Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Feature

Nya'liki, Rahasia di Balik Nikmatnya Rasa Kopi

Oleh Irhyl R Makkatutu 09 Sep 2026 20:37 5 menit baca

‎Klikhijau.com - ‎Ia memejamkan mata setiap selesai menyesap kopinya. Membiarkan rasa pahit menghadirkan sensasi liar yang hangat.

Lagu Sheila on 7 mengalun lembut. Ia selalu menyukai memutar lagu band asal Yogyakarta itu saat minum kopi.

Entah kenapa, ngopi dengan iringan lagu Duta dkk rasanya selalu tepat sasaran; menggeledah ingatannya. Tentang seseorang yang kini entah berumah di mana.

Seteguk kopi baginya adalah seluruh kisah perjalanannya dengan perempuan itu, yang mengenalkannya pada kopi.

Ia terus menikmati kopinya, pada suatu sore di sebuah kafe pinggiran kota. Kafe yang menawarkan pemandangan yang semakin langka— hamparan sawah.

‎‎Ia memandang jauh hamparan sawah itu, membetulkan headset di telinganya. Ia kembali menyesap kopinya, rasa pahit yang nikmat melewati tenggorokannya.

‎‎Bagaimana rahasianya kopi bisa senikmat ini? Tanyanya dalam hati. Tanya yang tak pernah ia ucapkan itu memenuhi kepalanya.

‎‎......

‎‎Di sebuah kampung di lereng Gunung Lompobattang, seorang perempuan melawan gigil. Ia rela dipeluki hujan demi memetik kopinya yang merah (biji ceri). Dengan telaten ia memilih dan memilah mana biji kopi yang telah memerah, mencampakkan yang masih hijau.

‎Ia tak menghitung itu yang keberapa kalinya ia memetiki kopinya yang luasnya tak seberapa itu.

‎‎Ia bisa saja menghemat waktu dan tenaga dengan memetik kopinya sekaligus. Tak memilah yang merah saja. Banyak petani yang melakukan hal begitu. Muppulu sappung—memetik sekaligus semua buah kopi.  Mencampur adukkan saja antara merah dan hijau. Cara yang belakangan dikenal dengan nama rampas.

‎‎Sementara dirinya lebih memilih cara yang lambat. Memetik yang merah saja. Di kampungnya, di lereng Gunung Lompobattang yang dingin, cara ini dinamai nya'liki. Kualitas kopi yang dihasilkan dari cara ini lebih nikmat, sebab yang dipetik hanyalah yang merah saja.

‎‎Ia memilih nya'liki, sebab ingin menikmati kopi yang bikin nagih, harga jualnya juga lebih tinggi. Pun ia telah memiliki pelanggan, tempat melabuhkan kopinya. Pelanggan yang tak pernah mengecewakannya.

‎‎Pelanggannya itu memiliki kafe di pinggiran kota dengan pemandangan hamparan sawah yang memukau. Ia tak ingin  pelanggannya itu kecewa karena disuguhi kopi campur aduk—hijau dan merah.

----

Tak muda memetik kopi dengan sistem nya’liki. Cara ini harus digunungi kesabaran. Pun kopi yang disa’liki harusnya memiliki tingkat perawatan yang ekstra ketat. Harus dibollo—dipangkas pucuk hingga tumbuh menyerupai “bonsai”.

Kopi yang tak dibollo akan sulit disa’liki, sebab harus ditarik menggunakan pengait atau pakkai. Pun bagi yang memiliki segudang kesibukan, tak akan memilih cara ini.

Namun, petani yang mengejar kualitas kopi, serumit apa pun sistem nya’liki, mereka akan melakukannya. Mendamaikan dengan kesibukannya yang lain.

Di Desa Kindang dan sekitarnya, tantangan memetik kopi adalah musim hujan. Saat memasuki musim panen, saat itu pula hujan akan tiba. Terkadang nyaris tanpa jeda—siang dan malam. Waktunya antara April hingga Juni.

Di saat yang sama, musim panen tire atau porang pun mendesak.

