Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Flora dan fauna

Pertemuan Sekilas dengan Satwa Endemik, Memahami Pentingnya Perlindungan Soa Layar Sulawesi

Oleh Ulfia Kalsum 11 Oct 2026 06:44 5 menit baca

Klikhijau.com - Langkah kami menembus rimba Pattunuang di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Didampingi Taufiq Ismail, saya bersama tim Klikhijau dan rekan-rekan mahasiswa magang menyusuri jalur eksplorasi flora dan fauna yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya. Sabtu (03/10/2026). 

Lanskap yang terhampar di depan mata seketika menghentikan kata-kata, sebuah keindahan yang menyihir dan menyisa rasa kagum mendalam. Hari itu saya menyadari, Maros menyimpan sudut megah yang sanggup meluruhkan sekadar kata-kata puji.

Di tempat ini banyak memberikan saya pengalaman dan pelajaran yang berharga. Banyak pepohonan yang menjulang tinggi, banyak kupu-kupu yang berterbangan begitupun dengan capung dengan berbagai warna yang menarik,selain itu yang membuat saya terpukau sekaligus tercengang dimana terdapat sejumlah lebah yang berada pada sejumlah  lumut hijau di sungai. Ini kali pertama saya melihat hal seperti itu.

Eksploring ini bukan hanya sebatas  kegiatan yang harus dilakukan tetapi bagi saya lebih daripada itu. Bagi saya melalui ekploring ini membawa saya kedalam bagaimana keterkaitan manusia, hewan dan alam seutuhnya.

Memfokuskan titik indra kita pada flora dan fauna yang berada disekitar dengan beragam jenis yang sangat menarik. Melihat alam dengan sebegitu indahnya tak lagi menimbulkan rasa capek untuk berjalan dan melihat hal apa yang ada disekitar tetapi rasa kagum dan penasaran yang lebih mendominasi.

Perjalanan eksploring ini terasa berwarna dibarengi dengan suara tawa, penasaran hingga hal-hal seru yang semakin mewarnai perjalanan. Tetapi ditengah perjalanan, ada satwa yang menarik perhatian saya yakni  Hydrosaurus celebensis atau yang lebih dikenal Soa layar Sulawesi.

Sangat disayangkan saya hanya melihat sekilas satwa ini, karena begitu  saya mendekat dengan begitu cepatnya soa layar Sulawesi ini menghilang. Tetapi saya kagum akan instingnya yang sangat kuat. Soa layar Sulawesi  yang saya lihat masih berukuran kecil dengan warna kehijauan tetapi masih pudar. Hal itu yang membuat saya terpantik untuk mencari tahu lebih jauh.

“ Warnanya masih seperti itu karena yang tadi masih remaja, kalau besarnya itu bisa sampai 75 cm,” ungkap Taufiq Ismail.

Ciri khas Soa layar Sulawesi.

Soa layar Sulawesi ini memiliki ciri khas bagian atas  ekornya terdapat semacam layar lebar yang tumbuh. Hal inilah yang membedakan soa layar Sulawesi dengan beberapa jenis hewan lainnya. Siripnya yang berbentuk layar memiliki banyak kegunaan.

Salah satunya pada termoregulasi atau biasa dikenal dengan pengaturan suhu tubuh. Ini dilakukan disaat udara dingin misalnya pada pagi hari. Soa layar Sulawesi akan menegakkan siripnya dibawah sinar matahari agar memungkinkan tubuh mereka menyerap radiasi panas matahari secara lebih cepat agar bisa mencapai suhu operasional tubuh satwa ini.

Selain itu, siripnya yang khas juga digunakan untuk komunikasi dan pengenalan spesies antar individu. Sirip ini dilakukan untuk mengantimidasi saingan atau lawan yang berpotensi ancaman bagi satwa tersebut. Hingga pada tulisan ini saya mulai memahami satu hal  akan kata instingnya yang sangat kuat.

Hal menarik yang lain yakni pada saat musim kawin, soa layar Sulawesi yang jantan akan bertingkah lebih keras atau beringas  dalam mempertahankan wilayah atau tempat untuk memikat betina serta seringkali menampilkan warna tubuh yang cerah

Apa makanan Soa Layar Sulawesi?

Habitat utama Hydrosaurus celebensis berada disekitar tepian sungai yang memiliki vegetasi yang rapat. Daerah ini memang sangat cocok untuk keberlangsungan hidup soa layar Sulawesi ini. Berada di hutan, dikelilingi karst hingga pada sungai yang  mengalir.

Menurut riset Hamzah (2023), spesies ini termasuk satwa dengan jenis omnivora yang biasanya memakan tumbuhan dan invertebrata kecil misalnya serangga. Biasanya berburu mulai siang hingga sore hari yang dimulai pukul 12.00-18.00.

“Untuk makanannya, biasanya dia suka buah beringin yang sudah matang,” ungkap Taufiq Ismail, seorang Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Selain itu, dedaunan dan tanaman di tepi sungai juga kerap kali menjadi konsumsi soa layar Sulawesi. Secara umum satwa ini lebih banyak memakan tumbuhan daripada serangga kecil. Tanaman ficus hispida atau dikenal dengan sebutan bisoro atau luwingan juga menjadi pakan alami mulai dari daun hingga buah satwa ini.

Untuk mendapatkan mangsa, satwa ini harus berburu. Umumnya mereka memilih pada sore hari. Tempat yang sering dijadikan tempat berburu yakni di area berbatu tepi sungai dan tidak terlihat aktif saat berburu mangsanya.

Taktiknya dalam berburu selalu bermain tenang, yakni dengan cara menunggu dan mengintai pergerakan mangsa. Ketika mangsa mendekat barulah Soa Layar Sulawesi ini beraksi menyergapnya.

Mengapa penting menjaga Soa Layar Sulawesi?

Soa Layar Sulawesi adalah salah satu satwa endemik dan unik perlu kita jaga. Keberadaan di alam  dan kelangsungan hidupnya bukan sekedar pemandangan yang dapat kita lihat bersama tapi dibalik itu satwa ini memiliki peranan penting untuk menjaga kestabilan dan keseimbangan ekosistem yang perlu kita jaga bersam-sama.

Oleh karenanya, secara bersama mari kita saling mengingatkan, mengedukasi untuk menghentikan perburuan ataupun penangkapan Soa Layar Sulawesi terlebih untuk dijadikan hewan peliharaan. Khususnya pada wilayah taman nasional, hutan sebagai rumah dan kawasan bertumbuh dari banyaknya  flora dan fauna  didalamnya. Biarkan Soa layar Sulawesi tetap hidup  dialam yang terbuka, rumah bagi mereka.

Satu hal yang menarik, akan berbeda rasanya, jika kita  melihat baik itu flora dan fauna di alam terbuka. Mulailah dari langkah dengan tidak berburu satwa,  maka dengan begitu kita juga sudah memiliki peran dalam menjaga kekayaaan hutan di Indonesia terutama daerah Sulawesi Selatan.

 

Topik terkait
Soa Layar Sulawesi Hydrosaurus celebensis Pattunuang fauna