Aksi Heroik Nelayan Sangkarrang Mengejar Kapal Boskalis di Selat Makassar

Publish by -470 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Aksi Heroik Nelayan Sangkarrang Mengejar Kapal Boskalis di Selat Makassar
Aksi heroik nelayan menuntut penghentian tambang pasir Boskalis di Selat Makassar - Foto/Ist

Klikhijau.com – Nelayan di Kepulauan Sangkarrang dan Galesong Raya terus bergerak dan meminta agar Boskalis, penambang pasir laut di Selat Makassar menghentikan aktivitasnya.

Terbaru, sekitar 500 nelayan dengan perahu kecil mengepung kapal Queen of Netherlands milik Boskalis dan meneriakkan seruan keras agar penambangan dihentikan. Aksi heroik ini berlangsung pada Minggu 28 Juni 2020.

Ini merupakan aksi ketiga dengan eskalasi massa yang lebih besar. Sebelumnya, pada Jumat, 12 Juni 2020, nelayan di Pulau Kodingareng Lompo melakukan aksi protes dengan membentangkan spanduk yang meminta Boskalis segera menghentikan aktivitasnya.

Lalu pada tanggal 19 Juni 2020, nelayan Kepulauan Sangkarrang dan pesisir Kota Makassar melakukan konferensi pers menyatakan sikap menolak aktivitas tambang pasir laut dan reklamasi Makassar Newport.

KLIK INI:  Losari di Antara Aroma Pisang Epe, Sampah, dan Bau Busuk

Seperti diketahui, Boskalis melakukan panambangan pasir laut di perairan Bonema Lonjo yang natabene merupakan wilayah tangkap nelayan.

Aktivitas tambang pasir laut oleh Boskalis di wilayah tangkap nelayan Kepulauan Sangkarrang dan Galesong Raya dinilai telah merusak wilayah tangkap dan menimbulkan kerugian bagi nelayan sehingga sangat mengancam keberlanjutan kehidupan nelayan.

Aksi protes para nelayan tersebut direkam dalam video pendek. Para nelayan memblokir aktivitas tambang pasir laut Boskalis dan meminta agar penambangan dihentikan.

Pada aksi ini pula, nelayan meminta agar Boskalis tidak melakukan upaya intimidasi dan kriminalisasi terhadap nelayan lokal tradisional.

KLIK INI:  Mencegah Karhutla Indonesia dengan Spartan

Nelayan juga meminta agar PT Pelindo IV menghentikan proyek reklamasi dan pembangunan MNP tahap II. Dan segera melakukan konsultasi publik yang bermakna dengan seluruh komunitas nelayan pesisir Kota Makassar.

Massa juga meminta kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk menghentikan proyek tambang pasir laut. Juga mendesak Boskalis segera melakukan pemulihan lingkungan di sepanjang pesisir Galesong yang terdampak tambang pasir laut jilid pertama.

Tuntutan lainnya ditujukan kepada Kementerian BUMN dan LHK untuk menghentikan proyek reklamasi Makassar Newport dan mendesak PT. Pelindo untuk melakukan pemulihan hak nelayan pesisir Kota Makassar yang hilang akibat pembangunan Makassar Newport.

Simak aksi heroik nelayan Makassar di Sini!

Dampak tambang pasir laut versi WALHI Sulsel

Data WALHI menunjukkan, sejak beroperasi jilid pertama (2017-2018) proyek Boskalis telah menimbulkan dampak kerusakan luar biasa bagi lingkungan pesisir dan kondisi sosial-ekonomi nelayan Galesong Raya.

KLIK INI:  Waspada, Gelombang Laut Setinggi 6 Meter Hantui Perairan Sulsel Hingga Awal Februari

WALHI menyesalkan tidak adanya pemulihan lingkungan yang dilakukan perusahaan pasca kerusakan lingkungan akibat proyek tambang pasir laut.

“Pemerintah baik pusat maupun provinsi justru membuka ruang tambang pasir laut baru bagi Boskalis untuk kembali mengeruk pasir laut di wilayah tangkap nelayan Sulawesi Selatan,” kata Riski Saputra, Staf Advokasi WALHI Sulsel.

Dalam pantauan WALHI Sulsel, sejak tanggal 13 Februari 2020, Kapal Boskalis, Queen of Netherland yang memiliki kapasitas 33.423 Gross Ton (GT) kembali memulai penambangan pasir laut di perairan Bonemalonjo.

Pasir laut hasil tambang ini digunakan untuk keperluan reklamasi Makassar New port tahap II. Dalam sehari, kapal Boskalis melakukan tiga kali penambangan (3 ret kapal).

KLIK INI:  Negara-Negara ASEAN Bahas Upaya Pengelolaan Kawasan Lindung

Lokasi penambangan Boskalis berada di wilayah tangkap nelayan Galesong dan Kepulauan Sangkarang. Nelayan memberinya nama Coppong Lompo, Coppong Caddi, Bonemalonjo, dan Pungangrong.

WALHI Sulsel menilai, penambangan Boskalis di wilayah yang menjadi sumber penghidupan nelayan merupakan bentuk penghancuran ruang hidup sehingga mengancam keberlanjutan nelayan di Sulawesi Selatan.

Sejak penambangan dilakukan, nelayan Pulau Kodingareng Lompo dan Galesong mulai merasakan dampaknya. Air laut di sekitar wilayah penambangan menjadi keruh.

Kekeruhan membuat hasil tangkapan nelayan berkurang drastis, terutama nelayan-nelayan yang mencari ikan tenggiri dan nelayan rawe yang mencari ikan-ikan karang.

Di Pulau Kodingareng Lompo, hampir semua dari 950 nelayan yang tercatat di Dinas Kelautan dan Perikanan merupakan nelayan pencari ikan tenggiri. Di bulan April hingga Agustus, biasanya hasil tangkap ikan tenggiri meningkat, bisa sampai enam ekor bahkan lebih.

Namun di tahun ini situasinya berbeda, aktivitas tambang Boskalis membuat nelayan kesulitan mendapat hasil tangkapan, maksimal hanya dua ekor ikan tenggiri/hari. Penderitaan nelayan pencari ikan tenggiri semakin bertambah manakala saat ini sedang terjadi pandemi covid-19 yang membuat harga ikan tenggiri turun drastis.

KLIK INI:  Ketika Abrasi Merampas “Rumah Terakhir” Warga Takalar
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!