Klikhijau.com - Menyemai biji kopi akan memakan waktu yang lumayan lama. Butuh waktu delapan hingga dua belas bulan (satu tahun) bahkan lebih baru bisa pindah tanam. Pun butuh tenaga dan biaya yang ek...
Klikhijau.com - Menyemai biji kopi akan memakan waktu yang lumayan lama. Butuh waktu delapan hingga dua belas bulan (satu tahun) bahkan lebih baru bisa pindah
tanam. Pun butuh
tenaga dan biaya yang ekstra.
Ancaman kegagalannya pun ada.
Double, bahkan. Kegagalan pada saat semai dan pada saat pindah tanam mengintai. Meski begitu, keuntungannya jelas banyak pula. Kualitas bibit yang disemai lebih terjamin, misalnya.
Namun, bagi mereka yang tak sabaran, ada jalan pintas tersedia jika ingin menanam kopi lebih cepat, baik itu jenis robusta maupun arabika. Namanya
pallangnga'. Tak perlu tempat semai, tak ada semai, tak ada drama mengisi
polybag dengan tanah, tak perlu adegan menyiram bibit pagi dan sore, serta tak usah menunggu bibit besar. Cukup siapkan saja waktu sejenak dan tenaga untuk mencabutnya langsung dari kebun kopi. Setelah dicabut,
bibit bisa langsung ditanam.
Menanam
pallangnga' adalah pilihan yang banyak dipilih masyarakat Kindang dan sekitarnya. Bukan hanya karena murah meriah, tetapi lebih gampang dan minim perawatan. Pun tak perlu menunggu bibit cukup usia untuk dipindahkan. Masalahnya hanya terletak pada kualitas bibit kopinya. Namun, ini bisa disiasati dengan bertanya ke pemilik kebun kopi yang akan dicabut
pallangnga'-nya, seperti apa pohon kopinya selama ini.
[irp]
Survei kecil-kecilan seperti ini penting untuk mendapat gambaran seperti apa
pallangnga' yang akan diambil dan ditanam nantinya. Pilihan biasanya jatuh pada kopi yang selalu berbuah banyak dengan biji besar.
Selama ini, jenis kopi yang paling banyak dicari
pallangnga'-nya adalah arabika. Selain lebih gampang dicabut, harga bijinya juga lebih "langit" daripada kopi robusta. Namun, tetap ada pula yang mencari kopi robusta untuk kelak disambungkan dengan pucuk atau entres kopi arabika (sambung pucuk). Di Desa Kindang, nama jenis kopi ini adalah
lambungang. Sebuah penyatuan “cinta” antara kopi robusta dan arabika.
Keduanya disatukan pada satu pohon, bukan hanya pada satu gelas kopi yang disajikan di sebuah kafe.
[irp]
Perihal pallangnga'
Ada satu kebiasaan unik dan menarik masyarakat Kindang: berlomba-lomba menanam komoditi atau tanaman yang harganya sedang menggiurkan. Ada yang bahkan tak segan "memberantas" tanaman lamanya demi memberi ruang tanaman baru untuk bernapas yang harga jualnya lebih tinggi.
Kopi, misalnya. Tahun ini harganya sangat menggiurkan, khususnya jenis kopi arabika. Karena harganya sangat baik, banyak orang yang kembali tertarik menanamnya. Banyak yang mau menanam dengan cara instan, tak ingin repot menyemai. Langsung tanam saja.
Di sanalah
pallangnga' hadir sebagai penyelamat bagi orang yang ingin instan itu.
Pallangnga' adalah istilah lokal di
Desa Kindang dan sekitarnya untuk menamai bibit kopi yang tumbuh liar di kebun. Tanpa semai, tanpa perawatan.
Kelahiran
pallangnga' adalah kelahiran yang tak diinginkan. Semakin banyak, semakin menegaskan pula jika banyak biji kopi yang tak terpetik; jatuh begitu saja mencium tanah, lalu bertumbuh. Saat tumbuh dan besar, bukannya disambut gembira, banyak yang menyambutnya dengan sedih dan harus memberantasnya karena mengganggu tanaman utama.
[irp]
Jika tak segera diatasi, dengan cara dicabut misalnya, maka ia berpotensi menjadi "gulma".
Pallangnga' adalah
uru' kopi yang tumbuh begitu saja.
Uru' kopi merupakan istilah lokal yang digunakan untuk
biji kopi yang jatuh sendiri ke tanah. Biasanya karena sudah terlalu masak atau dimakan tikus, kelelawar, dan kawan-kawannya yang menyukai kopi.
Saat jatuh dan luput dari pungutan, maka ia akan tumbuh. Saat tumbuh dan tak terbasmi, itulah yang berubah menjadi
pallangnga'. Dan inilah yang diburu oleh mereka yang ingin menanam kopi tetapi tak punya waktu menyemai. Ingin cepat.
Jika menyemai bibit kopi ada dua kemungkinan waktu kegagalan (saat semai dan pindah tanam), maka menanam
pallangnga' nyaris tanpa kegagalan. Iya, anti-gagal. Pun lebih cepat berbuah karena biasanya yang dipilih adalah yang telah besar, sehingga dalam waktu satu atau dua tahun saja telah
buah salah (belajar berbuah).
[irp]
Sementara bibit kopi yang disemai dan dipindahkan ke media tanam pada usia delapan sampai dua belas bulan menurut laman
ottencoffee, butuh waktu yang panjang, sekitar tiga hingga empat tahun sebelum benar-benar menjadi pohon kopi dewasa yang siap menghasilkan bunga dan buah kopi.
Nah, jika kamu berniat menanam kopi, kamu berada di gerbang mana? Apakah di gerbang menyemai bibit atau di gerbang
pallangnga'? Namun, jika kamu tipe orang yang suka proses panjang, saran saya pilih gerbang semai. Namun, jika kamu tipe yang suka instan-satset, kamu pilih gerbang
pallangnga'.
Pilihan gerbang mana pun, satu hal yang mesti diperhatikan, kopi yang kamu tanam mesti dirawat. Perawatannya harus lebih intens dari merawat kenangan dengan mantan.
tb, Mei 2026
[irp]