Peringati Hari Keanekaragaman Hayati, KLHK Gelar Temu Pakar

Klikhijau.com – Hari Internasional untuk Keanekaragaman Hayati (International Day for Biological Diversity/IDB) diperingati pada tanggal 22 Mei setiap tahunnya. Momen penting ini ditetapkan oleh Pe...

Peringati Hari Keanekaragaman Hayati, KLHK Gelar Temu Pakar
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Hari Internasional untuk Keanekaragaman Hayati (International Day for Biological Diversity/IDB) diperingati pada tanggal 22 Mei setiap tahunnya.

Momen penting ini ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan masalah keanekaragaman hayati.

Hari Keanekaragaman Hayati pertama kali diluncurkan setelah berlakunya Konvensi Keanekaragaman Hayati.

Tahun ini (2022) adalah tahun yang menjadi momentum ketika dunia sudah mulai lepas dari pandemi covid dan masing-masing Negara sudah beradaptasi dengan endemi Covid-19.

Masa yang tepat bagi komunitas global kembali mengevaluasi hubungannya dengan alam dan bagaimana alam yang sehat sebagai sumber untuk air, makanan, obat-obatan, pakaian, bahan bakar, energi dan lain sebagainya.

Itulah mengapa, tema yang diusung pada International Day for Biological Diversity adalah “Membangun masa depan bersama untuk semua kehidupan”. Pesan yang hendak disampaikan dari narasi ini adalah pentingnya keanekaragaman hayati sebagai pondasi dimana manusia dapat membangun kehidupan dengan lebih baik.

Dalam rangka memperingati IDB, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengadakan pertemuan para pakar dan akademisi untuk berdiskusi tentang Pembangunan Pusat Plasma Nutfah Indonesia dan Taman Wisata Mangrove.

Kedua pembangunan ini direncanakan untuk mendukung pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur, dimana IKN sebagai smart dan forest city juga sekaligus Ibu Kota sebagai sumber kehidupan.

Pertemuan dipandu oleh Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Hartono dan Penasihat Senior Menteri LHK, Soeryo Adi Wibowo, dan dihadiri oleh pejabat lingkup KLHK dan pakar/akademisi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Universitas Gajah Mada, Universitas Mulawarman, pakar mangrove, Ketua Forum Pohon Langka Indonesia, dan praktisi kehutanan dan lingkungan, perikanan, kedokteran hewan, pertanian.

Diskusi diawali dengan rencana Pembangunan Pusat Plasma Nutfah Indonesia yang merupakan suatu konsepsi perlunya pusat plasma nutfah untuk melindungi keanekaragaman hayati khususnya pada level genetik atau yang sering disebut sebagai plasma nutfah.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2