juta sampah yang tak sampai sebesar kelereng, dan lebih dari 20.000 seukuran bola kasti atau lebih besar lagi yang berserakan di orbit bumi. Sampah-sampah yang lebih besar itu mulai dari sarung tangan astronot sampai pesawat ruang angkasa nonaktif atau bekas pendorong roket. Tapi ukuran tidak selalu sebanding dengan potensi bahayanya.

Dari data sampah itu saja bisa dibayangkan bagaimana sesaknya orbit bumi saat ini oleh sampah antariksa yang juga bisa menjadi ancaman di bumi nantinya.

Juga ada risiko yang dikenal sebagai Sindrom Kessler atau Efek Kessler, ketika satu bagian sampah pecah dan menghantam sampah lainnya sehingga menjadi rangkaian tabrakan, yang akhirnya mengotori seluruh area orbit sehingga berbahaya bagi satelit.

KLIK INI:  Asyik, Sampah Bisa Ditukar Emas di Pegadaian

Inilah akan dampak dari sampah-sampah antariksa jika Efek Kesser terjadi kedapannya. Karena tidak ada yang mengawasi sampah-sampah itu.

Jumlah sampah antariksa meningkat tajam pada 2007, ketika Cina dengan sengaja menghancurkan satelit cuaca Fengyun-1C dalam rangka uji coba senjata anti satelit. Dua tahun kemudian, satelit komunikasi Amerika Iridium 33 bertabrakan dengan pesawat antariksa Rusia Cosmos 2251 yang sudah tak terpakai. Konsekuensi dari kedua insiden ini masih dirasakan bertahun-tahun kemudian. (bbc.com/Indonesia)

Dengan banyaknya sampah antariksa yang ada, beberapa badan antariksa luar negeri mencari cara untuk mengatasinya.

Empat teknologi kunci akan diuji coba, kata Guglielmo Aglietti, direktur Pusat Antariksa Surrey di Inggris, yang mengoordinasikan misi tersebut. Teknologi ini antara lain sistem navigasi visual, jaring dan harpun untuk menangkap sampah, dan semacam layar untuk melambatkan sampah dan mengubah orbitnya sehingga jatuh ke atmosfer Bumi.

Ini beberapa cara para pakar yang dilakukan untuk mengurangi sampah antariksa yang ada. Sehingga nantinya akan bisa menanggulangi bahaya di bumi.

KLIK INI:  Kok Bisa Stasiun MRT Jakarta Tak Sediakan Tempat Sampah?

Jika REMOVEdebris sukses, ini akan menjadi awal misi lainnya. “Kita bisa menunjukkan bahwa pembersihan sampah antariksa bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi berbiaya relatif rendah,” kata Aglietti, “dan karena itu kami berharap perusahaan swasta dapat mengikuti dan melakukan pembersihan sampah yang memberikan ancaman paling tinggi,” dikutip dari bbc.com/Indonesia.

Senada dengan itu, ahli astrofisika Dr. Hauke Fiedler menjelaskan: “Jika sampah luar angkasa tidak disingkirkan, maka suatu saat akan terjadi ledakan dashyat dari benda-benda tersebut. Saat ini ada sekitar 28.000 bagian dari satelit dan roket yang melayang di orbit bumi. Suatu saat jumlahnya akan semakin banyak dan sulit bagi satelit untuk bisa mengitari orbit,” dikutip dari dw.com/Indonesia.

Menguji teknologi pada serpihan sampah simulasi yang terkontrol adalah langkah yang penting. Tahap selanjutnya, yaitu menggunakan teknologi pada sampah betulan yang tidak terkendali, akan lebih kompleks dan badan antariksa Eropa Esa mengusulkan kepada negara-negara anggotanya untuk meluncurkan misi bernama e.deorbit pada akhir 2019.

“E.deorbit akan menunjukkan bahwa kami dapat menyingkirkan obyek tak terkontrol dari orbit dengan aman,” kata Holger Krag, kepala divisi sampah antariksa Esa. “Obyek tersebut bisa jadi satelit Esa yang tak lagi berfungsi dan tak lagi merespon komando dari darat. Untuk pertama kalinya, kami akan menerapkan teknologi ini untuk menyasar satelit betulan.”

Langkah-langkah itu harus tetap didukung untuk mengurangi bahaya sampah antariksa yang sampai saat ini memang masih belum terasa tetapi akan berdampak di masa yang akan datang.

KLIK INI:  ADUPI Angkat Suara Soal Pelarangan Sampah Plastik, Begini Poin Aspirasinya!
Editor: Irhyl R Makkatutu
Sumber: Berbagai sumber

KLIK Pilihan!