- Gakkumhut Menang Praperadilan Kasus Penebangan Ilegal di Solok, Netizen Beri Respons Pedas - 04/12/2025
- PN Poso Kabulkan Gugatan WALHI, Kawasan Industri Nickel Morowali Utara Segera Perbaiki Kerusakan Lingkungan - 04/12/2025
- Eksplorasi Gunung Laut Sulawesi, OceanX dan BRINKolaborasi Ekspedisi Laut Dalam - 03/12/2025
Klikhijau.com – Semakin menarik seekor burung secara visual. Kemerdekaannya akan semakin “suram”, sebab semakin besar pula kemungkinan ia berakhir dalam perdagangan satwa liar.
Opini tersebut diungkapkan oleh sebuah analisis global baru yang menyeluruh menemukan pola yang mencolok tersebut.
Pola tersebut muncul di berbagai benua dan jenis pasar, di mana estetika memengaruhi jaringan perdagangan legal dan ilegal.
Penelitian yang dipimpin oleh Anna Haukka, seorang peneliti doktoral di Universitas Helsinki (UH) tersebut. Berfokus pada bagaimana preferensi manusia membentuk perdagangan dan konservasi satwa liar.
Dilansir dari Earth, para peneliti memeriksa catatan 9.228 spesies. Mereka berasal dari pasar lokal hingga internasional. Fakta yang ditemukan adalah dalam perdagangan hewan peliharaan hidup, warna cerah dan bulu yang mencolok tingkat permintaannya lebih tinggi.
Dalam analisis global baru yang diterbitkan dalam jurnal Biological Conservation itu, para peneliti menggabungkan lima sumber data utama yang melacak perdagangan legal dan ilegal, lalu memodelkan bagaimana penampilan, ukuran tubuh, dan jangkauan terkait dengan risiko perdagangan.
Tim memisahkan pasar internasional dari pasar domestik dan membandingkan burung hidup dengan produk yang terbuat dari burung.
“Hasilnya menunjukkan adanya korelasi antara nilai estetika suatu spesies dan kemungkinan diperdagangkan, terutama di pasar burung hidup, tempat burung umumnya dijual sebagai hewan peliharaan atau untuk dipajang,” ujar Haukka.
Ukuran tubuh juga berpengaruh
Selain itu, ukuran tubuh dan penyebaran geografis juga masuk dalam radar pertimbangan. Spesies yang lebih besar dan memiliki jangkauan yang luas lebih dominan dalam perdagangan lintas batas, sementara spesies yang lebih kecil mungkin muncul di pasar lokal dan penanganannya lebih mudah.
Namun, nasib paling sial dialami burung penyanyi dengan bulu yang langka dan mencolok. Tingkat perdagangannya jauh lebih tinggi. Hal ini menempatkan seluruh kelompok spesies ini, khusus yang berwarna cerah dalam bahaya.
Tidak hanya satwanya, para peneliti juga melacak perdagangan produk turunan, yakni produk yang terbuat dari burung seperti bulu, pakaian, atau ornamen. Daya tarik visual juga penting di beberapa wilayah, meskipun kurang penting dibandingkan burung hidup.
“Temuan kami menyoroti pola yang meresahkan, bahwa preferensi orang terhadap keindahan visual mungkin secara tidak sengaja meningkatkan risiko konservasi bagi spesies tertentu,” kata Haukka.
Tidak hanya visual
Meski begitu, perdagangan burung tidak melulu soal visual. Banyak pembeli di berbagai belahan dunia tidak berfokus pada warna yang indah. Namun, banyak pula yang berfokus pada kelangkaan atau ciri fisik tertentu. Hal ini biasanya terkait dengan penggunaan budaya yang telah lama ada.
Akibatnya, karena preferensi berubah-ubah, maka sulit diprediksi spesies mana yang menjadi rentan seiring dengan perubahan tren antarnegara. Perilaku pasar juga berubah ketika kondisi ekonomi atau aturan lokal berubah.
Ketika spesies tertentu menjadi semakin sulit didapatkan di suatu wilayah, para pedagang mungkin mengalihkan permintaan ke burung serupa yang belum pernah diincar sebelumnya.
Efek berantai ini berarti risiko dapat menyebar dengan cepat ketika perhatian beralih dari satu spesies menarik ke spesies lain.
Sebuah laporan global memperingatkan bahwa eksploitasi berlebihan, termasuk perdagangan satwa liar, merupakan pendorong utama hilangnya keanekaragaman hayati. Ketika permintaan mengikuti penampilan, pendorong tersebut dapat mempercepat hilangnya spesies yang paling dikagumi.
“Mungkin tidak mengherankan bahwa spesies yang lebih menarik lebih banyak diperdagangkan, tetapi perdagangan burung bersifat dinamis dalam hal geografi dan mode,” kata rekan penulis studi Simon Bruslund dari Kebun Binatang Kopenhagen.
Bruslund menekankan bahwa dengan memahami hal-hal yang menarik bagi masyarakat dalam perdagangan burung akan memungkinkan kita memprediksi spesies mana yang mungkin menjadi target di masa mendatang.








