Peluang Godzilla El Niño Kecil, BRIN Imbau Waspada Kemarau Panjang
Klikhijau.com - Kabar baik bagi masyarakat Indonesia yang cemas dengan isu kedatangan fenomena iklim ekstrem tahun ini. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan bahwa peluang terjadinya Godz...
Klikhijau.com - Kabar baik bagi masyarakat Indonesia yang cemas dengan isu kedatangan fenomena iklim ekstrem tahun ini. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan bahwa peluang terjadinya Godzilla El Niño istilah untuk El Niño dengan intensitas super kuat yang memicu kekeringan parah sangat kecil untuk terjadi pada tahun 2026.
Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, menjelaskan bahwa analisis model iklim global saat ini justru menunjukkan kecenderungan El Niño kategori moderat dengan peluang hanya sekitar 27 persen. Kondisi ini jauh berbeda dari hantaman El Niño ekstrem yang pernah melanda tanah air pada tahun 1997 dan 2015 silam.
Meski terbebas dari bayang-bayang Godzilla El Niño, bukan berarti kita bisa melonggarkan kewaspadaan. BRIN memprediksi musim kemarau tahun ini akan berlangsung jauh lebih lama dari kondisi normal dengan curah hujan di bawah rata-rata.
[irp]
Secara ilmiah, El Niño terjadi akibat pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang memindahkan pusat pembentukan awan hujan menjauh dari Indonesia.
Akibat pergeseran ini, peluang terjadinya kemarau panjang di Indonesia mencapai angka 81 persen, dengan puncak kekeringan diprediksi runtuh pada bulan Agustus nanti.
Sejumlah wilayah di Pulau Jawa, khususnya kawasan Jawa Barat seperti Bekasi, Cirebon, Kuningan, dan Kota Bandung, menjadi daerah yang berpotensi mengalami kondisi paling kering.
Secara teoritis, absennya El Niño ekstrem tahun ini dikarenakan kondisi fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang terpantau netral dan diprediksi bertahan hingga April 2027. Selain itu, Indonesia baru saja melewati fase El Niño kuat pada periode 2023–2024, sehingga lautan belum mengumpulkan energi fisik yang cukup untuk memicu anomali super ekstrem dalam waktu sedekat ini.
Namun, radar kewaspadaan justru harus digeser ke masa depan. Menggunakan pendekatan analisis stokastik melalui Persamaan Fokker-Planck, BRIN menemukan sinyal bahaya bahwa peluang kemunculan Godzilla El Niño justru meningkat hingga mendekati 40 persen pada periode akhir 2027 hingga pertengahan 2028. Temuan ini menjadi alarm dini bagi pemerintah untuk menyusun strategi mitigasi jangka menengah.
[irp]
Menjawab tantangan kemarau panjang 2026, BRIN telah menyiagakan berbagai inovasi teknologi berbasis riset untuk menekan dampak kerugian. Di sektor kehutanan, BRIN mengandalkan platform Ina-Carbon yang memantau lahan gambut secara real-time untuk mendeteksi titik kritis kebakaran satu hingga dua minggu sebelum api berkobar.
Jika kebakaran telanjur terjadi di medan yang sulit, armada drone pemadam kebakaran siap diterjunkan ke lokasi terpencil. Sementara di sektor pangan, BRIN menyiapkan bantalan adaptasi berupa sistem irigasi hemat air, efisiensi tata kelola air, serta optimalisasi lahan suboptimal seperti rawa lebak agar produksi pangan nasional tidak limbung saat lahan pertanian konvensional mengering.
Kunci keberhasilan melewati fase El Niño 2026 ini bertumpu pada kesiapan teknologi dan langkah adaptasi yang dimulai sejak dini, bukan pada seberapa besar anomali cuaca yang terjadi.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak panik secara berlebihan, namun tetap meningkatkan kesiapsiagaan. Langkah nyata seperti memperkuat manajemen cadangan air, menjaga lingkungan dari potensi karhutla, dan mengamankan rantai pasok pangan mandiri adalah tindakan terbaik yang bisa dilakukan saat ini demi meminimalkan dampak kemarau panjang.