5 Kisah Fiksi Inspiratif dalam buku “Bukan untuk Dibaca” dengan Metafora Alam

oleh -81 kali dilihat
5 Kisah Fiksi Inspiratif dalam buku “Bukan untuk Dibaca” dengan Metafora Alam
Cover buku "Bukan untuk Dibaca" - Foto/Tokopedia

Klikhijau.com – Sejak lama, telah banyak pengarang yang karya-karyanya sangat kental dengan permasalahan lingkungan. Para penulis itu tidak saja memakai metefora alam semesta dalam kisah yang dibuatnya, tetapi juga menyodorkan kritik terhadap realitas kekininan.

Diantara isu-isu kontemporer yang banyak dibahas dalam sastra antara lain masalah keanekaragaman hayati, konservasi, pembalakan kayu dan lainnya.

Deassy M.Destiani salah satu penulis perempuan Indonesia yang karya-karyanya sangat kaya akan narasi mengenai problem lingkungan. “Bukan untuk Dibaca” adalah karyanya yang sedang populer, berisi cerita fiksi yang menginspirasi.

Adapun 5 cerita fiksi karya Deassy dalam buku itu yang sangat inspiratif dan sangat kental dengan lingkungan adalah sebagai berikut:

  1. Kesuksesan karena lingkungan

Cerita “kesuksesan karena lingkungan” ini mengisahkan tentang seorang petani yang selalu memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian tiap tahun.

Suatu ketika sang Petani diwawancarai oleh seorang wartawan tentang rahasia petani ini mampu selalu menjadi pemenang.

KLIK INI:  Tentang Cara Merawat dan Menjaga Kucing Kesayangan

Sang petani menjawab, “Tak tahukah Anda, bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga –bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang lainnya. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk hingga begitupun sebaliknya.”

Pelajaran yang dapat dipetik dalam cerita ini adalah bila ingin meraih keberhasilan, manusia juga harus menolong manusia lainnya untuk berhasil pula. Nilai  hidup kita diukur dari kehidupan- kehidupan yang disentuh. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kehidupan dan lingkungan itu adalah 2 hal yang saling tarik- menarik.

  1. Setangkai Mawar Merah

“Setangkai Mawar Merah” bercerita tentang seorang laki laki yang bernama John Blanford yang hidup di zaman perang dunia II. John menyukai seseorang perempuan hanya dengan lewat tulisan.

Wanita itu bernama Hollis, tinggal di New Work sedangkan John tinggal di Florida. Kisah mereka berawal dari John yang meminjam buku di perpustakaan lantas terpancing dari sebuah coretan tangan yang halus di buku tersebut dan buku itu milik Hollis.

Keduanya kemudian intens berkirim-kirim surat. Benih cinta pun mekar pada mereka. Pada suatu hari John meminta untuk mengirimkan foto Hollis untuk melihat rupannya.

KLIK INI:  “Ramuan Nenek” dan Ikhtiar Kembali ke Pengobatan Leluhur Perempuan Banggai

Akan tetapi Hollis menolak dan mengatakan: “Kalau cintamu tulus, bagaimanapun rupaku tidak akan mengubah perasaanmu itu, kalau saya cantik, selama hidup saya akan bertanya-tanya apakah mungkin perasaanmu itu hanya karena saya cantik saja, kalau saya biasa-biasa atau cenderung jelek saya takut kamu akan terus menulis hanya karena kesepian”.

Hingga pada akhirnya Hollis memutuskan untuk menemuinya di statiun New York dan Hollis akan menyematkan setangkai bunga mawar di kerah bajunya.

John pun menyetujuinya dan pada akhirnya di statiun selama 1 menit berlalu dari waktu yang ditentukan John melihat sosok wanita cantik mengenakan baju warna hijau.

