3 Capaian Gemilang Indonesia pada COP Madrid

oleh -46 kali dilihat
Wamen LHK di COP25 Madrid, Foto: KLHK

Klikhijau – Pada konferensi perubahan iklim di Madrid yang digelar 2 -15 Desember 2019 di Kota Madrid, Spanyol, Indonesia sukses mengajukan sejumlah gagasan strategis di level global.

Konferensi bertajuk Conference of the Parties (COP) 25 United Nations Framework Climate Change Conference (UNFCCC), para Negosiator Indonesia berhasil mewujudkan 3 tiga capaian gemilang. Berikut penjelasannya!

#Isu laut

Tim negosiator Indonesia sukses memasukkan isu Laut/Ocean ke dalam Decision nomor 1 COP25 melalui pengajuan proposal “Integrating Ocean-Climate Change Issues into the UNFCCC”.

“Isu ocean menjadi salah satu yang berhasil diadopsi dalam keputusan bersama dengan Fiji, Panama, Kosta Rica, Seychelle, dan Chile,” ujar Wamen LHK Alue Dohong, Jumat 27 Desember 2019.

KLIK INI:  Perubahan Iklim Ubah Predator jadi Kanibal dan Sebabkan Panas Ekstrem

#Dua negosiator Indonesia dapat posisi di UNFCCC

Di forum COP, dua orang Negosiator Indonesia berhasil mendapatkan posisi pada beberapa badan dibawah UNFCCC. Tepatnya di “Compliance Comittee Under Kyoto Protocol” dan “Alternate Member of the Local Communities and Indigenous People Platform (LCIPP)”.

Dua orang tersebut adalah Ratnasari Wargahadibrata dari Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK. Dan Yuli Prasetya Nugroho dari Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) untuk menduduki posisi pada beberapa badan dibawah UNFCCC.

#Sukses mendorong isu Energi Baru dan Terbarukan (EBT)

Di COP 25 Madrid, Indonesia juga berhasil mendorong isu energi baru dan terbarukan (EBT) supaya menjadi mainstream dalam rangka perwujudan National Determination Contribution (NDC) Indonesia ke depan.

“Seperti yang sudah diresmikan Presiden bahwa kita mendukung energi baru terbarukan dengan Program bahan bakar campuran biodiesel. Juga dengan bahan bakar nabati, yang saat ini B30 hingga ke depan nanti sampai B50 bahkan B100,” imbuh Wamen.

KLIK INI:  Menyusul Bogor, Tempat Sampah Ilegal Juga Disegel di Tangerang

Catatan yang tertunda

Selain keberhasilan yang dicapai dalam COP 25, masih ada cacatan negosiasi yang belum dapat dituntaskan.

Beberapa isu krusial masih belum dapat mencapai konsensus para negara pihak. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan kepentingan, seperti diantaranya masih belum ada keputusan mengenai kerjasama internasional yang tertuang pada Pasal 6 Paris Agreement.

Termasuk isu teknis metodologis dibawah enhanced transparency framework, isu Loss and Damage, serta isu pendanaan baik di adaptasi maupun Long-term Finance.

Wamen LHK menekan jika sebetulnya Indonesia sangat berkepentingan terhadap pengaturan Pasal 6 Paris Agreement. Hal ini mengingat saat ini Indonesia dalam proses membangun skema perdagangan karbon.

Hasil perundingan pada isu ini akan mempengaruhi operasionalisasi perdagangan karbon baik di dalam maupun di luar negeri, baik melalui mekanisme pasar dan mekanisme kerjasama lainnya.

KLIK INI:  Peringati HCPSN, KLHK Gelar Obrolan Konservasi Medis Satwa Liar

“Menurut saya kita tetap komitmen dengan rencana kita yaitu menurunkan emisi GRK sebesar 29% sebagaimana Ratifikasi Paris Agreement yang telah ditandatangani Presiden Joko Widodo. Sekaligus mulai mengembangkan pasar karbon domestik. Ini sebagai persiapan kita kalau di COP26 kedepan pasar karbon disepakati,” tegas Wamen.

“Hampir 80-90 pesen dari item yang diagendakan Indonesia sudah diselesaikan,” jelas Dirjen PPI, Rhuanda Agung Sugardiman.

Delegasi RI pada gelaran ini secara keseluruhan berjumlah 437 peserta dengan komposisi Laki-laki : 151 peserta dan Perempuan : 286 peserta.

Untuk gelaran UNFCCC di Madrid kali ini secara total diikuti oleh 197 Parties & Observer State dengan jumlah 11.414 orang. Kemudian 1.176 observer organization (UN bodies, Specialized organizations, IGOs, NGOs) dengan jumlah 8.775 orang.

Selanjutnya 884 media organization dengan jumlah 2.165 orang. Sehingga secara keseluruhan gelaran ini dihadiri total 2.217 organisasi dengan jumlah 22.354 orang.

KLIK INI:  Indonesia Tak Ambisius dalam Target Penurunan Emisi, Ini Kritik Madani dan WAHLI!