Perjalanan ke Hutan Mangrove Tongke-tongke dan Cerita yang Mengiringinya

oleh -450 kali dilihat
Perjalanan ke Hutan Mangrove Tongke-tongke
Perjalanan ke hutan Mangrove Tongke-tongke/Foto-Ist

Klikhijau.com – “Posisi di mana sekarang?” pertanyaan itu masuk ke pesan Whattsap saya. Saya membacanya ketika singgah sejenak untuk minum di depan lapangan Passamaturukang, Jeneponto.

Pesan itu dikirim Fumiko, dialah yang mendampingi  mahasiswa Jepang ke Sinjai, yang salah satu tempatnya adalah hutan mangrove Tongke-tongke.

Pertanyaan Fumiko disertai dengan lima panggilan masuk ke Hp saya, yang tak satu pun panggilan teleponnya saya dengar karena sedang mengendarai ebita, nama motor saya.

Awalnya saya berencana ke Kindang, ke kampung saya lalu pagi baru bergerak ke Sinjai. Tapi, pesan Fumiko menggerakkan saya menuju kabupaten dengan semboyan Sinjai Bersatu.

KLIK INI:  Rusaknya Hutan Mangrove dan Teluk Tembe di Kembar Maminasa

Perjalanan selalu punya aral untuk ditaklukkan. Saya beberapa kali mampir. Menghilangkan pegal sejenak.

Termasuk singgah mengisi perut di Bulukumba sebelum lanjut.

Di Tanete, jarum jam telah menunjuk angka 20 lewat belasan menit, lampu ebita padam, saya mengurung melanjutkan perjalanan. Saya mencari penginapan.

Subuhnya saya melanjutkan perjalanan. Menerabas dingin.

Menuju hutan mangrove Tongke tongke tak terlalu sulit, sebab bisa dipandu oleh google maps atau bertanya kepada warga. Hutan tersebut cukup familir, bukan hanya bagi warga Sinjai, tapi juga warga Bulukumba.

“Tak jauh dari pom bensin Sinjai, belok kanan, jalan menuju Kajang,” saran seorang warga yang saya tanyai.

Jarak dari jalan poros Sinjai ke hutan mangrove Tongke-tongke sekitar 5. Sebab masih harus menempuh 1 km ke kiri dari jalan poros ke Kajang.

Penandanya adalah tembok tua berbentuk pilar yang besar, di sana tertulis “zona mangrove 1 km.”

KLIK INI:  Disambangi Mahasiswa Jepang, Komunitas Tobonga Pamerkan Teater Pematang Sawah
Pembangunan perumahan

Ikuti saja jalan itu, kamu akan sambut empang dan rumah penduduk, juga perumahan yang baru dibangun.

Namun, rupanya jalan yang saya masuki, yang belum beraspal itu adalah jalan alternatif, bisa juga kamu sebut jalan pintas.

Tentang pembangunan perumahan tersebut, rupanha cukup merisaukan beberapa penduduk setempat. Salah satunya adalah Irfan.

“Entah bagaimana bisa izin pembangunannya bisa keluar. Limbah rumah tangganya jika tidak terbuang ke empang, pasti ke laut. Itu bisa mencemari lingkungan dan laut,” keluhnya.

Keluhan itu juga diungkapkan oleh Rahman, baginya pembangunan perumahan bisa tersebut bisa membahayakan lingkungan.

Namun, apa pun itu, perjalanan menuju hutan mangrove Tongke-tongke kemarin, Selasa, 17 September 2019 adalah perjalanan mendebarkan yang cukup lama, sebab saya baru tiba keesokan harinya, 18 September 2019 pagi.

KLIK INI:  Ini Langkah KLHK dalam Mendukung Tata Ruang Terintegrasi!