11 Fakta Menarik Buaya Muara yang Dilepasliarkan di TN Way Kambas

Publish by -92 kali dilihat
Penulis: Idris Makkatutu
11 Fakta Menarik Buaya Muara yang Dilepasliarkan di TN Way Kambas
Buaya muara/foto-mengenalfauna

Kegiatan edukasi dan penyadaran kepada masyarakat penting untuk menyelamatkan buaya muara

Klikhijau.com – Sebanyak enam ekor buaya muara (Crocodylus porosus) dilepasliarkan di Sungai Way Kanan, Taman Nasional  Way Kambas.

Proses pelepasliaran buaya muara tersebut dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Wiratno,  Jumat, 19 Juni 2020 lalu.

Wiratno tak sendiri, ia didampingi oleh Kepala Balai TN Way Kambas, Subakir dan Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi.

Buaya yang dilepasliarkan di TN Way Kambas ini merupakan satwa titipan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta.

KLIK INI:  Mencemaskan, Kebakaran Hutan Bolivia Memanggang Jutaan Satwa?

Sebelumnya buaya tersebut sebelumnya direhabilitasi di Wildlife Rescue Centre (WRC) Yogyakarta atau yang saat ini dikenal dengan nama Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY) selama periode tahun 2012 – 2020.

Keenam ekor buaya tersebut terdiri dari  4 buaya jantan Ciko dan Rambe (2012), Diki (2014) serta Gito (2020) dan 2 buaya betina Herbert (2014) dan Siri (2018).

“Kerja sama antar pihak ini juga menandakan, terjalinnya komunikasi yang baik antara pemerintah (KLHK) dengan mitra kerja”, ujar Wiratno.

Program pelepasliaran keenam buaya muara ini akan ditindaklanjuti dengan kegiatan montoring selama kurang lebih 14 hari yang dilakukan oleh staf TN Way Kambas.

Selain itu, dilakukan juga kegiatan edukasi dan penyadaran kepada masyarakat sekitar mengenai nilai penting keberadaan buaya muara dalam ekosistem.

KLIK INI:  Dua Jenis Burung Ini Menghilang, Kemungkinan Telah Punah

 Fakta tentang buaya muara

Dinamai buaya muara karena hidup di sungai-sungai dan di dekat laut (muara). Buaya ini memiliki banyak nama, di antaranya   buaya bekatak, buaya air asin, buaya laut, man-eater  atau pemakan manusia, dan nama-nama lokal lainnya.

Buaya muara saat ini tercatat sebagai buaya terbesar di dunia.  Tersebar tersebar di seluruh perairan dataran rendah dan perairan pantai di daerah tropis Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Australia (Indo-Australia).

Selain itu, ini 11 fakta lain dari buaya muara dilansir dari beberapa sumber:

  • Berumur panjang

Dibanding dengan jenis buaya lainnya, buaya muara  lebih bisa berumur panjang. Buaya ini  mampu hidup hingga lebih dari 65 tahun.  Di penangkaran, bahkan ada beberapa laporan buaya air asin dengan umur lebih dari 100 tahun

  • Perenang handal

Jangan heran jika menemukan buaya muara  di tengah laut. Itu karena buaya ini merupakan perenang yang andal. Ia bisa menempuh jarak di laut hingga sejauh 900 km.

Buaya ini biasanya menghabiskan waktunya di laut atau air asin, namun demikian buaya ini tidak disebut reptil laut. Dikarenakan ia tetap bergantung pada tanah untuk makanan dan air.

KLIK INI:  4 Bahaya Mengancam Bila Pelihara Satwa Liar
  •  Reptil terbesar di dunia

Buaya ini memiliki pajangn tubuh, termasuk  ekor bisa mencapai  4,5 sampai 5,5 meter hingga lebih dari 6 meter. Bobotnya bisa mencapai lebih dari 1000 kg. Buaya ini aktif di malam hari.

World Atlas bahkan menyebut bahwa hewan ini merupakan reptil terbesar di bumi saat ini. Situs itu juga menjelaskan bahwa buaya air asin juga merupakan predator terbesar di darat dan tepi pantai.

  • Memangsa apa saja

Buaya muara sangat berbahaya jika telah dewasa, ia bisa memangsa apa saja, termasuk manusia. Ia termasuk  predator oportunistik, dengan fleksibilitas penyesuaian makanan tergantung makanan yang tersedia.

Ia memiliki  sifat ganas dan agresif, namun bisa tetap hidup dengan ketersediaan makanan yang sangat sedikit.

  • Hidup di segala jenis air

Hal yang mengagumkan dari reptil ini, ia bisa hidup diberbagai jenis air. Baik di air  air payau,  air tawar hingga air asin.

Saat musim kemarau tiba, mereka pindah ke muara dan danau, kadang-kadang juga menjelajah ke laut. Ketika musim hujan, mereka biasanya menghabiskan waktunya di sungai dan rawa air tawar.

KLIK INI:  Ulin, Kayu Keras Perkasa yang Mulai Langka
  • Pandai mengintai

Jika sedang menarget mangsanya, buaya muara menjadi pengintai yang lihai. Ia akan diam di bawah air dengan sabar. Menunggu waktu yang tepat untuk menerkam mangsanya.

Serangannya tersebut dikenal dengan nama  gulungan kematian. Itu karena setelah menerkam mangsanya akan diseret secepatnya ke dalam air.

  • Tidur dengan satu mata terbuka

Bahkan saat tidur sekalipun, buaya ini tetap berbahaya. Sebab tidak semua matanya tertutup, sewaktu-waktu bisa terjaga dengan cepat.

Sistem saraf pusat yang kompleks membuat mata kanan tetap terbuka ketika sisi kiri otak terjaga, dan sebaliknya

  •  Mampu bertahan lama dalam air

Keistimewaan lain dari reptil ini, ia mampu terendam lama dalam air hingga lebih dari 1 jam lamanya. Itu karena kemampuannya mengurangi detak jantungnya menjadi 2 hingga 3 detak saja per menit.

  • Membuka mulut dalam air

Buaya ini mampu membuka mulut di bawah air tanpa tenggelam. Itu dikarenakan  buaya ini  memiliki katup khusus di bagian bawah mulut yang dapat menghentikan air masuk ke tenggorokan.

Buaya masih dapat menggigit mangsanya di bawah air dengan membuka mulutnya. Bahkan, sebagian besar serangan buaya terjadi dengan cara ini.

KLIK INI:  Burung Perkutut Putih dan Yuhina Kalimantan Itu, Kini Terbang Bebas
  • Pernah hampir punah

Perburuan pernah hampir membuat punah reptil terbesar didunia ini.  Eksplotasi besar-besaran dari alam liar di Australia Utara pada tahun 1940, 1950, dan 1960–bahkan nyaris punah karena perburuan yang dilakukan manusia.

Hingga saat ini, buaya ini masih diburu secara ilegal  yang membuatnya tetap terancam punah. Selain itu, habitat, serta antipati manusia bisa jadi penyebab kepunahannya yang lain.

  • Banyak di Indonesia

Buaya muara rupanya banyak di Indonesia. Salah satu buktinya adalah pelepasliaran enam ekor yang dilakukan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) di TN Way Kambas.

KLIK INI:  Meretas Jalan Satwa Liar Kembali ke Alam di Masa Covid-19
Editor: Idris Makkatutu
Sumber: Beberapa sumber

KLIK Pilihan!