Pameran Kampung Garam, Jembatan Pertemuan Karya Amrullah Syam dan Ahmad Anzul
Klikhijau.com — Pameran dan diskusi seni rupa “Kampung Garam dalam Siklus Tradisi” menghadirkan karya Amrullah Syam dan almarhum Ahmad Anzul di Warkop Indonesia, Jalan Anggrek Raya, Panakkukang, Makassar, Senin (19/10). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian “Spirit Leang-Leang – Napas Panjang Perjalanan Seni Rupa Makassar #3”.
Pameran ini mempertemukan “Tafsir Tradisi” karya Amrullah Syam dengan “Kampung Garam” karya Ahmad Anzul. Melalui karya kedua perupa, publik diajak menelusuri bagaimana tradisi membentuk ruang hidup, serta bagaimana pengalaman di dalamnya melahirkan karya seni.
Pada “Tafsir Tradisi”, karya Amrullah Syam dibaca melalui pendekatan filosofis dan simbolik. Sementara itu, “Kampung Garam” membuka pembacaan atas ruang pesisir, pengalaman tubuh, dan ingatan personal. Kedua pendekatan tersebut menjadi pintu masuk untuk membicarakan hubungan manusia dengan kebudayaan yang dihidupinya.
Catatan art.e.fact mengenai Makassar Biennale 2017 merekam bagaimana Anzul mengolah pengalaman masa kecil di pesisir dan peristiwa keseharian ke dalam “Kampung Garam”. Jejak ini memperkaya pembacaan atas karya-karyanya, dengan menempatkan garam sebagai material sekaligus penanda perjalanan hidup.
Dalam gagasan kegiatan ini, siklus air laut, penguapan, kristalisasi, dan panen garam dipertautkan dengan proses berkarya: pengalaman yang mengendap, direnungkan, lalu menemukan bentuk visual. Garam menjadi metafora daya rawat, sedangkan seni membuka kemungkinan untuk menjaga ingatan dan memperpanjang percakapan tentang tradisi.
Pemilihan warkop sebagai tempat kegiatan merupakan bagian dari upaya mendekatkan seni kepada kehidupan sehari-hari. Pengunjung dapat menikmati karya sekaligus ikut membicarakan gagasan di baliknya dalam suasana santai dan terbuka. Ruang perjumpaan ini diharapkan mempertemukan seniman, akademisi, budayawan, komunitas, dan masyarakat.
Pameran dirancang menampilkan lukisan, gambar, dan dokumentasi visual. Kegiatan juga diisi diskusi seni rupa dalam format Tudang Sipulung untuk membahas karya dan tema Kampung Garam melalui perspektif seni, sosiologi, antropologi, serta kebudayaan maritim.
Program yang dikoordinasikan oleh Wahyuddin Yunus selaku Ketua/Penanggung Jawab Program Spirit Leang-Leang ini juga diarahkan untuk mendokumentasikan karya dan pemikiran kedua perupa. Catatan serta rekaman diskusi direncanakan menjadi bahan penyusunan buku Spirit Leang-Leang, sekaligus bagian dari pengarsipan perjalanan seni rupa Makassar.
Melalui pameran dan diskusi ini, Spirit Leang-Leang mengajak publik membaca kembali akar agraris dan maritim dalam seni rupa Makassar. Masyarakat umum, pegiat seni dan lingkungan, akademisi, budayawan, serta media.