Piknik di Pantai Berkubang Sampah

oleh -400 kali dilihat
Piknik di Pantai Berkubang Sampah

Klikhijau.com – Siapa yang tak suka pantai? Rasanya tak ada orang yang menolak jika diajak ke pantai. Pantai adalah tempat paling nyaman kita berlari melepas kepenatan.

Pada riuh ombak, desir pasir dan anginnya yang sepoi kita dapat melepas teriak lantang. Di pantai lah, kita selalu mengunjungi kenangan sekaligus merajut kembali optimisme dengan belajar pada filosofi ombak dan laut biru.

Beruntunglah kita sebagai negeri kepulauan dengan bibir pantai membentang terpanjang nan molek. Pantai adalah destinasi wisata paling murah dan dapat dijumpai di mana-mana.

Lihat saja betapa ramainya suasana pantai saat liburan. Semua tumpah ke pantai berjejal dengan pasir, air yang pasang surut dan segala panoramanya.

Sayangnya, aktivitas piknik yang meningkat di pantai utamanya di musim liburan, meninggalkan jejak buruk yakni kubangan sampah. Tidak jarang kita menjumpainya bukan?

Sampah berserakan di bibir pantai. Selain kotor, tentu merusak pemandangan dan keindahan pantai.

KLIK INI:  Dihuni Sampah, Pasir Putih Pantai Mandala Ria Terancam Jorok

Pekan lalu, seorang Netizen berinisial EA mengabadikan pemandangan tak mengenakkan bagaimana pantai seolah telah identik dengan sampah. Usai libur panjang lebaran, EA berkeliling di tiga spot pantai yang tak jauh dari kampung halamannya di Bulukumba.

Tempat pertama yang dikunjungi adalah Tanjung Solorang, sebuah spot yang menjadi idola baru bagi anak-anak muda karena sangat instagenic. Sayangnya, di Tanjung Solorang, EA terkejut dengan tumpukan sampah yang meliuk-liuk di dalam air.

Dengan rasa kecewa, EA lalu mengabadikannya melalui video singkat yang kemudian diunggahnya ke sosial media. EA telah menyuarakan suatu fakta otentik bagaimana pantai kita yang sejatinya indah menawan terganggu oleh kubangan sampah.

Pemandangan yang sama bahkan lebih parah dilihatnya saat EA ke pantai Kasuso, pantai yang eksotik karena berpasir putih. Di sana, sampah berserakan tiada terkira.

Parahnya lagi, EA tak melihat ada tanda-tanda pemulihan dari pihak setempat. Sementara tumpukan sampah terus bertambah setiap harinya.

Hal yang sama juga disaksikan EA saat mampir di sekitaran pelabuhan Rakyat Bajange. Sampah berserakan dan seolah dibiarkan begitu saja. Hati EA akhirnya berkecamuk, ia merasa ada masalah besar pada perilaku masyarakat di pesisir.

KLIK INI:  Karena Sampah, Filipina Menarik Duta Besarnya di Kanada

Selain itu, ia menilai kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan masih rendah. “Kebanyakan hanya jadi penikmat alam yang datang Cuma foto, terus produksi sampah, “ kata EA.

Apa yang dialami seorang EA mungkin juga sering kita jumpai. Kesadaran kritis terhadap fenomena lingkungan memang harus ditumbuhkan terutama pada anak-anak muda.

Faktanya, kita punya masalah besar pada laut dan pesisir kita yakni beban sampah yang menggunung dan terus menghantui kita.

Riset LIPI 2018 lalu pada 18 pantai di Indonesia menemukan betapa mayoritas pantai di Indonesia memang sudah jadi sarang sampah.

Riset LIPI di seluruh area monitoring pantai menunjukkan sampah pantai telah dikerumuni plastik, karet, logam, kaca, kayu olahan, kain, serta bahan berbahaya lainnya. Diperkirakan ada 100 ribu hingga 400 ribu ton plastik per tahun milik masyarakat Indonesia masuk ke laut.

Sampah dominan berasal dari plastik sekitar 36 hingga 38 persen di seluruh area kajian. Sementara mikroplastik ditemukan pada seluruh lokasi kajian baik pada permukaan air, sedimen, maupun pada tubuh ikan.

KLIK INI:  Karena Sampah, Ribuan Wisatawan Mancanegara Batal ke Lombok

Mikroplastik ditemukan di permukaan air Sulawesi Selatan dan Teluk Jakarta. Terdapat 7,5 sampai 10 partikel per meter kubik. Pada sedimen ditemukan lebih dari 100 partikel per kilogram di Aceh, Sulsel dan Biak.

Nah, riset LIPI 2018 memang mencatat bahwa wilayah pantai di Sulawesi Selatan termasuk yang rentan jadi lokasi buangan sampah plastik.

Ini menyedihkan bukan? Mengingatkan kita pada sebuah tragedi mengerikan di sebuah sore 18 November 2018 silam saat seekor paus sperma (physeter macrocephalus) ditemukan warga terdampar di Pulau Kapota, Wakatobi Sulawesi Tenggara.

Kejadian ini menjadi viral karena pada perut paus ditemukan sampah plastik keras, botol plastik, kantong plastik hingga sendal jepit.

Yah, sampah di lautan dan di pantai telah mengganggu suasana hati kita yang membutuhkan pantai sebagai ruang piknik yang meriah. Bila di pantai saja sudah tak mengasyikkan karena kubangan sampah, akan kemana lagi kah kita menjumpai kenangan?