Pameran Terakhir yang Tak Sempat Disaksikannya

Pameran Terakhir yang Tak Sempat Disaksikannya
Pameran dan diskusi lukisan seni rupa seniman Makassar, Senin, 19/10/2026--foto/Klikhijau
Bacakan Artikel
Asman Djasmin

Seniman kontemporer Makassar

Asman Djasmin

Artikel terbaru dari Asman Djasmin (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Klikhijau.com - Ada getar yang baru menyingkap pedihnya justru ketika hari perjumpaan tiba. Sebuah pameran telah diracik, karya-karya disatukan dalam ruang, dan nama-nama seniman telah dipahat pada deret acara. Segala denyut seolah bergerak menuju satu muara perayaan. Namun, di sela-sela harapan yang mekar selama persiapan, maut menyelinap—merampas hak seorang seniman untuk sekadar berdiri di hadapan hasil penantiannya sendiri.

Nama seniman itu Ahmad Anzul.

Pameran tunggalnya dalam jalinan Spirit Leang-Leang: Nafas Panjang Seni Rupa Makassar ditakdirkan untuk tetap bernapas. Tajuk Kampung Garam—Rindu ya Sama Kami yang semula dibayangkan sebagai ruang pelukan antara sang perupa, karya, dan penontonnya, kini terenggut makna awalnya. Takdir mengubah arah perjumpaan. Sahabat kita ini telah berpulang sebelum hari yang kedua tangannya sulam dengan semangat itu sempat merekah. Pameran terus berjalan, namun sang tuan rumah, sosok yang paling dinanti senyumnya di ambang pintu, justru telah menjelma keheningan.

Ada keganjilan yang menyayat manakala kita dihadapkan pada peristiwa semacam ini. Pameran lazimnya merupakan panggung katarsis; ruang bagi seniman untuk mendedahkan pergulatan batin, mengurai gagasan, atau sekadar berdiri khusyuk di sudut ruangan, meresapi tatapan orang-orang pada kanvasnya. Bagi banyak perupa, momen itu menjadi ritus penting dalam lintasan berkesenian. Namun bagi Anzul, ritus itu tak pernah diizinkan berlabuh oleh waktu.

Dunia seni acapkali merangkum pameran sebatas hal-hal yang fisikal dan mudah dikalkulasi: dimensi ruang, deret nama, kurasi tema, hingga riuh rendah ulasan purnarupa. Semua itu memang sebentuk keniscayaan dalam ekosistem seni. Namun, absennya sahabat kita ini menjadi teguran yang getir: di balik megahnya etalase pameran, berdiam kehidupan manusia yang tak selalu patuh pada presisi jadwal. Kalender boleh mematok tanggal, panitia sanggup menata urutan acara, dan karya bisa digantung dengan rapi. Namun sayang, tak ada satu pun dari semua itu yang mampu menjamin bahwa napas sang seniman akan tetap berembus saat pita pembukaan digunting.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Tim Redaksi

Artikel ini disusun oleh tim redaksi