Padang Loang, Tempat Nostalgia dengan Pasukan Kahar Muzakkar
Klikhijau.com – Seorang teman mengirimkan sebuah video yang berdurasi singkat. Dalam video itu tampak beberapa orang sedang mengendarai motor menelurusi tanah lapang. Rerumputan hijau memenuhi tanah...
Klikhijau.com – Seorang teman mengirimkan sebuah video yang berdurasi singkat. Dalam video itu tampak beberapa orang sedang mengendarai motor menelurusi tanah lapang. Rerumputan hijau memenuhi tanah lapang tersebut. Tak lama setelah itu, kabut perlahan turun menyelimutinya.
Beberapa orang dalam video itu terlihat dingin. Rasa dingin—yang sepertinya lahir karena tempat itu berada di atas ketinggian. Letaknya di Desa Bentenge, Kecamatan Mallawa, Maros. Namanya Padang Loang memiliki jarak 4 km dari kantor Desa Bentenge.
[caption id="attachment_1338" align="aligncenter" width="800"] Pengunjung sedang menikmati Padang Loang/foto-Nursam[/caption]
Mata pencaharian penduduk setempat adalah petani, dengan jumlah penduduk 1.200 jiwa. Tapi tulisan ini tak akan mengisahkan perihal mata pencaharian penduduknya. Tulisan ini akan mengisahkan sebuah tempat menikmati alam yang nyaman.
“Tempat pertemuan pasukan gerliyawan Kahar Muzakkar, semacam markas. Lebih luas dari lapangan Karebosi. Kamu bisa bayangkan,” terang Nursam, Ketua Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Kecamatan Mallawa. Dialah yang mengirimkan video singkat itu.
[irp posts="785" name="Memanen Pesona Matahari Pagi di Atas Gunung Pattaneteang"]
Pengunjung berkemah di Padang Loang/ foto-Nursam[/caption]
Berada di Padang Loang menurutnya memiliki nilai tambah yang tak dimiliki tempat lain. Sebab dari ketinggiannya, pengunjung bisa melihat gunung Bulusaraung dari sisi yang berbeda. Hal itu akan menambah nilai eksotik bagi yang suka jelajah alam.
“Jalan ke sana masih kurang bagus, tapi bisa dilewati mobil, khususnya mobil jenis Jeep atau motor, terutama motor trail atau motor ojek gabah,” lanjutnya.
Untuk menuju ke Padang Loang, harus mendaki selepas kampung di Desa bentenge, melewati dua sungai kecil yang bisa menjadi tantangan perjalanan—tantangan itu membuat perjalanan semakin mendebarkan dan menggemaskan
“Hal paling utama yang dibutuhkan adalah Water Closet (WC) umum agar pengunjung tak buang hajat sembarangan,” ujarnya lagi.
Iya, harapan Nursam memang penting diwujudkan lebih awal, sebab ketiadaan WC di Padang Loang akan melahirkan suasana tak nyaman bagi pengunjung dan tentu akan mencemari lingkungan setempat.
[irp posts="266" name="Berkah Bakau yang Memukau di Utara Makassar"]
Mobil yang berhasil menaklukkan Padang Loang/foto-Nursam[/caption]
Harapan yang dilangitkan Hatta Rahman, Nursam, Haedar, dan Hasrullah mendapat dukungan dari Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung—tak bertepuk sebelah tangan.
“Menurut saya ini memungkinkan untuk dilakukan kerjasama dalam bentuk kemitraan. Kita bisa mempedomani aturan Perdirjen Konservasi Sumber Daya Alah Ekosistem (KSDAE) Nomor P.06 tahun 2018 yang mengatur tentang Petunjuk Teknis Kemitraan Konservasi pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam,” pungkas Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
“Kerjasama antara Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dengan masyarakat di Desa Patanyamang dan Desa Bentenge dapat dilakukan ke depannya melalui Perjanjian Kerjasama (PKS),” tambahnya.
***
Video itu berkali-kali saya putar, mengingat-ingat percakapan saya dengan Nursam. Saya berniat menulis tentang Padang Loang.
Sebuah tulisan yang diharapkan bisa membantu mengabulkan harapan Haedar, Nursam, dan Hasrullah untuk mengespos tempat ini lebih luas sehingga bisa jadi tujuan wisata yang nyaman dan memesona.
Tempat untuk bernostalgia dengan pasukan Kahar Muzakkar yang menjadikan Padang Loang sebagai tempat pertemuan pada masa lampau.
[irp]