5 Alasan Kenapa Mengubur Sampah Anorganik adalah Pilihan Berbahaya

oleh -128 kali dilihat
Menjejaki Budaya Masyarakat Buang sampah di Halaman Belakang
Sampah plastik/foto-ist

Klikhijau.com – Mengubur sampah anorganik masih banyak dilakukan oleh masyarakat. Masyarakat menganggap itu cara terbaik agar tidak berserakan mencemari lingkungan, agar tidak membuat pemandangan tampak kumuh.

Namun, pilihan itu bukanlah pilihan yang bijak. Sampah anorganik yang tertimbun hanya tersembunyi dari pandangan mata, tapi tidak hilang dan tetap menebar ancaman berbahaya.

Mungkin kamu pernah menggali atau melihat galian tanah, pada saat menggali tanah kerap ditemukan sampah yang telah bertahun-tahun tertimbun.

Sampah anorganik yang tertimbun itu, sudah pasti akan memperlambat laju air meresap. Parahnya lagi, ketika digali bisa membahayakan. Apalagi jika sampah anorganik itu merupakan benda tajam, misalnya kaca atau aluminium.

KLIK INI:  KLHK Mendukung Rencana Aksi Strategis Penanganan Banjir di Kalsel

Tidak terbatas di situ saja ancamannya, mengubur sampah anorganik juga berbahaya, karena:

  • Mencemari kualitas air tanah

Air tanah adalah air yang berasal atau terdapat dalam  tanah. Jika tanah telah tercemari oleh sampah. Maka sudah pasti akan tercemar pula airnya.

Jika kamu mengubur sampah anorganik ke dalam tanah, dengan maksud dan tujuan agar mudah terurai. Anggapan tersebut sungguh keliru.

Sampah anorganik, misalnya plastik atau kaleng yang mengandung logam berat seperti magnesium atau kalium, mereka ini tetap akan sulit terurai meski terkubur dalam tanah.

Tidak hanya itu, zat yang terdapat pada kaleng (magnesium atau kalium) yang berkarat dapat memicu terjadinya korosif.

Korosif ini nantinya akan terbawa ke dalam air tanah sehingga dapat mencemarinya. Mirisnya air tanah ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, baik untuk keperluan mandi, mencuci atau memasak.

KLIK INI:  Sampah Berserakan di MRT Jakarta, Apa Dosa Program 'Tahan, Simpan, Pungut'?
  • Menghasilkan zat berbahaya

Sampah anorganik, sudah bukan rahasia lagi jika mengandung zat-zat berbahaya. Jika sampah tersebut terurai, zat berbahaya yang dikandungnya tidak ikut hilang, justru sebaliknya.

Jika sampah jenis ini terurai, akan menghasilkan zat yang berbahaya bagi tanah di sekitarnya. Misalnya sampah plastik atau sejenisnya, jika terurai akan mengeluarkan atau melepaskan dietilhidroksilamin.

Zat ini dapat berdampak pada kesehatan reproduksi, fungsi hati, dan berat badan. Selain itu, zat berbahaya itu dapat merampas hidup hewan pengeruai seperti cacing dan lainnya.

Jadi, mengubur sampah anorganik tidak lantas menghilangkan zat-zat tersebut. Zat berbahaya itu tetap ada dan tetap setia pada ancamannya.

KLIK INI:  Tiga Opsi Penanganan Sampah Kota Makassar ala Komunitas Manggala Tanpa Sekat
  • Merusak struktur dan kesuburan tanah

Tanah memiliki strukturnya tersendiri. Apabila struktur itu rusak maka akan berpengaruh pada kualitas tanah. Kesuburannya akan tergerus sehingga tidak lagi mampu menyuburkan tanaman.

Salah satu yang bisa menggerus struktur tanah dan mengambilnya dengan paksa kesuburannya adalah sampah anorganik, termasuk saat kita menguburkannya.

Penguburan sampah non organik, misalnya kaleng atau plastik dapat merusak struktur tanah, dan mengurangi kesuburannya.

Jika hal ini terjadi, maka ketika hujan turun maka akan menimbulkan genangan air, yang bisa saja berujung pada banjir.

KLIK INI:  Sampah dan Mahasiswa
  • Menghalangi air meresap

Air membutuhkan daerah resapan yang baik. Jika tanah tercemar sampah, maka hal itu akan mengganggu air terserap ke dalamnya.

Begitu pun dengan sampah yang dikubur, secara otomatis pula akan menghalangi air terserap ke dalam tanah, ini tidak hanya mengurangi unsur kesuburannya, tapi juga bisa jadi penyebab genangan dan banjir seperti diuraikan di atas.

  • Hanya tertimbun, tidak terurai dan hilang

Jika kamu berpikir, sampah yang dikubur itu hilang, sesungguhnya kamu keliru. Sampah-sampah tersebut tidak hilang (bisa dibaca terurai), hanya tidak tampak dalam pandangan saja.

Namun, sebenarnya yang terjadi sampah-sampah yang dikubur itu hanya tersimpan di dalam tanah. Tidak terurai dan hanya menunggu waktu untuk kembali ke permukaan membawa bahaya.

Bagaimana, masih tertarik mengubur sampah anorganik?

KLIK INI:  HKAN diwarnai Momen Pelepasliaran Satwa, Tukik di Lombok dan Kukang di Agam