8 Ekor Sanca Batik Dilepasliarkan di Kawasan Cagar Alam Faruhumpenai Lutim

oleh -88 kali dilihat
8 Ekor Sanca Batik Dilepasliarkan di Kawasan Cagar Alam Faruhumpenai Lutim
8 Ekor Sanca Batik Dilepasliarkan di Kawasan Cagar Alam Faruhumpenai Lutim - Foto: Ist

Klikhijau.com – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan  (BBKSDA Sulsel) melepasliarkan delapan ekor ular phyton di kawasan Cagar Alam Faruhumpenai (29/3).

Ular sanca batik dengan nama lathin Malayopython reticulatus / Python reticulatus itu memiliki ukuran panjang bervariasi yakni 2 meter sampai 5 meter.

Demi kelancaran proses pelepasliaran, Tim BBKSDA Sulsel menurutnkan Tim Wildlife Rescue Unit (WRU). Sebelumnya, personil WRU harus menempuh perjalanan masuk ke dalam Kawasan Cagar Alam Faruhumpenai. Mereka berjalan kaki menyusuri sungai dan bukit-bukit sekira 1 jam.

Jalan terjal dan cuaca panas matahari lumayan menyengat, namun tidak menyurutkan semangat Tim demi niatan mengembalikan sang ular ke habitatnya.

“Asal 8 ekor ular ini dari 2 lokasi kendang transit kami, ada yang dari Kandang Makassar dan Kandang di Palopo,” cerita Asep, salah satu anggota tim WRU.

KLIK INI:  BBKSDA Sulsel Gelar Forum Penyegaran Bagi Pejabat Fungsional dan Tenaga Teknis

Asep mengisahkan, upaya tim untuk melepasliarkan satwa selalu menyenangkan baginya. Meski harus menumpuh perjalanan jauh dan menerabas kedalam Kawasan hutan, rasa bahagia selalu menyelimutinya tatkala melihat langsung satwa yang dilepasliarkan berjelaga bebas kembali ke habitatnya.

Eko Yuwono, juga pentolan Tim WRU BBKSDA Sulsel dalam keterangannya “Ular-ular ini kebanyakan dari serahan masyarakat dan Damkar di Sulsel, hasil observasi tim kami, dari akhir tahun 2021 dan maret 2022, kami banyak menerima kasus ular masuk pemukiman. kedatangan hewan melata tersebut karena musim saat ini menjadi fase ular untuk berkembang biak.”

Masyarakat juga diimbau untuk tidak menumpukkan barang-barang bekas yang berpotensi menciptakan lubang atau ruang yang dapat digunakan ular untuk bertelur.

Selain itu juga pastikan warga membuang sampah secara rutin di setiap harinya. Pasalnya, sampah yang dibiarkan tergeletak lama bisa mengundang tikus dan akhirnya turut mendatangkan ular.

KLIK INI:  Cerita Operasi Senyap BBKSDA Sulsel Telusuri Jejak Elang Berontok dan Kerang

Populasi sanca batik

Sementara, Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Ir Jusman menjelaskan, ular python atau ular sanca batik adalah salah satu satwa dengan status kategori tidak dilindungi.

Namun, dalam Convention on International Trades on Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES) atau perjanjian internasional yang fokus pada perlindungan spesies tumbuhan dan satwa liar, jenis ular ini masuk dalam kategori appendiks II.

“Artinya satwa ini spesies yang tidak terancam kepunahan, tetapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan,” kata Jusman.

Lebih lanjut disampaikan Jusman, Berdasarkan Kepmenhut Nomor 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan satwa liar. Aturan ini menegaskan adanya pembatasan kuota tangkap atau ambil yang tidak dilindungi yang masuk dalam appendik CITES ataupun non appendiks CITES.

“Kuota ini ditetapkan oleh Dirjen KSDAE setiap tahunnya berdasarkan rekomendasi dari LIPI dan berlaku untuk satu tahun,” imbuh Jusman.

Sebagai Informasi Cagar Alam Faruhumpenai secara administratif terletak di wilayah Kabupaten Luwu Timur. Cagar Alam ini memiliki kekayaan potensi ekosistem flora dan fauna yang melimpah. Satwa-satwa eksotis dan endemik ada di Cagar Ala mini seperti Boti/Ceba/Seba, Musang Sulawesi, Babirusa, Babi Hutan, Rusa Timor sampai Anoa.

KLIK INI:  BBKSDA Sulsel Inspirasi Anak-Anak Muda di Kota Palopo Agar Peduli Satwa