Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Ragam

Pesta Pora Pepohonan tanpa Pesta Demokrasi

Klikhijau.com – Pepohonan di pinggir jalan kembali bernapas lega. Batangnya juga kembali ke warna kodratnya. Eksotis, unik, dan mengesankan—alami tanpa dekorasi Alat Peraga Kampanye (APK) dari mereka...

Oleh Irhyl R Makkatutu 10 Jul 2025 09:04 4 menit baca
Klikhijau.com – Pepohonan di pinggir jalan kembali bernapas lega. Batangnya juga kembali ke warna kodratnya. Eksotis, unik, dan mengesankan—alami tanpa dekorasi Alat Peraga Kampanye (APK) dari mereka haus suara rakyat dan kekuasaan. Para pengendara atau pengguna jalan saat ini, kembali menikmati visual pohon yang sesungguhnya. Tak tertutupi apa-apa. Tak ada pula polusi janji yang menempel pada batangnya. Janji-janji yang terasa usang dan menipu. Setidaknya itulah yang saya rasakan, lihat, dan alami dari perjalanan singkat ke Kota Sinjai beberapa waktu lalu. Pinggir jalan ke arah Sinjai dari Bulukumba, pun begitu sebaliknya memang disesaki pepohonan di pinggirannya. Perjalanan akan sangat terasa berbeda saat pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu). Saat pesta demokrasi berlangsung. Pepohonan akan disekap oleh ikatan dan tancapan paku untuk menempel foto mereka yang bertarung memperebutkan kursi jabatan. [irp] Bahkan jauh sebelum gelaran pesta demokrasi itu digelar, pepohonan di pinggir jalan akan menerima luka yang bertubi-tubi dan panjang. Para kandidat yang menamai dirinya bakal calon—akan melukai pepohonan dengan paku, kawat atau apa pun agar nama dan fotonya bisa menempel pada batang pohon. Pohon-pohon dijadikan media promosi yang diabaikan kemerdekaannya—untuk tak mendapatkan luka dan rasa sakit dari siapa pun. Sebagai makhluk hidup, pohon ketika ditancapi paku, pasti akan mengerang sakit. Hanya manusia terlalu tuli untuk mendengarnya. Atau terlalu merasa berkuasa atas makhluk lain selain dirinya. Perjalanan saya ke Sinjai pasca pesta demokrasi beberapa waktu lalu, bukanlah yang pertama. Itu kedua atau ketiga kalinya. Dan sensasinya selalu lebih menyenangkan tanpa alat peraga kampanye berupa baliho dan poster yang menggantung meresahkan pada pepohonan Saya lebih leluasa menikmati batang-batang pohon yang mengurat. Pada batang pohon itu, ada banyak makhluk hidup yang lain juga “numpang” hidup. Semut hanyalah salah satunya. [irp] Meski pepohonan di pinggir jalan di jalan poros Bulukumba -Sinjai belum sepenuhnya lepas dari luka paku, sebab masih banyak pohon yang jadi media memasang banner. Namun, dibanding menjelang dan saat pesta demokrasi berlangsung sangat jauh perbedaannya—pepohonan tanpa ritus lima tahunan itu lebih bisa bernapas lega dan terlerai dari luka.
Perjalanan ke Makassar
Bukan hanya pepohonan di pinggir jalan poros Bulukumba-Sinjai yang berpesta pora tanpa pesta demokrasi. Tetapi, juga pepohonan di sepanjang jalan poros Bulukumba-Makassar. Di akhir Januari tahun ini, ketika saya berkunjung ke Makassar, hal serupa pun saya temukan. Pepohonan  lebih bersih dan batangnya lebih “telanjang” sehingga para pengguna jalan leluasa menikmati keindahannya. Meski beberapa pohon masih ditancapi banner dan lainnya. Namun, tak lagi seramai saat pesta demokrasi. Namanya pesta, selalu riuh. Banyak dekorasi yang menghiasinya. Seperti itu pula pesta demokrasi, hanya saja bukannya membuat indah pinggir jalan dan pepohonan, justru membuatnya mencemaskan. [irp]
 Dampak memaku pohon
Pohon yang kena  paku, tak hanya meninggalkan luka. Tetapi juga akan membuat pohon riskan terkena penyakit. Membuatnya lebih rapuh, sehingga kemampuannya menyerap polusi udara yang semakin menyesakkan akan berkurang. Padahal salah satu tujuan menanam pohon di pinggir jalan, selain menghalau panas, juga untuk menyerap polusi udara. Publikasi dengan menggunakan pohon memang terlihat murah meriah. Namun, dampaknya akan sangat mahal. Sebab, pohon akan rapuh dan pandangan pengguna juga bisa terhalang. Memaku pohon demi popularitas bukanlah langkah bijak, sebab dapat merusak jaringan pohon, menyebabkan infeksi dan penyakit, juga dapat mengganggu sistem penyerapan nutrisi pada pohon. [irp] Selain itu, memaku pohon juga dapat mengganggu ekosistem, pohon akan berlubang dan keropos, serta kambium dalam pohon rusak. Bagaimanapun, paku yang ditancapkan pada pohon akan meninggalkan luka. Luka itu butuh waktu untuk sembuh. Dan bisa saja, saat luka pepohonan akan sembuh dan tertutup. Pesta demokrasi kembali datang. Jadinya, luka itu tak pernah sembuh. Tak pernah. Dan memang begitulah sebuah pesta, tak selesai di hari H. Termasuk pesta demokrasi, luka yang ditinggalkan pada pepohonan setelah hari H-nya tak pernah sembuh, tak pernah selesai. Jika itu semua terjadi, maka pohon akan jauh dari kata baik-baik saja dan para pengguna jalan akan terus diintai bahaya. [irp]
Topik terkait
#pesta demokrasi #memaku pohon #kampanye #dampak memaku pohon #pengguna jalan #pepohoan