Nasib Burung dengan Warna Mencolok Lebih Mengkhawatirkan

oleh -12 kali dilihat
Negeri Kaya, Begini Persebaran Flora dan Fauna di Indonesia!
Burung nuri saya hitam/foto-hobinatang

Klikhijau.com – Semakin menarik seekor burung secara visual. Kemerdekaannya akan semakin “suram”, sebab semakin besar pula kemungkinan ia berakhir dalam perdagangan satwa liar.

Opini tersebut diungkapkan oleh sebuah analisis global baru yang menyeluruh menemukan pola yang mencolok tersebut.

Pola tersebut muncul di berbagai benua dan jenis pasar, di mana estetika memengaruhi jaringan perdagangan legal dan ilegal.

Penelitian yang dipimpin oleh Anna Haukka, seorang peneliti doktoral di Universitas Helsinki (UH) tersebut.  Berfokus pada bagaimana preferensi manusia membentuk perdagangan dan konservasi satwa liar.

KLIK INI:  FOLU Net Sink 2030, Komitmen Indonesia Turunkan GRK

Dilansir dari Earth, para peneliti  memeriksa catatan 9.228 spesies. Mereka berasal dari pasar lokal hingga internasional. Fakta yang ditemukan adalah dalam perdagangan hewan peliharaan hidup, warna cerah dan bulu yang mencolok tingkat permintaannya lebih tinggi.

Dalam analisis global baru yang diterbitkan dalam jurnal Biological Conservation itu, para peneliti menggabungkan lima sumber data utama yang melacak perdagangan legal dan ilegal, lalu memodelkan bagaimana penampilan, ukuran tubuh, dan jangkauan terkait dengan risiko perdagangan.

Tim memisahkan pasar internasional dari pasar domestik dan membandingkan burung hidup dengan produk yang terbuat dari burung.

KLIK INI:  Permasalahan Konservasi Berada di Moral, Bukan pada Masalah Teknis?

“Hasilnya menunjukkan adanya korelasi antara nilai estetika suatu spesies dan kemungkinan diperdagangkan, terutama di pasar burung hidup, tempat burung umumnya dijual sebagai hewan peliharaan atau untuk dipajang,” ujar Haukka.

Ukuran tubuh juga berpengaruh

Selain itu, ukuran tubuh dan penyebaran geografis juga masuk dalam radar  pertimbangan. Spesies yang lebih besar dan memiliki jangkauan yang luas lebih dominan dalam perdagangan lintas batas, sementara spesies yang lebih kecil mungkin muncul di pasar lokal dan penanganannya lebih mudah.

Namun, nasib paling sial dialami burung penyanyi dengan bulu yang langka dan mencolok. Tingkat perdagangannya jauh lebih tinggi. Hal ini menempatkan seluruh kelompok spesies ini, khusus yang berwarna cerah dalam bahaya.

KLIK INI:  Jaga Burung, Ini Alasan Romantisnya!

Tidak hanya satwanya, para peneliti juga melacak perdagangan produk turunan, yakni produk yang terbuat dari burung seperti bulu, pakaian, atau ornamen. Daya tarik visual juga penting di beberapa wilayah, meskipun kurang penting dibandingkan burung hidup.

“Temuan kami menyoroti pola yang meresahkan, bahwa preferensi orang terhadap keindahan visual mungkin secara tidak sengaja meningkatkan risiko konservasi bagi spesies tertentu,” kata Haukka.

Tidak hanya visual

Meski begitu, perdagangan burung tidak melulu soal visual. Banyak  pembeli di berbagai belahan dunia tidak berfokus pada warna yang indah. Namun, banyak pula yang berfokus pada kelangkaan atau ciri fisik tertentu. Hal ini biasanya terkait dengan penggunaan budaya yang telah lama ada.

KLIK INI:  Menangkal Polusi Udara dengan Makan Sayuran

Akibatnya, karena preferensi berubah-ubah, maka sulit diprediksi spesies mana yang menjadi rentan seiring dengan perubahan tren antarnegara. Perilaku pasar juga berubah ketika kondisi ekonomi atau aturan lokal berubah.

Ketika spesies tertentu menjadi semakin sulit didapatkan di suatu wilayah, para pedagang mungkin mengalihkan permintaan ke burung serupa yang belum pernah diincar sebelumnya.

Efek berantai ini berarti risiko dapat menyebar dengan cepat ketika perhatian beralih dari satu spesies menarik ke spesies lain.

KLIK INI:  Hari Konservasi Alam Nasional 2022, Sejarah dan Link Twibbon Keren untuk Sosmed

Sebuah laporan global memperingatkan bahwa eksploitasi berlebihan, termasuk perdagangan satwa liar, merupakan pendorong utama hilangnya keanekaragaman hayati. Ketika permintaan mengikuti penampilan, pendorong tersebut dapat mempercepat hilangnya spesies yang paling dikagumi.

“Mungkin tidak mengherankan bahwa spesies yang lebih menarik lebih banyak diperdagangkan, tetapi perdagangan burung bersifat dinamis dalam hal geografi dan mode,” kata rekan penulis studi Simon Bruslund dari Kebun Binatang Kopenhagen.

Bruslund menekankan bahwa dengan memahami hal-hal yang menarik bagi masyarakat dalam perdagangan burung akan memungkinkan kita memprediksi spesies mana yang mungkin menjadi target di masa mendatang.

KLIK INI:  Inilah Fakta Baru yang Perlu Dipikirkan tentang Merokok bagi Kesehatan