Perjalanan ke Hutan Mangrove Tongke-tongke dan Cerita yang Mengiringinya
Klikhijau.com - "Posisi di mana sekarang?" pertanyaan itu masuk ke pesan Whattsap saya. Saya membacanya ketika singgah sejenak untuk minum di depan lapangan Passamaturukang, Jeneponto. Pesan itu di...
Klikhijau.com - "Posisi di mana sekarang?" pertanyaan itu masuk ke pesan Whattsap saya. Saya membacanya ketika singgah sejenak untuk minum di depan lapangan Passamaturukang, Jeneponto.
Pesan itu dikirim Fumiko, dialah yang mendampingi mahasiswa Jepang ke Sinjai, yang salah satu tempatnya adalah hutan mangrove Tongke-tongke.
Pertanyaan Fumiko disertai dengan lima panggilan masuk ke Hp saya, yang tak satu pun panggilan teleponnya saya dengar karena sedang mengendarai ebita, nama motor saya.
Awalnya saya berencana ke Kindang, ke kampung saya lalu pagi baru bergerak ke Sinjai. Tapi, pesan Fumiko menggerakkan saya menuju kabupaten dengan semboyan Sinjai Bersatu.
[irp]
Perjalanan selalu punya aral untuk ditaklukkan. Saya beberapa kali mampir. Menghilangkan pegal sejenak.
Termasuk singgah mengisi perut di Bulukumba sebelum lanjut.
Di Tanete, jarum jam telah menunjuk angka 20 lewat belasan menit, lampu ebita padam, saya mengurung melanjutkan perjalanan. Saya mencari penginapan.
Subuhnya saya melanjutkan perjalanan. Menerabas dingin.
Menuju hutan mangrove Tongke tongke tak terlalu sulit, sebab bisa dipandu oleh google maps atau bertanya kepada warga. Hutan tersebut cukup familir, bukan hanya bagi warga Sinjai, tapi juga warga Bulukumba.
"Tak jauh dari pom bensin Sinjai, belok kanan, jalan menuju Kajang," saran seorang warga yang saya tanyai.
Jarak dari jalan poros Sinjai ke hutan mangrove Tongke-tongke sekitar 5. Sebab masih harus menempuh 1 km ke kiri dari jalan poros ke Kajang.
Penandanya adalah tembok tua berbentuk pilar yang besar, di sana tertulis "zona mangrove 1 km."
[irp posts="8786" name="Disambangi Mahasiswa Jepang, Komunitas Tobonga Pamerkan Teater Pematang Sawah"]