Orangutan Tapanuli, Spesies Baru yang Paling Terancam Punah di Dunia

oleh -192 kali dilihat
Orangutan Tapanuli, Spesies Baru yang Paling Terancam Punah di Dunia
Orangutan Tapanuli/Foto-batangtoru.org

Klikhijau.com – Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) pada awal November 2017 lalu, diumumkan oleh peneliti sebagai spesies baru orangutan. Temuan tersebut dipublikasikan oleh Nater dan tim di jurnal Internasional Current Biology.

Spesies baru orangutan ini ditemukan di hutan hujan Sumatera Utara. Dikutip dari BBC, orangutan Tapanuli ini menjadi spesies kera besar ke delapan yang dikenal di dunia dalam kurun waktu satu abad terakhir.

Spesies kera besar terakhir yang dideskripsikan dalam sains adalah Nonobo. Kera besar yang ditemukan di Republik Demokratik Kongo tahun 1929.

Sayangnya, penemuan spesies baru ini beriringan dengan kabar buruk. Kabar jika habitat mereka di ekosistem perbukitan Batang Toru di tiga kabupaten Tapanuli itu kian berkurang. Kehidupannya terus berada dalam bahaya besar akibat aktivitas manusia.

KLIK INI:  Kolaborasi Dapat Membantu Tingkatkan Keanekaragaman Hayati

Konversi habitat menjadi lahan pertanian serta deforestasi dan degradasi hutan membuat mereka terancam punah. Bahkan, dalam Daftar Merah IUCN, spesies orangutan ini berstatus Kritis (Critically Endangered).

Fakta-fakta tentang Pongo tapanuliensis

Dikutip dari laman Batangtoru.org, Orangutan Tapanuli tersisa kurang dari 800 individu dan hanya ditemukan di Ekosistem Batang Toru di ketiga kabupaten Tapanuli.

Sekitar 85% dari wilayah Ekosistem Batang Toru itu bersebaran status Hutan Lindung. Sementara 15% termasuk hutan primer masih status Areal Penggunaan Lain.

Sebagian besar sisa habitat orangutan Tapanuli hidup di atas ketinggian 850 m. Spesies ini juga sangat lambat berkembang biak. Betina orangutan ini melahirkan dalam rentang waktu sekitar 8 atau 9 tahun.

Orangutan Tapanuli sangat rentan dengan habitatnya yang sempit karena sebagian besar bukan merupakan hutan konservasi. Begitulah hasil studi Sloan et al yang diterbitkan di jurnal Current Biology pada Juni 2018.

Apalagi, rencana pembangunan bendungan besar di hutan primer dengan kepadatan orangutan dan keanekaragaman hayati paling tinggi di Ekosistem Batang Toru.

Rencana ini akan merusak habitat inti orangutan Tapanuli ini. Tindakan sesegera mungkin sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan orangutan dan habitatnya.

KLIK INI:  Miliki DNA Mirip Manusia, Orangutan Juga Bisa Terserang ISPA