Apa Urgensinya Segera Dibentuk Tim Pencari Fakta Banjir Masamba?

Publish by -98 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Apa Urgensinya Segera Dibentuk Tim Pencari Fakta Banjir Masamba
Potret beberapa hari pasca banjir Masamba - Foto/Ist

Klikhijau.com – Banjir bandang yang terjadi di Masamba, Kabupaten Luwu Utara pada 13 Juli 2020 lalu memang menakutkan. Kengerian banjir bandang Masamba, membawa trauma mendalam bukan hanya bagi warga Luwu Utara tapi juga masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya.

Terlebih puluhan korban jiwa dan korban hilang maupun kerusakan bangunan, menambah deretan luka di Masamba. Pasca banjir bandang, beragam spekulasi bermunculan. Ada yang menyebut sekadar banjir biasa akibat curah hujan tinggi, sebagian lagi dengan tegas mengaitkan dengan dampak alih fungsi lahan.

Dari temuan lapangan, dokumentasi media dan foto serta video yang beredar luas ke masyarakat membuktikan betapa parahnya kondisi alam pegunungan yang menjadi sebab banjir di Luwu Raya, mencakup Luwu Utara, Palopo, Luwu Timur, Luwu dan Tanah Toraja.

Kondisi inilah yang disikapi Lembaga SAR Metamorfosis, Pospera Makassar (Posko Perjuangan Rakyat) dan LKBH Makassar (Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Makassar) secara bersama-sama melihat adanya kerusakan alam dan lingkungan pegunungan, hutan, DAS (daerah aliran sungai) dari hulu hingga ke muara, yang diduga kuat adanya pola perambahan dan sentuhan manusia yang tidak bertanggung jawab.

KLIK INI:  Seringnya Bencana Terjadi di Indonesia Akibat Perubahan Iklim

“Banyaknya kayu gelondongan dan pohon yang terbawa arus banjir, menandakan adanya tindakan manusia yang merusak lingkungan, mengakibatkan tanah menjadi gembur dan mudah terbawa arus air hujan yang mengakibatkan air mengalir dalam jumlah besar dan deras,” ungkap Muhammad Rizal Basri, Ketua Lembaga SAR Metamorfosis, saat siaran pers, Rabu, 29 Julu 2020.

Belum lagi melihat material tanah dan lumpur yang terbawa, volumenya sangat besar, mengakibatkan banyak rumah warga tenggelam lumpur dan tanah hingga 2 meter.

“Tanah dan lumpur banjir bandang Masamba itu menandakan, cakupan area lahan hutan dan DAS yang cukup luar telah gundul, tidak ditanami pohon, serta pohon yang dulu berada diatas area tersebut telah habis ditebang,” ungkap Muhammad Sirul Haq, Ketua Pospera Makassar yang juga Direktur LKBH Makassar.

Urgensi pembentukan TPF

Parahnya dampak banjir itu dan agar tidak terulang lagi, Lembaga SAR Metamorfosis, Pospera Makassar dan LKBH Makassar mendesak Gubernur Sulawesi Selatan agar membentuk TPF (Tim Pencari Fakta) banjir bandang Masamba.

KLIK INI:  Sungai Meluap, Sejumlah Rumah Terendam di Yogyakarta

“TPF ini sangat berfungsi untuk menggali lebih detail apa penyebab banjir bandang Masamba agar tidak hanya sebuah simpang siur dan berfungsi ke depan agar banjir tersebut tidak terjadi lagi,” tutur Muhammad Rizal Basri di Basecamp Lembaga SAR Metamorfosis dibilangan jalan Arung Teko nomor 35 Sudiang.

Apa urgensinya TPF dibentuk? Menurut Sirul Haq, TPF ini nantinya berfungsi untuk memetakan kerugian dampak banjir, trauma warga, dan pemetaan ulang area pemukiman agar jika terjadi banjir lagi tidak menimbulkan kengerian dan kerugian maha dahsyat ini.

Koalisi Lembaga SAR Metamorfosis, juga menegaskan bahwa kehidupan yang layak dan nyaman adalah hak dasar warga negara yang harus dijamin oleh pemerintah. Oleh sebab itu, pihaknya meminta agar Gubernur Sulsel cepat tanggap merespon hal ini.

Masalah alih fungsi lahan

Berdasarkan Peta Bahaya Bencana Banjir Bandang yang dimiliki BNPB (InaRISK), Luwu Utara merupakan kabupaten yang memiliki risiko bahaya sedang dan tinggi. Potensi bencana ini hampir berada di seluruh wilayah sepadan sungai, tidak terkecuali pada enam kecamatan terdampak.

KLIK INI:  Jumlah Hotspot Naik, Masyarakat Diimbau Tingkatkan Kewaspadaan

Doni Monardo, Kepala BNPB menyatakan, ada alih fungsi hutan jadi lahan untuk pertanian dan pertambangan di hulu, yakni, di bagian atas Gunung Lero.

Melansir Tempo, Kepala Pusat Studi Kebencanaan Unhas dan Pakar Petrologi dan Geologi Prof Dr Eng Adi Maulana ST MPhil, di Makassar (Jumat 17 Juli 2020), mengatakan potensi bencana di Sulsel sejak 2019 memang tinggi, terutama Luwu Utara, khususnya daerah Masamba dan sekitarnya.

Pembukaan lahan menyebabkan tanah menjadi rentan terhadap erosi permukaan, dan menyebabkan berkurangnya vegetasi. Akibatnya tanah di bagian hulu menjadi jenuh dan tidak mampu lagi untuk menyerap air hujan dengan baik (presipitasi menjadi semakin berkurang).

Terbukanya lahan juga menyebabkan proses erosi semakin tinggi dan menghasilkan tumpukan material sedimen yang semakin besar mengisi saluran sungai dan terendapkan pada dasar sungai, menjadikan kapasitas atau volume sungai menjadi berkurang atau terjadi pendangkalan.

“Kondisi ini menyebabkan ketika terjadi hujan deras dalam waktu yang singkat, maka banjir akan terjadi. Banjir terjadi dengan cepat atau yang sering disebut dengan banjir bandang,” katanya pula.

KLIK INI:  Kisah Pilu dari Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa
Editor: Ahmad Fikri

KLIK Pilihan!