Proyek MOZAIK, Sinergi ECOTON dan Pemkot Surabaya Kurangi Kebocoran Sampah Plastik di Kali Tebu
Klikhijau.com - Yayasan ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation) menggelar agenda strategis bertajuk Konsultasi Identifikasi Potensi dan Peran Multi Pihak Kolaborasi Kelurahan, Pemeri...
Klikhijau.com - Yayasan ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation) menggelar agenda strategis bertajuk Konsultasi Identifikasi Potensi dan Peran Multi Pihak Kolaborasi Kelurahan, Pemerintah Kota, dan ECOTON untuk Mendukung Pengurangan Kebocoran Sampah Plastik di Kali Tebu Surabaya. Pertemuan ini bertujuan untuk menyelaraskan persepsi dan memetakan peran masing-masing pemangku kepentingan dalam upaya menyelamatkan ekosistem Kali Tebu dari pencemaran sampah plastik.
“Pertemuan ini termasuk dalam rangkaian program MOZAIK, yang merupakan singkatan dari Mission for Zero Plastic Leakage. Jadi inisiatif ini sebenarnya diperlukan kolaborasi dan peran masing-masing pemerintah tingkat kelurahan, kecamatan sampai kota. Kami yakin, di setiap kelurahan pasti punya potensi yang perlu dikembangkan untuk menjadi inisiatif bersama yang tujuan akhirnya nanti juga bisa mewujudkan kawasan bebas sampah dan pemulihan ekosistem sungai. Jadi program MOZAIK ini direncanakan berjalan selama 18 bulan kedepan yang secara intensif akan didampingi oleh ECOTON. Program ini cakupan kegiatannya di Kali Tebu wilayah hulu, tengah, hingga hilir Kali Tebu, mencakup Kelurahan Kapas Madya, Simokerto, Tanah Kali Kedinding, Sidotopo Wetan, Bulak Banteng, hingga Tambak Wedi,” papar Amiruddin Muttaqin, Manajer Program MOZAIK Ecoton.
Sebelumnya, Tim Mozaik ini telah memasang penjaring sampah (trashboom) yang diujicoba selama 24 jam pada tanggal 24-25 April 2026. Dari uji coba ini berhasil mengungkap data memprihatinkan sampah yang berhasil dievakuasi dari Kali Tebu selama 24 jam di trashboom seberat 907 kilogram sampah.
[irp]
Sampah yang sudah dievakuasi juga dilakukan audit merek sampah plastik (brand audit). Berdasarkan hasil audit merek sampah plastik, kategori sampah jenis saset yang dihasilkan dari produsen besar banyak yang bocor dan masuk ke badan air sungai.
“Kami mengidentifikasi sampah-sampah bermerek terdapat 1641 pcs, 77,5% didominasi oleh kategori sampah bungkus makanan. 56,3% termasuk sampah sampah multilapis sehingga ini menjadi pertimbangan sebagai solusi pengurangan ya harus ada alternatif seperti guna ulang,” ujar Alaika Rahmatullah, Manajer pengelolaan data & informasi program Mozaik Ecoton.
Lebih lanjut, dari hasil uji coba trashboom mengungkap terdapat 5 diantaranya, yakni Wings 9,13% (314 pcs), Unilever: 10,48% (172 pcs), Indofood: 8,71% (143 pcs), Mayora: 4,94% (81 pcs), dan produsen lokal: 4,02% (66 pcs).
“Ada yang lebih menarik, ternyata sampah popok juga banyak mendominasi, kami menghitung dari total keseluruhan sampah popok ditemukan sebanyak 420 kilogram. Jadi perlu ada tanggung jawab produsen juga dalam rangka mengurangi kebocoran sampah di lingkungan, dan ini sejalan dengan amanat di UU 18 tahun 2008 di pasal 15, sekaligus Permen LHK No.75 tahun 2019 tentang peta jalan pengurangan sampah,” ujar Alaika sapaan akrabnya.