Namun disatu sisi wanita tersebut tidak memiliki setangkai bunga mawar di kerah bajunya itu hingga dia mengalihkan penglihatanya dan melihat sosok wanita tua umur 40 tahunan mengenakan mawar di tangkai kerah bajunya.

John pun mendekati nenek itu dan langsung mengajak nenek tersebut untuk makan malam bersama sesuai perjanjianya dalam surat yang terima. Rupanya Hollis menguji cinta John melalui nenek tua tersebut untuk membuktikan cintanya.

Pesan yang dapat disimpulkan dalam cerita ini, sikap setia dan konsisten selalu akan berbuah kebahagiaan. Siapa yang memegang janjinya maka dialah orang yang bisa dipercaya dan mampu menyandarkan hidup padanya.

KLIK INI:  Kursi Lalu Tanah
  1. Kisah pohon apel

Mungkin tak asing lagi kita mendengar cerita ini tentang seorang anak laki- laki dan pohon apel. Cerita ini berawal dari anak lelaki kecil yang sangat menyukai pohon apel. Hampir setiap hari masa-masanya dia habiskan bersama pohon apel di belakang rumahnya.

Hingga waktu berlalu anak itu sudah bertumbuh besar dan mengunjungi pohon apel itu, pohon apel itu berkata, kesinilah kita bermain. Anak lelaki itu menjawab saya bukan lagi anak kecil, saya sudah besar saya menginginkan uang untuk membeli mainan.

Pohon apel pun menjawab, kemarilah ambil buah apel yang ada di badan saya lalu menjualnya semoga dengan menjual apel apel ini kamu bisa membeli mainan.

Anak lelaki itupun mengambil dengan senang dan menjualnya dan anak lelaki itu tidak kembali- kembali lagi. Hingga di suatu hari anak lelaki itu kembali dengan wajah bersedih, pohon apel itu menyambutnya dengan penuh bahagia dan mengatakan, kamu kenapa kemarilah bermain denganku?

Anak lelaki itupun menjawab, aku tidak memiliki waktu, aku sudah berkeluarga namun kami tidak memiliki rumah sebagai tempat tinggal. Pohon apel itupun dengan bahagia berkata ambillah ranting- rantingku kau bisa membuat rumah sebagai tempat berteduh, akhirnya anak lelaki inipun mengambilnya dan pulang tidak kembali lagi.

KLIK INI:  Kisah "Mata", Refleksi Kritis Pendidikan Anak di Indonesia

Dan pada hari terpuruknya dia mendatangi lagi pohon itu sambil berkata aku sedih, aku ingin hidup tenang, aku memerlukan liburan. Pohon apel itupun dengan penuh semangat mengatakan, ambillah batangku semoga dengan batang ini kamu bisamembuat kapal dan bisa berlibur sesuka hatimu.

Anak lelaki itupun menebang batang pohon apel itu dan pergi dengan penuh bahagia. Hingga suatu hari ketika sudah menjadi kakek kakek anak lelaki itu kembali dan pohon apel itu mengatakan, maaf sekarang saya sudah tidak memiliki apa-apa. Namun apabila engkau ingin istirahat dan berbaring lakukanlah di akar tuaku semoga dengan itu kamu akan tenang. Anak lelaki itupun lantas berbaring di pelukan akar-akar pohon apel tua itu . Hingga apel itupun sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ibarat tempat kembali pulang dan berteduh pohon apel itu di ibaratkan sebagai orang tua kita. Sebaik- baik tempat terbaik adalah orang tua. Sebaik- baik sebuah lingkungan adalah lingkungan tempat kita tumbuh dan proses pendewasaan terbaik adalah keadaan lingkungan itu sendiri.

  1. Nilai seikat kembang

Cerita ini tentang sebuah kisah wanita yang bernama Nyonya Stevan, Suatu hari dia mendatangi kuburan dan meminta sopirnya untuk menemui tukang penjaga kubur menuju ke mobil nyonya tersebut.

