Air Pasang, Kubangan Sampah di MLC Baluno Menjelma Rupiah

Publish by -83 kali dilihat
Penulis: Anis Kurniawan
Sampah kayu yang terkumpul di MLC Baluno. Foto: MlC Baluno

Klikhijau.com – Hujan beberapa pekan terakhir menimbulkan banjir di sejumlah titik di daerah Majene Sulawesi Barat dan sekitarnya. Di daerah pesisir, air yang pasang menghampiri pemukiman warga. Pemandangan itu juga terjadi Mangrove Learning Center(MLC) desa Baluno, Majene.

Dermaga dan jembatan kayu yang jadi arena melintasi salah satu kawasan terbaik konservasi mangrove itu dihampiri air pasang. Kejadiannya bermula pada 11 Januari 2020, inisiator MLC, Aziil Anwar mengunggah gambar-gambar di facebook-nya, air mendekati jembatan dan lantai cafe terapung MLC.

Lalu, hujan deras sepanjang hari pada 12 Januari 2020, air di MLC bahkan setinggi jembatan. Pada situasi demikian, tampaklah sampah-sampah berseliweran. Sampah berkumpul di pesisir, tersangkut di jembatan. Apa saja jenis sampahnya? Selain sampah plastik, ada pula sampah kayu.

“Semua jenis kayu ada. Masyarakat di sini panen kayu dari laut, bukan lagi dari hutan,” sendah Aziil Anwar pada Klikhijau.

KLIK INI:  Ketika Perut Paus Sperma Berubah jadi Mall

Pemandangan seperti ini sudah jadi langganan tiap tahunnya, kata Aziil. Warga sekitar bergotong royong melakukan pembersihan sampah. Tidak saja karena memang menggangguh pemandangan, tetapi juga dapat merusak jembatan dan jalan setapak yang membelah kawasan mangrove.

Menariknya, tumpukan kayu jadi berkah tersendiri bagi warga Baluno. Pasalnya, kayu-kayu yang dikumpulkan dapat menjelma jadi uang. Bayangkan, dalam satu hari bisa mencapai 1 mobil truk jumbo yang bisa dijual seharga 800 ribu rupiah.

“Kayu yang terkumpul langsung dijual dan uangnya bisa dibagi-bagi sesama pengumpul,” kata Aziil. Katanya, kayu-kayu tersebut akan langsung dibeli pengrajin batu merah di Majene untuk dijadikan bahan bakar.

“Jadi, setiap air pasang, suasananya selalu begini. Puncaknya mulai bulan Desember hingga Februari. Sudah pemandangan tahunan. Dibersihkan hari ini, besok sampah-sampah berdatangan lagi, “ jelas Aziil.

Menurut penerima penghargaan Kalpataru dari KLHK ini, kayu-kayu tersebut diprediksi berasal dari Mamuju dan Kalimantan. Tergantung arah arus. Sayangnya, selain kayu, ada pula sampah plastik dan sejenisnya.

“Sampah plastik kebanyakan berasal dari pusat kuliner sepanjang pantai Majene,” kata Aziil.

Apa pun itu, fenomena ini adalah satu ironi tentang laut kita yang jadi arena membuang sampah.

KLIK INI:  Wow, Kacang Hijau Kedaluwarsa Ditawar Rp1,7 Juta Perbiji?
Editor: Anis Kurniawan
Sumber: Klikhijau.com

KLIK Pilihan!