Pesta Pora Pepohonan tanpa Pesta Demokrasi
Klikhijau.com – Pepohonan di pinggir jalan kembali bernapas lega. Batangnya juga kembali ke warna kodratnya. Eksotis, unik, dan mengesankan—alami tanpa dekorasi Alat Peraga Kampanye (APK) dari mereka...
Klikhijau.com – Pepohonan di pinggir jalan kembali bernapas lega. Batangnya juga kembali ke warna kodratnya. Eksotis, unik, dan mengesankan—alami tanpa dekorasi Alat Peraga Kampanye (APK) dari mereka haus suara rakyat dan kekuasaan.
Para pengendara atau pengguna jalan saat ini, kembali menikmati visual pohon yang sesungguhnya. Tak tertutupi apa-apa. Tak ada pula polusi janji yang menempel pada batangnya. Janji-janji yang terasa usang dan menipu.
Setidaknya itulah yang saya rasakan, lihat, dan alami dari perjalanan singkat ke Kota Sinjai beberapa waktu lalu. Pinggir jalan ke arah Sinjai dari Bulukumba, pun begitu sebaliknya memang disesaki pepohonan di pinggirannya.
Perjalanan akan sangat terasa berbeda saat pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu). Saat pesta demokrasi berlangsung. Pepohonan akan disekap oleh ikatan dan tancapan paku untuk menempel foto mereka yang bertarung memperebutkan kursi jabatan.
[irp]
Bahkan jauh sebelum gelaran pesta demokrasi itu digelar, pepohonan di pinggir jalan akan menerima luka yang bertubi-tubi dan panjang. Para kandidat yang menamai dirinya bakal calon—akan melukai pepohonan dengan paku, kawat atau apa pun agar nama dan fotonya bisa menempel pada batang pohon.
Pohon-pohon dijadikan media promosi yang diabaikan kemerdekaannya—untuk tak mendapatkan luka dan rasa sakit dari siapa pun.
Sebagai makhluk hidup, pohon ketika ditancapi paku, pasti akan mengerang sakit. Hanya manusia terlalu tuli untuk mendengarnya. Atau terlalu merasa berkuasa atas makhluk lain selain dirinya.
Perjalanan saya ke Sinjai pasca pesta demokrasi beberapa waktu lalu, bukanlah yang pertama. Itu kedua atau ketiga kalinya. Dan sensasinya selalu lebih menyenangkan tanpa alat peraga kampanye berupa baliho dan poster yang menggantung meresahkan pada pepohonan
Saya lebih leluasa menikmati batang-batang pohon yang mengurat. Pada batang pohon itu, ada banyak makhluk hidup yang lain juga “numpang” hidup. Semut hanyalah salah satunya.
[irp]
Meski pepohonan di pinggir jalan di jalan poros Bulukumba -Sinjai belum sepenuhnya lepas dari luka paku, sebab masih banyak pohon yang jadi media memasang banner.
Namun, dibanding menjelang dan saat pesta demokrasi berlangsung sangat jauh perbedaannya—pepohonan tanpa ritus lima tahunan itu lebih bisa bernapas lega dan terlerai dari luka.