Perihal Burung Gereja dan Alasan di Balik Penamaannya

oleh -35 kali dilihat
Burung gereja
Burung gereja-foto/Piaxabay
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Burung gereja. Seingat saya burung dari keluarga Passeridae ini hanya biasa ditemukan di kota atau pinggiran kota.

Ia tidak akan terbang jauh hingga ke pelosok kampung atau desa. Misalnya di kampung saya, Desa Kindang, Bulukumba yang berhawa dingin khas pegunungan. Burung yang termasuk ke dalam filum chordate ini dulu tidak pernah terlihat. Itu dulu.

Namun, beberapa tahun belakang, keberadaannya mulai sangat mudah ditemukan. Ia suka masuk ke rumah memakan gabah warga meski telah terikat dalam karung. Burung dari kelas Aves ini juga suka bertengger pada kabel listrik, dahan pohon hingga atap rumah.

Burung yang biasa disebut burung pingai ini merupakan jenis burung pipit kecil. Di kampung saya, burung pipit dinamai dongi, maka burung gereja biasa disebut dongi gereja.

KLIK INI:  Di Antara 50 Miliar Burung Liar, Ini 4 Spesies Burung Paling Dominan!

Di antara banyak jenis burung pipit, burung gereja ini yang paling berani dekat dengan manusia. Namun, ia akan terbang ketika manusia mendekatinya.

Karena itu, jika ada yang menjemur gabah di halaman rumahnya atau di pinggir jalan. Burung subordo Passeri ini menjadi ancaman.

Ia bisa makan dengan santai, meski ada orang di dekatnya, tapi jangan mengira mudah menangkapnya. Begitu didekati ia akan terbang menjauh.

Karena tidak takut didekati manusia, maka burung ini disebut pula dengan human dominated ecosystem.

Bagaimana burung ini bisa sampai ke kampung? Pertanyaan itu terjawab oleh pernyataan Howes et al., 2003), menurutnya kehadiran suatu jenis burung pada umumnya menyesuaikan dengan kesukaannya terhadap suatu habitat. Hal itu dikarenakan pada habitat tersebut burung dapat dengan mudah mendapatkan sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

KLIK INI:  Buah Rambutan, Lezat Dagingnya dan Jangan Sepelekan 4 Manfaat Ajaib Bijinya

Selain itu, burung gereja juga  memiliki tingkat adaptasi yang tinggi terhadap perubahan kondisi cuaca, ketersediaan pakan maupun predator (Tobolka 2011).

 Asal usul nama

Burung yang berbadan kecil ini bukanlah asli Indonesia. Ia berasal dari benua Afrika, namun tersebar di benua Eropa, Australia, dan Asia yang memiliki iklim sedang.

Menariknya, meski memiliki bulu yang indah dan suara yang lucu, nyaris tidak ada yang menjadikan burung ini sebagai peliharaan.

Pemiliki warna garis mata yang hitam dan pipi berwarna putih dengan bercak hitam ini, memliki paruh yang kuat yang bisa memecahkan biji-bijian.

Burung ini mudah dibedakan antara jantan dan betina. Jantan memiliki warna merah bata pada bagian atas kepalanya, ada warna hitam pada bagian tenggorokannya. Sedangkan tepi lehernya berwarna putih, dan bagian perutnya berwarna keabu-abuan.

KLIK INI:  Kangkung, Mudah Tumbuh dan Enak Dimakan, Ini 6 Fakta Menarik Lainnya!

Sementara burung gereja berjenis kelamin betina memiliki warna yang sama dengan jantan, hanya saja warna sedikit lebih pucat daripada si jantan.

Burung yang memiliki panjang tubuh 14 hingga16 cm ini saat sudah dewasa akan berwarna cokcaah kemerahan dengan kepala cokelat, garis mata hitam dan pipinya putih dengan bercak hitam di tengah pada bagian atasnya. Dan bagian berwarna keabu-abuan dengan nada kecoklatan pada sisi-sisinya.

Jika ditelisik, burung pemilik berat 0,8-1,4 ons ini, mudah temukan hampir di seluruh Indonesia, baik di perkotaan maupun pedesaan, khususnya pada ketinggian 1500 mdpl.

Dilansir dari Kumparan, asal usul nama burung gereja berawal dari keseringannya bertengger dan bersarang di gereja.

KLIK INI:  Maleo, Burung Langka yang Paling Setia Pada Pasangannya dan 6 Fakta Unik Tentangnya

Konon ketika kali didatangkan ke Jawa dan Sulawesi. Burung dari ordo Passeriformesini mencari tempat “beristirahat” di dalam sebuah bangunan yang tinggi dan besar.

Dikarenakan tidak bisa terbang terlalu tinggi, dan gereja adalah bangunan yang dianggapnya cocok,  maka mereka memilih bertengger  di gereja.

Karena sering berada di gereja, burung ini lalu bersarang di atap atau langit-langit gereja. Mereka menjadikan gereja sebagai tempat nongkrong.

Karena keseringan itu, akhirnya dinamailah oleh masyarakat burung gereja hingga kini.

KLIK INI:  Bagaimana Hubungan dan Interaksi Antara Serangga dengan Tumbuhan?