27 Juli, Hari Peduli Sungai Nasional, Apa Aksimu Saat Sungai Semakin Tercemar?

Publish by -143 kali dilihat
Penulis: Anis Kurniawan
27 Juli, Hari Peduli Sungai Nasional, Apa Aksimu Saat Sungai Semakin Tercemar
Sungai - Foto/Klikhijau

Klikhijau.com – Hari Peduli Sungai Nasional (HPSN) diperingati setiap tanggal 27 Juli. Momen ini ditetapkan oleh pemerintah sejak 27 Juli tahun 2011 lalu dan termuat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011, Pasal 74.

Hari peduli sungai diperingati sebagai bentuk kepedulian pada kebersihan dan kelestarian sungai. Selain itu, HPSN diharapkan dapat membantu pemerintah untuk melakukan proses pemulihan pada sungai-sungai yang rusak dan tercemar di Indonesia.

Seperti diketahui, Indonesia memiliki luas perairan yang sangat besar ketimbang daratan dan di dalamnya ada gugusan sungai. Faktanya, sungai-sungai di mana-mana tidak lagi bertumbuh secara alami, kebanyakan telah terkontaminasi oleh limbah dan sampah plastik.

Di banyak tempat kita jumpai, sungai dijadikan tempat sampah terpanjang yang mengalirkan sampah-sampah berakhir di lautan. Ekosistem sungai kemudian bermasalah sehingga fungsinya tidak lagi maksimal, kualitas airnya juga terus memburuk.

KLIK INI:  Merangsang Minat Petani Muda yang Masih Mbalelo
Darurat sungai kita

Sungai-sungai kita sedang dalam situasi darurat yang tentu mencemaskan. Dilansir Republika (23 Maret 2019), sungai di Indonesia telah sampai pada fase kritis mencapai 82 persen dari 550 sungai yang tersebar di seluruh Indonesia. Tingginya tingkat pencemaran membuat airnya tidak layak untuk dikonsumsi.

“Dari lebih 550 sungai itu, 52 sungai strategis di Indonesia dalam keadaan tercemar, di antaranya Sungai Ciliwung di DKI Jakarta dan Sungai Citarum di Jawa Barat,” kata Direktur Forest and Freshwater dari World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Irwan Gunawan, sebagaimana dikutip Republika.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), juga pernah merilis data bahwa 75 persen air sungai dan 52 sungai di Indonesia sudah tercemar berat. Ada 20 aliran sungai berstatus tercemar sedang hingga berat. Lalu, ada 118 Daerah Aliran Sungai (DAS) dari 450 DAS yang benar-benar kritis. Pulau Jawa bahkan diprediksi akan mengalami kelangkaan air bersih.

Dari Lokadata juga disebutkan kualitas air sungai di desa-desa di tanah air sudah sangat memprihatinkan. Mayoritas tercemar limbah berat akibat aktivitas industrial. Sumber pencemaran lainnya berasal dari limbah rumah tangga.

KLIK INI:  Perkenalkan, Ancaman Sungai di Dunia yang Bernama Antibiotik

Kualitas air sungai yang menurun juga terlihat dari hasil pemantauan sungai di seluruh Indonesia oleh Ditjen PPKL Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2015-2018. Hasilnya dimuat dalam publikasi Statistik Indonesia 2019 BPS.

Disebutkan bahwa dari 64 ribu desa/kelurahan yang dilalui sungai, seperempatnya (25,1 persen) punya kualitas air buruk. Tingkat pencemaran tertinggi berada di Pulau Jawa.

Di Jawa Barat, 980 desa/kelurahan atau 13,3 persen dari total 7.367 desa di Indonesia yang dilalui sungai memiliki kualitas air tercemar berat akibat aktivitas industrial.

Akibat sampah plastik dan limbah industri

Ternyata, limbah rumah tangga tak kalah dalam hal mencemari air sungai. Sisa-sisa makanan, plastik, gelas, kaleng, hingga detergen, dan batu baterai.

KLIK INI:  Bahaya, Sampah Antariksa Mengancam Bumi?

Sungai-sungai di Jawa Tengah jadi saksinya. Sebanyak 1.334 desa/kelurahan atau 13,6 persen sungai airnya berstatus tercemar berat.

Selain limbah pabrik dan limbah rumah tangga, limbah lainnya termasuk efek dari pengurangan lahan hijau akibat pembangunan. Ada 2.216 desa/kelurahan yang mengalami ini. Sebanyak 10,6% atau 236 desa di Kalimantan Barat memiliki kualitas air sungai dengan status tercemar berat.

Petaka di baliknya, selain merusak ekosistem juga mematikan mata pencaharian masyarakat. Oleh sebab itu, tak ada jalan lain, diperlukan strategi dan aksi bersama untuk mengendalikan pencemaran air sungai.

Menyelematkan sungai

Harapan penyelamatan sungai sebetulnya ada bila kita menengok RPJMN 2020-2024 yang menunjukkan adanya komitmen di bidang pengelolaan dan pengendalian pencemaran air, khususnya dalam hal pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS). Namun, ini tentu saja membutuhkan political will yang terintegrasi dari pusat ke daerah.

KLIK INI:  Presiden Jokowi, PM Belanda dan Perihal Pohon Damar yang Menawan

Tetapi, hal paling mendasar adalah kinerja penegakan hukum. Negara harus hadir dan memastikan sungai-sungai kita tetap lestari dan tak terkontaminasi oleh dampak industrialisasi maupun akibat perilaku masyarakat yang barbar dengan membuang sampah di sungai.

Ahmad Yusran, Anggota Dewan Presidium Kongres Sungai Indonesia, menegaskan perlunya kesadaran bersama untuk memulihkan hutan dan lahan untuk penyelamatan sumberdaya air (Sungai dan waduk).

“Permasalahan lingkungan juga membutuhkan penegakan hukum yang tegas dan konsisten. Termasuk masalah deforestasi, serta bencana kebakaran hutan dan lahan, banjir, longsor, juga permasalahan sampah sangat terkait dengan penegakan hukum dalam pemanfaatan kawasan hutan dan penggunaan lahan,” kata Yusran saat dikonfirmasi Klikhijau, Senin 27 Juli 2020.

Oleh sebab itu, kata Yusran, diperlukan percepatan dan pengurangan sampah. Namun, hal ini sangat berkaitan dengan perilaku.

“Intinya pengembangan sumber daya manusia dan profesi bidang lingkungan hidup menjadi kunci daya saing masa depan. Karena untuk menjadi negara maju dan berwawasan lingkungan, sumber daya manusia yang menguasai ilmu lingkungan dan teknologi ramah lingkungan menjadi modal utamanya,” kata Yusran.

Selamat Hari Peduli Sungai Nasional, apa aksimu untuk menyelamatkan sungai dari pencemaran?

KLIK INI:  Akibat Perubahan Iklim, Beragam Tanaman Purba ini "Bangkit" Lagi seperti Zombie
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!