Araceae, Tumbuhan Potensial yang Terancam Degradasi Hutan

Publish by -2.950 kali dilihat
Penulis: Idris Makkatutu
Araceae, Tumbuhan Potensial yang Terancam Degradasi Hutan
Araceae, Tumbuhan Potensial yang Terancam Degradasi Hutan/foto -themorningbulletin

Klikhijau.com –  Araceae bukanlah tumbuhan yang asing di Indonesia. Masyarakat sudah membudidayakan serta memanfaatkannya sejak lama.

Tumbuhan ini mempunyai nilai guna tinggi, baik dari segi ekonomi dan ilmiah. Pemanfaatan tumbuhan ini oleh masyarakat di antaranya sebagai tanaman hias, sumber pangan, dan obat-obatan (Suci Maretni dkk, 2017).

Suci Maretn dkk juga mengungkapkan jika tumbuhan ini merupakan tumbuhan herba yang memiliki bentuk daun bervariasi, sebagian besar berumbi, memiliki bunga majemuk tipe tongkol (spadix) yang diselubungi seludang (spathe), tipe perbungaan uniseksual atau biseksual, serta dapat tumbuh sepanjang tahun.

Sementara itu, Khalisa Aini Sinaga, dkk (2017) membeberkan, famili araceae terdiri dari 110 marga, yang meliputi 3.200 jenis. Famili Araceae termasuk suku talas-talasan yang mencakup herba terestrial (darat),mengapung di perairan (akuatik), dan merambat pada pepohonan (epifit).

KLIK INI:  Bunga Nusa Indah dan Ragam Fakta Mengejutkan di Baliknya

Sementara  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membeberkan saat ini terdapat lebih dari 600 jenis araceae di Indonesia. Hutan di Indonesia menyimpan keanekaragaman jenis tumbuhan ini yang tersebar di setiap pulaunya.

Terancam degradasi hutan

Namun demikian, menurut Ni Putu Sri Asih, peneliti Araceae di Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya “Eka Karya” Bali dari LIPI. Meski status araceae di habitat aslinya, khususnya di hutan Indonesia masih mudah ditemukan, tetapi ancaman degradasi hutan berpotensi merusak habitat araceae di alam.

Selain itu,  studi populasi mengenai tumbuhan yang mudah tumbuh ini masih terbatas, sehingga status konservasinya belum teridentifikasi dengan baik.

“Kalimantan adalah surga bagi berbagai jenis Araceae, namun potensinya masih perlu dieksplorasi,” ungkap Asih belum lama ini.

Asih juga mengatakan jika masyarakat lebih mengenal araceae sebagai tanaman pangan, terutama dari jenis amorphophallus atau suweg, porang, dan talas (Colocasia esculenta). Ada pula Cyrtosperma merkusii yang digunakan sebagai salah satu makanan pokok di Sulawesi Utara.

Potensi araceae sebagai tanaman pangan menurut (Khalisa Aini Sinaga dkk, 2017) tidak didukung dengan penelitian yang memadai.  Penelitian mengenai karakteristik Araceae di Indonesia masih terbatas, padahal Indonesia memiliki tingkat keanekaragaman araceae yang tinggi.

Kurangnya informasi mengenai manfaat  tumbuhan ini menyebabkan masyarakat tidak minat dan tidak melakukan budidaya araceae. Padahal tumbuhan ini memliki potensi pengambangan di bidang pangan sebagai diversifikasi pangan lokal dalam memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap kurangnya pasokan beras.

KLIK INI:  Anda Demam? Jangan Terburu-Buru Minum Obat!

Apalagi di masa pandemi, di mana pemerintah mulai mengimbau gerakan ketahanan pangan bagi masyarakat, tumbuhan ini bisa menjadi solusi bagi cadangan karbohidrat selain beras.

“Masyarakat bisa mengolah umbinya sebagai campuran beras, penganan rebusan, serta diolah menjadi kue,” imbuh Asih.

Diminati sebagai tanaman hias

Ni Putu Sri Asih yang merupakan peneliti araceae di Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya “Eka Karya” Bali, tumbuhan ini tidak hanya berpotensi sebagai tanaman pangan dan obat. Namun juga berpotensi sebagai tanaman hias.

Apalagi tumbuhan ini mudah dikenali dengan bentuk daun dan coraknya yang beraneka, serta memiliki bunga tongkol yang seludangnya berwarna-warni.

KLIK INI:  Langka dan Menakjubkan, Peneliti Temukan Cumi-cumi Raksasa

Dipilihnay tumbuhan talas-talasan ini sebagai tanaman hias karena masyarakat  tertarik dengan bentuk daunnya dan perawatan yang relatif mudah.

Karena itulah, tidak usah heran melihat tumbuhan ini  menjadi tanaman hias favorit untuk berkebun di masa pandemi Covid-19.

“Sebagian besar araceae hidup di dataran rendah hingga sedang, ia hanya memerlukan habitat hidup berhumus, porous dan lembab,” jelas Asih.

Di Indonesia, ada beberapa   jenis tumbuhan ini yang termasuk endemik— yang berpotensi sebagai tanaman hias antara lain berbagai jenis alocasia, spathiphyllum, schismatoglottis, rhaphidophora, scindapsus, dan homalomena.

“Araceae asli Indonesia ini umumnya memiliki bentuk daun yang unik, tidak kalah cantik dengan monstera, jenis araceae dari luar negeri yang sedang naik daun,” tambah Asih.

Sementara untuk potensi obat, Asih mengatakan jika hal ini masih perlu diteliti.  “Selama ini pengetahuan mengenai potensinya sebagai obat justru berasal dari kearifan lokal yang berkembang di masyarakat, misalnya alocasia longiloba bisa dimanfaatkan sebagai obat luka. Ini bisa menjadi peluang bagi peneliti untuk mendalami potensinya,” jelas  Asih.

Sebagai tumbuhan yang memiliki potensi. Asih berharap tumbuhan ini bisa dijaga masyarakat yang mengambilnya  di alam tetap memiliki kesadaran untuk melestarikannya bagi generasi mendatang.

KLIK INI:  BBKSDA Perkenalkan Talaparusi ke Desa Cakura
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!