Nyonya Stevan sudah terbilang tua dan sudah hampir meninggal karena penyakit yang diderita. Nyonya Stevan pun bertemu dengan penjaga kuburan itu. Lalu dia memperkenalkan diri dan mengatakan bahwa dialah yang tiap 2 minggu sekali mengirimkan uang kepada penjaga kuburan itu untuk membelikan seikat kembang untuk ditaburkan diatas kuburan anaknya yang sudah meninggal.

KLIK INI:  Ekofeminisme, Tentang Relasi Gender dan Kehutanan

Nyonya Stevan datang karena ingin berterima kasih di akhir- akhir hidupnya yang sudah tidak lama lagi dia akan meninggal.

Namun, penjaga kubur itu menjawabnya bahwa uang yang dikirimkan itu tidak ia pakai untuk menyimpanya di atas kuburan anaknya. Akan tetapi dia bagikan kepada orang miskin yang dia jumpai, dirumah sakit ataupun orang yang sedah bersedih agar mereka dapat menikmati aroma bunga itu.

Wanita itupun terdiam dan menyuruh sopirnya untuk segera pulang. Hingga beberapa bulanpun kemudian, wanita itu kembali lagi untuk mendatangi penjaga kuburan itu dengan tujuan ingin berterima kasih kembali karena pesan yang diberikan kepada wanita itu, bahwa setelah dia melakukan hal serupa memberikan bunga ke rumah sakit dan orang miskin dia memiliki kebahagiaan tersendiri setiap sudah memberikan sesuatu kepada seseorang yang membutuhkan.

Dapat disimpulkan bahwa untuk memeproleh kebaikan itu sendiri berawal dari bagaimana kita memperlakukan lingkungan kita sendiri terlebih dahulu. Kebaikan yang dilakukan pada orang lain akan berdampak kembali kepada pribadi masing- masing pihak. Mutlak, tanpa syarat.

  1. Bawang Bombay Kehidupan

Suatu hari seorang pengajar menyuruh muridnya untu menuliskan 20 nama seseorang yang paling penting dalam kehidupannya. Baik itu saudaranya, sekantor, teman, tetengga, pacar dan lainnya.

KLIK INI:  Ekofenomenologi, Tentang Relasi Apik Antara Manusia dan Alam

Kemudian pengajar  memerintahkan mencoret 1 nama yang dianggap tidak penting dari ke 20 nama yang sudah mereka tuliskan, begitupun seterusnya. Hingga tersisa 3 nama: Nama orang tuanya, suaminya dan anaknya.

Hingga kelas terasa begitu hening. Semua murid menebah-nebak siapa yang akan dicoret selanjutnya. Hingga pengajar memberikan arahan selanjutnya: “silahkan coret satu lagi!” mereka pada gelisah dan tegang.

Ketika pengajar kembali bertanya kepada 1 orang murid: “orang terkasih kamu bukan orang tua dan anakmu? Bukankah orang tua yang merawatmu dari dalam kandungan hingga engkau besar sedangkan anakmu, kamu yang merawatnya dari dalam kandungan hingga dia besar?”

Semua mata tertuju pada seorang murid yang ditanya itu. Seorang murid itupun berkata, “ waktu akan berlalu, orang tua saya akan pergi meninggalkan saya dan anak pun demikian. Jika ia telah dewasa dan menikah, ia akan meninggalkan saya. Dan yang benar-bena yang bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah suami saya kelak nantinya.

Kehidupan itu bagaikan bawang bombay. Ketika dikupas selapis demi lapis, akan habis. Dan adakalanya kita dibuat menangis.

Itulah 5 Cerita menarik dalam buku “Bukan untuk Dibaca” karya Deassy M Destiani yang temanya banyak bersinggungan dengan isu lingkungan. Semoga menambah wawasan kita semua!

KLIK INI:  Bertemu Inspirasi dalam Pengalaman Sang Motivator Lingkungan