Alarm untuk Warga Makassar, Kapasitas TPA Antang Hanya Sampai 2020!

oleh -885 kali dilihat
Alarm untuk Warga Makassar, Kapasitas TPA Antang Hanya Sampai 2020!
TPA Tamangapa Antang Makassar - Foto/AYL
Andi Ayatullah

Klikhijau.com – Kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa Antang di Kota Makassar sudah semakin memprihatinkan. Diprediksi hanya mampu menampung sampah hingga akhir tahun 2020.

Untuk diketahui saat ini TPA Antang masih menerapkan sistem terbuka (open dumping). Sistem ini merupakan metode paling sederhana yakni sampah dibuang begitu saja dalam sebuah tempat pembuangan tanpa ada perlakuan apapun.

Pada saat yang sama, beban sampah setiap harinya di Kota Makassar cukup tinggi yakni mencapai 700 ton perhari. Bila tak ada suatu policy penanganan ke depannya, diprediksi Kota Makassar akan mengalami masalah besar dalam penanganan sampah.

PLT Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Andi Iskandar saat ditemui Klik Hijau di TPA Tamangapa Antang, Kamis 13 Agustus 2020, mengakui hal tersebut. Pihaknya sedang memikirkan model penanganan dan solusi yang bisa dilakukan.

KLIK INI:  Barang Bekas dan Sederet Ide Memanfaatkannya agar Lebih Bernilai

“Ini yang harus difikirkan terlebih dulu bagaimana produk sampah yang 700 ton perhari bisa betul-betul ditata dengan baik,” ujar Andi Iskandar

Andi Iskandar menjelaskan opsi sementara ini pemerintah kota Makassar hanya akan melakukan pembebasan lahan untuk menambah kapasitas di TPA Antang.

“Sesuai dengan penilitian dari Keiti Korea dalam kajiannya memperkirakan TPA Tamangapa hanya bisa digunakan sampai batas 2020,” jelasnya.

Andi Iskandar menambahkan, dengan lanjutan kerjasama, pihak korea mengajak salah satu pengusahanya untuk mengelolah sampah organik melalui pengolahan ulat magog.

KLIK INI:  Ke Depan Sampah Jangan Dilihat sebagai Hal Tidak Berguna

“Sekarang untuk alat teknologinya sudah ada di bank sampah pusat paccerakkang. Tinggal menunggu kedatangan pengusaha korea yg punya teknologi untuk mengoperasikannya,”  imbuhnya.

Dari pantauan Klik Hijau yang datang langsung melihat kondisi di TPA Tamangapa Antang, terlihat sampah tersusun semakin tinggi laksana perbukitan.

Andi Iskandar menuturkan “Seperti kita lihat ketinggian gunung sampahnya sudah hampir 30 meter dari dasar yang sudah dikeruk sampai ke atas. Jadi akan dilakukan pembebasan lahan untuk penampungan sampah-sampah baru,” tuturnya.

Perlu kebijakan strategis

Pemerhati lingkungan dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Dr.Ir. Suriyanti Haji Salama, M.Pd., mengatakan, TPA Antang sejatinya sudah sangat tidak layak lagi dengan besaran volume sampah yang masuk setiap harinya.

KLIK INI:  Benioff Ocean dan Coca-Cola Hibahkan 1 Juta US Dollar untuk Penanganan Sampah Plastik

Suriyanti menganjurkan agar pemerintah mengambil langkah-langkah strategis untuk bagaimana volume sampah itu dikurangi. Lalu, yang terpenting adalah bagaimana pengelolaan sampah di TPA.

“Kita bisa mencontoh dari negara-negara yang berhasil mengelola sampahnya kemudian kita implementasikan di sini sesuai dengan kondisi masyarakat kita,” katanya.

Suriyanti Haji Salama mencontohkan Curitiba adalah salah satu kota di negara berkembang, Brazil bagian selatan yang berhasil menyelesaikan persoalan sampah.

“Bila dilihat dari penerapan cara pemerintahnya memberdayakan masyarakatnya, kota Curitiba ini sangat menginspirasi. Namun memang perlu waktu dan kesabaran dalam mensosialisasikan ke masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat,” ucapnya.

Surianti menyarankan perlunya suatu treatment mengenai penegakan denda untuk yang buang sampah sembarangan supaya ada efek jera.

KLIK INI:  Pulau di Selayar Batal Dijual Lantaran Masuk Kawasan Konservasi

“Di sisi lain, juga perlu reward untuk masyarakat yang telah banyak berkontribusi untuk penanganan sampah,” terang dosen Fakultas Pertanian UMI ini.

Pelajaran dari Brazil

Dilansir dari sim.ciptakarya.pu.go.id, pengelolaan sampah dilakukan secara ekonomis dan berwawasan lingkungan yang diberi tajuk “Garbage that is not garbage”.

Tidak seperti pada umumnya, Kota Curitiba menyediakan 5 tempat sampah yang berbeda untuk pemilahan sampah yakni, sampah kertas, sampah plastik, sampah metal, sampah yang mengandung air, dan sampah organik.

Inovasi yang dilakukan oleh Curitiba yakni mendaur ulang 70% sampah kota dan 90% penduduk berpartisipasi dalam program tersebut.

KLIK INI:  Cuaca Buruk, Sejumlah Rute Pelayaran Ditutup Termasuk di Perairan Makassar

Pihak pemerintahnya melakukan kampanye pemilahan sampah yang dibantu oleh Institute for Social Integration. Tujuannya adalah memelihara kebersihan kota dan mengurangi pengangguran karena melihatkan 16.000 pengumpul sampah independen yang dibayar setelah mengumpulkan sampah dari 25 area yang sulit diakses truk pengangkut sampah.

Program ini ditujukan bagi masyarakat berpendapatan rendah dengan mengumpulkan, memilah dan menukar sampah rumah tangga dengan barang kebutuhan sehari-hari.

Menariknya, program pendidikan pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup secara gratis pada masyarakat umum.

Selain itu juga ada program memelihara kebun sayur di bekas tempat penampungan sampah. Program ini tidak berbasis pada mekanisme modal-insentif tetapi pada partisipasi publik.

KLIK INI:  Puntung Rokok dan Dampak Buruknya Bagi Pertumbuhan Tanaman