Apa Itu COP26? Apa Kaitannya dengan Isu Perubahan Iklim?

oleh -60 kali dilihat
Apa Itu COP26 Apa Kaitannya dengan Isu Perubahan Iklim
Jokowi di KTT COP26. ©2021 Biro Pers Sekretariat Presiden

Klikhijau.com – Beberapa hari terakhir, pemberitaan mengenai pertemuan internasional bernama COP26 sangat ramai jadi isu media. Di balik ini, banyak pula yang bertanya-tanya perihal COP26 dan apa hubungannya dengan isu perubahan iklim?

Pertemuan internasional COP26 berlangsung di Glasgow antara 31 Oktobe  – 12 November 2021. Forum yang diinisiasi PBB ini menjadi forum para pemimpin dunia dalam membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan perubahan iklim.

Dengan demikian, COP26 menjadi forum harapan bagi banyak orang khususnya pegiat lingkungan karena akan berdampak pada kebijakan global dalam merespons isu perubahan iklim.

Indonesia sendiri telah mengirimkan delegasi terbaiknya dan bergabung dengan lebih dari 30.000 delegasi di seluruh dunia untuk berkontribusi pada forum ini. Mereka adalah para ahli iklim, juru kampanye, pembuat kebijakan, dan pemimpin dunia yang akan membahas mengenai kebijakan global dalam perubahan iklim.

Diperkirakan ada ratusan ribu orang yang akan menghadiri acara sampingan di ‘zona hijau’, ruang pertemuan warga di mana LSM, organisasi dan perwakilan nasional terlibat satu sama lain serta masyarakat umum pada aspek kesadaran lingkungan, dan kesetaraan sosial.

KLIK INI:  Akibat Perubahan Iklim, Gunung Denali Terancam Dibanjiri 60 Ton Tinja Manusia
Apa itu COP26

Kita kembali ke topik awal mengenai apa itu COP26? COP adalah singkatan dari ‘Conference Of Parties’, dan 26 merujuk pada sesi ke-26.

Pada awalnya, UNFCCC diinisiasi pada tahun 1992, ketika 154 negara menandatangani perjanjian baru tentang perubahan iklim. Perjanjian itu mulai berlaku pada tahun 1994.

‘COP iklim’ telah menggelar pertemuan setiap tahun sejak 1995. Pada 2015, Sesi ke-21 COP (COP 21) menjadi momen bersejarah. Hal itu karena di momen itu perjanjian iklim internasional pertama dibuat, dinamai Perjanjian Paris atau lebih populer dengan Paris Agreement.

Salah satu isu krusial dalam forum internasional ini adalah membahas bagaimana menjaga kenaikan suhu di bawah tingkat yang berbahaya serta mencegah krisis iklim yang ditengarai memicu bencana buruk bagi warga rentan di seluruh dunia.

KLIK INI:  Catatan Singkat dari Peringatan Hari Kehati
Apa pentingnya COP26?

Lalu, mengapa COP26 menjadi sangat penting? Berbagai “perpanjangan” UNFCCC telah dinegosiasikan selama COP untuk menetapkan batas produksi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di setiap negara yang kemudian mengikat secara hukum.

Diantaranya Protokol Kyoto pada 1997 yang menetapkan batas emisi untuk negara-negara maju yang harus dicapai pada 2012. Selain itu, ada Perjanjian Paris yang diadopsi pada 2015.

Dalam Perjanjian Paris, negara di dunia sepakat membatasi pemanasan global tidak melebihi 2 derajat Celsius, idealnya 1,5 derajat Celsius, serta meningkatkan pendanaan aksi iklim.

Di bawah Perjanjian Paris, negara-negara berkomitmen untuk memajukan rencana nasional yang menetapkan berapa banyak mereka akan mengurangi emisi mereka yang dinamai Nationally Determined Contributions, atau ‘NDCs’.

Dalam COP26, delegasi juga bertujuan menyelesaikan “Paris Rulebook” atau aturan yang diperlukan untuk mengimplementasikan Perjanjian Paris.

Kali ini, mereka perlu menyepakati kerangka waktu umum untuk frekuensi revisi dan pemantauan komitmen iklim mereka. Dan pada COP26 kali ini merupakan kesempatan penting untuk mewujudkan aturan-aturan guna mencapai Perjanjian Paris.

KLIK INI:  Film Semesta Tayang di Makassar, Balai Perubahan Iklim KLHK Nobar di Nipah Mall

Secara rinci, tujaun COP26 ini antara lain: (1) mendesak pada semua negara 2021 untuk menyerahkan tujuan jangka panjang baru mereka mengenai ambisi untuk mengatasi darurat iklim global; (2) Menyelesaikan pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan oleh COP 25, menetapkan aturan untuk pasar karbon antar negara; (3) Menegaskan implementasi Perjanjian Paris 2015 akan menjadi pendorong utama aksi iklim internasional.

Yang belum tuntas di COP sebelumnya

Negara-negara kaya berkomitmen pada COP15, KTT iklim yang diadakan di Kopenhagen pada tahun 2009, untuk menyediakan setidaknya USD100 miliar setiap tahun dalam dukungan keuangan kepada negara-negara yang paling terpukul oleh darurat iklim.

Janji ini seharusnya telah dipenuhi pada tahun 2020 tetapi pemerintah kaya belum memenuhi janji USD100 miliar.  Negosiator di COP26 harus menetapkan bagaimana komitmen USD100 miliar dipenuhi dan dilampaui di masa depan.

Pendanaan iklim juga harus berbentuk hibah, bukan pinjaman, untuk menghindari memburuknya krisis utang yang dihadapi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

KLIK INI:  Kebijakan Lingkungan dalam Narasi Pisau Bermata Dua
Darurat perubahan iklim

Isu perubahan iklim telah menjelma sebagai darurat global yang mengancam banyak jiwa dalam tiga dekade terakhir. Walau komitmen negara-negara terlihat menguat menjelang COP26, beberapa peneliti memprediksi kenaikan suhu global akan naik 2,7 derajat Celsius pada abad ini. Ini tentu menjadi situasi mengerikan sepanjang usia bumi.

Kenaikan suhu sebesar itu jelas akan memicu terjadinya kerusakan super masif di muka bumi dan memantik terjadinya banyak bencana alam.

Sekjen PBB Antonio Guterres dengan blak-blakan mengatakan sebagai bencana iklim, yang sudah dirasakan hingga tingkat yang mematikan di bagian paling rentan di dunia. Jutaan orang sudah mengungsi bahkan terbunuh oleh bencana yang diperburuk oleh perubahan iklim.

Bagi Guterres, dan ratusan ilmuwan di Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), ambang batas 1,5 derajat Celsius adalah satu-satunya jalan untuk mencegah kerusakan lebih parah di muka bumi.

Jam terus berdetak dan untuk membatasi kenaikan, dunia perlu mengurangi separuh emisi gas rumah kaca dalam delapan tahun ke depan. Inilah misi terbesar para pemimpin yang menghadiri COP26 tahun ini termasuk upaya menghapus batu bara secara bertahap demi impian nol emisi.

Semoga COP26 melahirkan upaya yang lebih serius mengatas ancaman krisis iklim demi kehidupan di masa datang!

*Sumber:

KLIK INI:  Baik Plastik Maupun Kertas, Dampaknya 11-12 terhadap Perubahan Iklim