Hanya arabika

Umumnya kopi yang disa’liki di Desa Kindang dan sekitarnya hanyalah kopi arabika. Sementara kopi mere alias robusta akan dipuppulu sappung.

Ada dua jenis cara nya’liki yang biasa ditempuh petani, nya’liki poko’  dan nya’liki biji perbiji. Nya’liki poko’ adalah memetik tuntas satu pohon kopi yang telah matang meski tak semuanya telah merah. Cara ini dianggap lebih gampang karena tak perlu keliling mencari buah yang telah memerah.

Cara kedua, dengan memilih saja biji yang telah matang alias merah. Ini butuh ketelatenan dan kesabaran. Namun hasilnya kualitas kopi akan lebih aduhai (apalagi jika diolah dengan baik), pun nilai jualnya jauh lebih tinggi.

Kenapa banyak petani kopi di Desa Kindang dan sekitarnya lebih memilih muppulu sappung daripada nya’liki. Sebab dominan kopi nibalu batu (dijual dalam bentuk biji utuh) tanpa diolah terlebih dahulu.

Cara ini ditempuh karena dianggap lebih simple tanpa perlu mengeluarkan tenaga lebih. Begitu selesai dipetik, langsung jual saja. Selesai persoalan. Apalagi saat selesai menjual kopi ada tukang bakso lewat, hmmm.

Sementara yang disa’liki, petani biasanya mengolahnya terlebih dahulu dalam bentuk peco’ (hanya menyisakan kulit dalam yang berwarna putih).

......

Saat lelaki itu hampir menandaskan kopinya. Seorang perempuan asing masuk ke kafe. Ia membawa karung terigu yang terlihat berat, meski isinya hanya setengah.

Ia  memerhatikannya, dan betapa kaget sebab perempuan itu tampak akrab dengan owner kafe—tempat favoritnya menikmati kopi, juga rasanya sangat intim di ingatannya. 

“Ini ada sample kopi yang baru dipetik. Masa panen raya belum tiba, ini baru nya’liki awal,” ujar perempuan itu. Entah bagaimana, suara perempuan itu mengalahkan lagu Sheila on 7 yang ia dengan melalui headset.

Ia tak melepas pandang dari perempuan itu. Ia ingin melangkah mendekatinya. Membunuh rasa penasarannya perihal rasa kopi yang baru saja dinikmatinya, yang menurut owner kafe—kopi itu berasal dari sebuah kampung di selatan, di lereng Gunung Lompobattang.

Ia menduga, perempuan itulah yang banyak tahu atau barangkali ia adalah petani kopi di lereng Gunung Lompobattang itu.

Ia bangkit dari tempat duduknya, melangkah mendekati perempuan itu.

----

Setelah kopi yang disa’liki kering dan berubah jadi kopi eso (green bean), perempuan itu berniat membawanya sendiri ke sebuah kafe di ibu kota provinsi. Kafe dengan pemandangan yang langka—hamparan sawah.

Sudah lama ia tak ke kafe itu. Kafe yang didirikan oleh mantan kekasihnya yang telah mengkhianatinya dengan menikahi temannya sendiri. Namun, ia tak membiarkan rasa sakit dan kebencian menguasai dirinya.

Ia menjalin persahabatan yang bahkan lebih erat daripada saat menjalin kisah asmara. Keduanya lalu menjelma sahabat sekaligus mitra bisnis kopi.

Awalnya tak mudah menyiapkan kopi dengan kualitas premium, namun setelah ia menempuh jalan nya’liki. Kopinya laris manis—kafe mantan kekasihnya itu pun selalu ramai.

Ketika ia membawa kopi di hari Rabu lalu, seorang lelaki terlihat memerhatikannya. Saat lelaki itu hendak menghampirinya—ia memilih untuk lekas pergi—menaiki motornya dengan tergesa.

Ia merasa kenal, bahkan sangat kenal dengan lelaki itu. (***).

Topik terkait
kopi biji kopi minum kopi petik merah desa kindang kualitas kopi