2 Hal Unik di Sepanjang Jalan Cagar Alam Karaenta, Maros

oleh -39 kali dilihat
2 Hal Unik di Sepanjang Jalan Cagar Alam Karaengta, Maros
Gerbang Kawasan Wisata Alam Pattunuang, Maros
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – “Nanti saya mampir sepulang dari Mallawa,” Pesan ini saya kirim ke Taufik Ismail. Sebelum motor memasuk jalan yang membelah Cagar Alam Karaenta, Maros.

Pesan itu disertai dengan foto gerbang Kawasan Wisata Alam Pattunuang. Di mana Taufik bertugas. Sudah lama saya ingin mengunjungi tempat itu untuk kedua kalinya, namun selalu saja gagal.

Setelah mengirim pesan, saya melanjutkan perjalanan. Melajukan motor Beat berwarna hijau putih—yang selalu setia menemani (hmmm).

Pemandangan kiri kanan jalan raya yang membelah Cagar Alam Karaenta, yang telah beralih fungsi menjadi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) itu selalu menarik perhatian.

Keindahannya memesona dengan pohon-pohon yang menghiasi pinggir jalan. Ditambah batu-batu besar yang menjadi dindingnya.

KLIK INI:  Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kesehatan Anak?

Semakin lama dan dalam perjalanan, pemandangan unik—kalau tak ingin disebut miris mulai mengganggu pemandangan.

Di kiri kanan jalan, sampah banyak berhamburan. Di beberapa tempat bahkan bertumpuk. Ada yang khas dari sampah yang bertumpukan itu, sampah-sampah tersebut dikemas dalam karung.

Ketika karungnya koyak, sampahnya akan berhamburan. Sebagian lagi memang dibuang bersama dengan plastik kresek yang membalut berbagai jenis sampah di dalamnya.

Tak mudah diurai

Pemandangan itu terasa unik dan ganjil, karena di jalan yang dirimbuni pepohonan itu tak ada satu rumah pun yang menghuninya.

Meski tak ada rumah, tumpukan sampah mudah ditemukan di mana-mana. Entah siapa yang membuangnya? Apa pengguna jalan yang sengaja mengemas sampahnya lalu membuangnya di kawasan yang termasuk sangat penting itu?.

Karena dijadikan cagar alam, tentu kawasan tersebut termasuk sangat penting. Tak mungkinlah akan dijadikan sebagai Kawasan Cagar Alam jika tak demikian. Namun, bagi sebagian orang, status itu tak memiliki apa-apa, sehingga bisa diperlakukan seenaknya saja. Termasuk membuang sampah di kawasan tersebut.

KLIK INI:  Kisah Pertama Menegur Pengguna Jalan yang Buang Sampah di Jalan Raya

Persoalan sampah memang persoalan yang tak usai diurai. Mungkin seperti itulah persoalan yang terjadi di hilir, tumbang satu tumbuh seribu.

Untuk menghentikan aliran masalah ke hilir, termasuk sampah yang menyesaki tempat-tempat penting seperti cagar alam, maka hulu (pemerintah) harus membuat kebijakan yang kuat, termasuk hukumannya bagi mereka yang melanggar.

Sampah di sepanjang jalan raya yang menghubungkan Makassar-Soppeng, Bone, Sinjai hingga Bulukumba dan tembus kembali  ke Makassar itu jika tak segera ditindaklanjuti akan membahayakan banyak hal, khususnya satwa dan tumbuhan yang ada di Kawasan Cagar Alam Kareanta.

Persoalan sampah itu, menjadi keunikan (kamu bisa membacanya kemirisan) pertama yang akan ditemui di sepanjang jalan cagar alam tersebut.

KLIK INI:  Ngopi Tanpa Gula Membantu Melawan Perubahan
Monyet yang hobi nongkrong

Nah, pemandangan unik lainnya adalah monyet. Seingat saya, ketika awal-awal melewati jalan raya itu, di kisaran tahun 2010. Pemandangan monyet nongkrong di pinggir jalan lumayan susah ditemui.

Namun, belakang, mereka mulai sangat berani nongkrong di pinggir jalan. Gelar satwa liar yang disandang monyet-monyet itu bisa saja sewaktu-waktu akan dicabut.

Kenapa dicabut? Karena mereka tak lagi liar, mereka telah akrab dengan manusia. Mereka berenteraksi layaknya sahabat yang minta stafet sepotong rokok. Apalagi di sepanjang jalan itu, terdapat pula beberapa warga lokal yang berjualan.

Belum lagi banyak pengguna jalan, dengan senang hati akan memberikan apa yang mereka butuhkan—berupa makanan kepada monyet-monyet itu.

Hal itulah yang membuat mereka lebih suka nongkrong berkelompok di pinggir jalan menunggu uluran tangan pengendara mobil dan motor ketimbang mencari makanan di hutan. Bisa jadi pula sumber makanannya di hutan mulai terkikis.

KLIK INI:  Sampah, Sesuatu yang Bernilai Guna untuk Ditabung di Bank Sampah
Bisa membahayakan

Dilansir dari ksdae.menlhk, monyet-monyet itu bernama ilmiah Macaca Maura atau Moor macaca. Mereka merupakan monyet hitam Sulawesi atau lebih dikenal dengan nama Dare.

Habitatnya berada  di hutan primer Karaenta. Saat ini Macaca Maura merupakan salah satu spesies prioritas dan dilindungi oleh undang-undang, bahkan  sudah masuk ke dalam daftar appendix II CITES. Karenanya, spesies ini mendapatkan perlindungan dan pengawasan secara rutin dari Balai TN Babul.

Penyebab mulai turun ke jalan ini memang belum diketahui secara pasti. Apakah karena adanya  yang sering memberinya makan secara rutin, sehingga kawanan ini menjadi terbiasa berenteraksi dengan manusia atau penyebab lainnya.

KLIK INI:  Taman Nasional Gunung Leuser Kini Jadi Rumah Dara

Perihal memberi makanan kepada monyet-monyet itu telah dilarang. Banyak papan pengumuman yang melarang memberi mereka makanan. Namun tak sedikit yang bahkan meminggirkan kendaraannya lalu berhenti, kemudian memberi monyet-monyet tersebut makanan.

Padahal memberi mereka (monyet-monyet) itu makanan bisa membahayakan hidupnya. Apalagi makanan yang diberikan bisa saja mengandung zat kimia. Belum lagi karena mereka telah berani nongkrong di pinggir jalan, tentu akan sangat membahayakan pula. Karena bisa tertabrak kendaraan.

Jadi, saat kamu lewat di jalan poros yang membelah Cagar Alam Karaenta, dua pemandangan itu akan jadi suguhan. Persoalan sampah mungkin jadi suguhan mengerikan, tapi pemandangan monyet yang nongkrong di pinggir jalan akan jadi suguhan menarik. Namun, ingat patuhi larangan yang telah ditetapkan, jangan memberi makan monyet-monyet itu.

Biarkan mereka tetap menjadi satwa liar—mencari makan dengan caranya sendiri di hutan demi menyelamatkannya hidupnya agar tidak manja terhadap uluran tangan seseorang.

Jangan cabut statusnya sebagai satwa liar dengan sepotong makanan dari tanganmu.

KLIK INI:  Pilihan Terbaik bagi Semua Pihak, Membiarkan Satwa Liar pada Fitrahnya